
Siangnya usai waktu Zuhur, ada seseorang yang tak terduga lagi datang membesukku. Uni yang menemaniku langsung beranjak dan membiarkanku mengobrol berdua.
“Kok nggak pulang?”
“Besok siang."
“Kok baru dateng? Aku kira kamu udah sampai di kampungnya..."
Dia menatapku dan tersenyum tak ku mengerti “baru sempat”
“Emang di kampus kamu ngapain?”
“semester pendek”
“Masa sih? Please deh!!! Masa udah segede ini kamu masih ngibulin aku?”
“Emang kenapa?”
“Ya nggak mungkin kamu ngulang? Terus kalau ngambil kuliah baru, nggak mungkin selesai sekarang, kelarnya sebelum mulai kuliah baru donk?”
“Iya… aku bohong. Kamu beneran udah sehat ya? udah kembali Bawel aja?”
“Enak aja… kamu sendiri lihat aku sehat kan?” emang dasar ni anak? Dari tadi berada di sini, wajah dinginnya itu belum mencair juga.
“Besok kamu pulang, jadi nggak ketemu dua bulan lagi ya?”
“Emang kenapa?”
“Enggak…” dan aku sejenak terdiam “Kel…”
“Ya?”
“Sebelum berangkat nanti, ke sini dulu ya?”
__ADS_1
“Emangnya kenapa?”
“Emangnya nggak mau pamitan dengan ku ya?”
“Emangnya kamu siapa?”
Bener juga? Emangnya aku siapa dia? Waduh… malu…
“Lihat aja nanti… kalau sempat."
Akel… selalu saja begitu. Ku perhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan teringat lagi waktu memintanya tetap seperti itu, dan hingga sekarang tak ada yang berubah darinya, dengan kacamata minus nya itu, membuat dia tampak manis walau wajah dingin tak berubah. Tak sadar aku tersenyum padanya.
“Kenapa? Ada yang aneh?”
“Enggak…” hanya saja kamu seperti ekspektasi orang yang aku bayangi selama ini. Seandainya saja dia memang kamu.. aih...pasti aku senang sekali.
💖💖💖
Karena Aldi tahu, pagi hari tak ada yang menemaniku sedangkan dia dalam masa minggu tenang untuk menghadapi ujian semester genap sehingga pagi-pagi dia sudah ada di sisi ku.
“Eh yang… aku keluar dulu ya? Tadi belum sempat sarapan.
“Kenapa tadi nggak sarapan dulu?”
“Yah… aku kasihan jika kamu sendirian tak ada yang menemani."
“Tapi tuh… kamu pergi juga?”
“Iya… maaf… Cuma bentar kok”
“Yaudah… makan dulu sanah… nanti sakit perut. Yang lama yaa.." 😛
Ternyata dia beneran lama… membuatku merasa lebih santai… lalu ada sosok bayangan yang awalnya ku kira Aldi, ternyata bukan…
__ADS_1
“Aku berangkat dulu ya? Tapi sebelumnya aku ingin bicara” dia datang dengan wajah yang sangat serius.
“Oh… udah mau berangkat ya? Emangnya mau bicara apa? Serius banget?”
“Ini untukmu” Akel menyerahkan setangkai mawar Putih yang sangat cantik bin indah, kok dia tahu aku menyukai mawar putih? Padahal aku tak pernah cerita pada siap-siapa, termasuk padanya.
"Makasi ya? Dicuri di mana nih?” kelakarku.
“Enak aja…”
Aku hanya tertawa, di pintu tampak Aldi berdiri cemburu dan Akel melihatnya.
“Kok dia ada di sini?” tanya Akel mendelik.
Apa yang harus ku jawab…
“Lu belum tahu ya?” serang Aldi.
“Masksud lu?”
“Gue dan Yukita udah balik lagi”
“Kok kamu mau balik lagi dengan dia? Apa kamu tidak takut dengan kejadian dulu? Dan mungkin akan terjadi lagi”
“Eh… apa maksud lu? Lu jangan ikut campur urusan gue dan Yukita!”
Akel menatapku dan terdiam seribu bahasa.
“Kel… kamu mau bicara apa?”
“Nggak jadi… yaudah lah… aku pergi dulu” lalu bediri di depan Aldi “ awas lu apa-apain Yukita!”
“Emangnya kenapa?”
__ADS_1
“Udah… udah… hati-hati di jalan ya!” emang Akel mau bicara apa?
“Ya” jawabnya semakin dingin tak memandangku. Entah kenapa ada perasaan bersalah kepadanya. Tapi kami tak punya kisah apa-apa, kenapa harus merasa bersalah?