
Liburan lebaran, beberapa hari pulang ke Bandung. Tiketnya luar biasa mahal. Tapi kalau tidak pulang, rasanya sangat menyedihkan berada di sana, sedangkan aku tak punya sanak saudara yang bisa kutuju di sana, bahkan gadis itu. Mending pulang bertemu keluarga, uang masih bisa dicari. Kebersamaan keluarga dalam moment lebaran itu tak ada gantinya. Ku hampiri Dirga ke rumahnya.
“Hey Bro! Beberapa bulan lu ilang gue kangen beneran sama lu,” katanya sumringah kami bersalaman. Lalu menyalami seluruh anggota keluarganya.
“Gimana Ry? Udah ketemu denga Yukita itu? Terus gimana jadinya?”
“Gue nggak sangka Ga, kami malah jadi teman sekelas sekarang ini.”
“Apa? Sekelas?”
“Iya, sekelas. Dia kayaknya ikut tes masuk lagi, ternyata ketemunya di jurusan yang sama.”
“Seneng doong?” godanya.
“Campur aduk Ga, gue pikir bisa dengan mudah mengatakan bahwa gue ini Harry. Ternyata sampai saat ini masih tidak bisa mengatakannya.”
“Rambut lu kemana? Hahahha..”
“Ini gara-gara ospek. Dipaksa kepala plontos. Sebel sebenarnya!”
“Cakep kog Bro, jadi pengen gundulin juga. Hahaha.. terus gimana lu dengan Yukita itu?”
“Seperti orang asing. Gue merasa tidak terima dia sudah bohongin gue.”
"Bohong? Bohong gimana?"
"Nyatanya dia nggak sesuai dengan yang dikatakannya..."
"Maksudnya yang di foto kita lihat itu bukan dia?"
"Bukan..bukan itu. Foto itu memang dia kok.."
"Jadi beneran cantik orangnya?" Aku mengangguk, "Terus dia gimana? Ada pacar?"
"Gak tau juga siih.. gue malah susah deketin dia. Udah terlanjur benci sama dia..."
"Kenapa sampai segitu bencinya? Dia bohong apa sih?"
"Katanya kemarin dia kuliah di politeknik. melaporkan kegiatan kuliahnya, eeehh.. pas dicari ke politeknik, dia nya nggak kuliah di sana."
"Terus.. beneran udah cek dia nggak kuliah di sana?"
"Iya, bener. Soalnya gue ketemu teman SMA nya dia, katanya dia nggak jadi ambil... Gue tanya kegiatan Yukita itu apa, malah kawannya itu juga kurang tahu.. Kesel nggak tu? Jauh-jauh ngejar dia, ternyata gue ketipu mentah-mentah..."
“Sudahlah Bro! Coba berpikir positif deeh.. Mungkin dia punya alasan kan? Mungkin aja alasan dia nggak punya biaya, jadi nggak ambil gara-gara itu, atau alasan lain.."
__ADS_1
"Kalau dia jujur, gue nggak akan masalah Ga. Nganggur pun dia, gue akan tetap cinta sama dia. Siapa tau gue ajak nikah aja kan?"
"Nikah? Mudah sekali lambe lu ngemeng? Udah siap sama biayanya? Mau ngajak anak orang hidup sengsara?"
"Yaaa enggak siih.. Tapi kalau dia bohong sampai begitu, lu tau kan gue sampai pontang panting kuliah lagi di sana gara-gara dia. Saat mengetahui kenyataan itu, sungguh hancur rasanya Bro... Jadi ya karena itu, sampai saat ini gue masih susah berkomunikasi dengan dia. Udah benci duluan.."
"Kalau lu masih egois begitu, selamanya dia tidak akan tahu dan tak akan mengerti upaya lu sampai bisa duduk di kelas yang sama seperti sekarang dengan dia.”
“Jadi?”
“Ya, lu harus maafin dia. Karena dia memiliki alasan sendiri yang tidak lu ketahui. Terus sekarang, apa dia punya pacar?”
“Nggak tahu sih? Sepertinya dia Cuma sibuk dengan temannya. Mungkin ada, mungkin tidak.”
“Kalo hati lu gimana?”
“Jujur, yang selalu gue perhatiin itu tingkahnya meski hati ini sakit. Gue sayang padanya, cinta malah, tapi dia sama sekali tidak menyadarinya.”
“Gue merasa kisah cinta ini kayak di film-film itu!” lalu dia tertawa ngakak dan sangat keras. Ku lempar bantal kursi ke wajahnya sekerasnya gara-gara gemas.
“Udah, lu ikhlasin aja masa lalu itu. Gue yakin lu akan berhasil membuatnya menyadari perasaan lu!”
Benar juga ucapan Dirga. Seandainya bila kami masih kontakan tak jelas kayak dulu, mungkin belum tahu kapan kesempatan bisa menemuinya. Tidak tahu akhirnya kapan, atau mungkin tetap putus tak pernah bersatu karena buntu terbentur jarak. Mungkin ini memang takdir yang diberi-Nya. Bertemu dengan sahabatku seperti Dirga yang kadang banyolannya menyebalkan, dan nasihatnya yang selalu dewasa, sukses membuatku lebih tenang.
“Assalamualaikum...” suara yang sangat ku kenal tepat berada di pintu rumah Dirga.
“Sebenarnya aku udah ke rumahmu tadi Ry, kata mamahmu kamu ke sini. Makanya langsung aku samperin ke sini.” Tampak mulut Dirga bulet manggut-manggut.
“Lu terlihat lebih cantik dengan pakaian seperti ini Pon,” kataku. Wajahnya terlihat menjadi sumringah.
“Beneran? Kamu suka aku makai abaya ini?”
“Bukan abayanya. Pakaian longgar!”
“Oh, jadi kamu suka perempuan berpakaian longgar? Jadi kalau aku pakai baju longgar kamu bisa jadi suka padaku?” waduh, salah ngomong, no comment lah.
***
Rasanya sudah tak sabar menuju kampus, bicara empat mata dengannya. Gerakan bis ini terasa lambat, berpindah dari fakultas satu ke yang lain. Aku sudah tidak sabar, karena hari ini aku masuk setelah lebaran, kemarin baru mendarat sore terpaksa bolos beberapa hari demi mendapat ongkos yang agak murah.
Di ruang perkuliahan kuperhatikan dia sibuk dengan hapenya. Dosen menjelaskan bahwa akan ada study banding ke Unpad. Waah, lumayan tuh.. bisa pulang ke rumah.. tapi ternyata masih lama, liburan semester tiga. Boleh ikut bagi yang berminat. Kembali kuperhatikan Yukita masih sibuk dengan hapenya. Ni anak, bagaimana cara menyadarkan tujuan kuliah kepadanya?
Aduh, kuliah pindah gedung. Malas sebenarnya harus ke gedung D jalan sendirian. Tapi bukannya Yukita juga mengambil mata kuliah yang sama denganku? Untuk ukurannya berani juga dia mengambil matkul senior. Oh, itu dia.. baru aja dipikirkan?
“Kel… mau ke gedung D ya? Kita barengan ke atas ya?”
__ADS_1
Waaahh, tentu.. dengan senang hati “hmmmm...” Kenapa dia diam saja? Bukankah biasanya dia banyak omong? Oh iya “Eh… tadi kamu denger Bu Danti ngomong apa nggak?”
“Eh iya… tapi apa ya?” aduh, tuh kan dia sama sekali tidak menyimak?
“Eh… kamu itu ada di sini karena orangtuamu mengharapkan kamu bisa kuliah de-ngan benar. Tapi… sejak tadi aku lihat kamu pesanan terus sambil senyum-senyum kayak orang gila?” tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah kaget dan sedih
“Eh maaf… bukannya aku bermaksud jahat”
“Iya… aku tahu…” jawabnya memelas.
“Kamu udah tahu belom? Yang disampaikan ibu Danti tadi?”
“Ya… aku nggak tahu. Emangnya apa?”
“Nanti… semester tiga, anak-anak Hukum angkatan kita akan Studi Banding ke Unpad dan Undip” jelasku.
“Benarkah?” seketika berubah kembali suasana hatinya “ke Bandung?”
“Bukan hanya ke Bandung saja, juga ke Semarang. Kalau mau ikutan, sediakan biayanya dulu, lumayan banyak!”
“Pakai biaya? berapa kira-kira ya?”
“Iya… itu untuk biaya penginapan dan makan selama di sana” tampak perubahan lagi ekspresi wajahnya jadi sedih “eh, kamu kenapa?”
“Uangnya pasti banyak sekali Kel? Pasti Ibu tak akan izinkan aku ikut. Tapi… aku ingin sekali ikut ke Bandung. Tapi…”
Dia ingin ke Bandung? Apa untuk bertemu denganku? Rasanya kog jadi seneng ya? Tapi aku tak tahu apa yang dipikirkannya “Ya belajar donk?”
“Belajar? Aku kan belajar tiap hari? Lagian apa hubungannya dengan biayanya?”
“Aku lihat hingga saat ini kamu masih main-main, kamu belajar tidak maksimal. Aku sering lihat kamu seneng keluyuran dengan Anggi”
“Bukannya sering, tapi sesekali kalau pulang kuliah, Mili juga ikutan”pembelaan diri darinya.
“Sama saja… kamu sering keluyuran dan belajar tidak maksimal”
“Terus kalau seandainya maksimal, apa hubungannya dengan biayanya?”
“Ya elah… kamu mahasiswa apa bukan sih? Cari beasiswa donk! Apalagi PPA, Supersemar, Djarum, aku denger beasiswa BBM juga naik. Kamu bisa ikutan dengan beasiswa itu!”
“Bener juga? Tapi… aku nggak yakin bisa mencukupi?”
“Ya udah… jangan pikirkan dulu! Mending kamu konsentrasi dengan kuliah semester ini! Jika nilai semester pertama bagus, kamu bisa mengurusnya semester dua nanti!”
Tak terasa kami sampai di gedung D, masuk dan duduk di samping Yukita. Sudah lama aku ingin duduk di sampingnya. Memperhatikannya dengan jelas. Polahnya juga lebih jelas, benar seperti anak-anak yang polos. Benar kata Dirga, harus kuikhlaskan semua kejadian masa lalu. Karena gadis polos di sebelahku ini tak mungkin melakukan hal luar biasa besar bagiku itu tanpa alasan.
__ADS_1
Tiba-tiba ada yang duduk lagi di sebelahnya. Ah, mengganggu aja dia. Yukita terpana melihat catatanku. Emang kenapa gitu? Emangnya catatan lelaki tidak boleh rapi? Kulihat catatannya yang banyak gambar. Mungkin itu dibuat saat dia merasa bosan. Memikirkan membuatku geli sendiri, menyadari dia benar anak kecil. Anak kecil yang harus aku lindungi. Jadi merasa bersalah sudah berprasangka padanya selama ini.