
"Mandiii ... Aa bau keringaaat!!!" Yukita mendorongku turun ke lantai bawah. Aku mengendus pakaian yang aku rasa sama sekali tidak bau. Malah masih wangi bau parfum yang aku semprot tadi pagi. Bukan kah biasanya dia sangat menyukai bauku yang wangi ini?
"Kamu kenapa sih? Wangi gini masa aku dibilang bau?"
"Maaandiiii!"
Kembali aku endus pakaianku. Kayaknya sepanjang interview kami berada di ruang full AC. Masa iya bisa bau keringat?
Ya udah lah ... Mandi lagi juga nggak masalah. Aku kembali membersihkan diri. Setelah itu kembali mencari Yukita. Kulihat dia masih asik bersih-bersih. Kuperhatikan tingkahnya dari jarak jauh. Kali ini dia sedang membersihkan debu.
Sejak kapan dia hobi bersih-bersih gini ya? Apa sekarang dia benar-benar sudah menjiwai menjadi seorang istri?
"Sayang?"
Dia menoleh padaku, melirikku lalu tersenyum. Berjalan ke arahku, menatap lekat-lekat. Dia tampak tengah berpikir. Tanpa babibu, dia masuk kamar dan kembali membawa sebuah sisir. Tanpa permisi dia menyisir rambut yang masih basah usai mandi. Setelah itu, dia memperhatikanku kembali. Dia mengangguk, dan meletakan kembali sisir ke dalam kamar.
Dia kembali bergerak. Kali ini ke arah dapur. Mencuci sisa piring yang masih kotor. Kenapa dengan istriku? Aku peluk dari belakang, mencium rambutnya.
"Diiih, orang yang menyuruhku mandi ternyata belum mandi?"
"Yuki masih banyak pekerjaan. Nanti kalau udah beres semua baru laaah, Yuki mandi."
Aku tarik piring yang tengah dicucinya. "Sekarang kamu mandi gih. Dandan yang cantik. Setelah itu kita refreshing sejenak!"
"Tapi kerjaan Yuki belum berea Aa?" sungutnya.
"Biar Aa yang beresin. Sekarang kamu mandi dulu yaaa. Jangan lupa dandan yang cantik!"
"Yuki males mandi Aa." desisnya.
"Yeeei, kalau ada suami itu, istrinya harus wangiii doong. Masa suami wangi, istrinya bauk?"
"Ooh, gitu ya?" Dia bergerak ke kamar dan segera membersihkan diri. Setelah itu kulanjutkan pekerjaan mencuci piringnya.
Setelah selesai, aku dengar istriku tengah mual. Aku mendekat ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
huuweek
huuweek
__ADS_1
huuweek
"Sayang ... Kamu kenapa?" aku buka pintu kamar mandi tanpa mengetoknya terlebih dahulu. Dia tampak nelangsa setelah memuntahkan semua isi perutnya.
"Kamu kenapa?"
"Tadi Yuki gosok gigi. Entah kenapa rasa odol ini bikin Yuki mual." ucapnya membersihkan mukanya.
"Kamu udah selesai mandi?" Dia mengangguk. "Apa asam lambungnya kumat lagi?"
Dia menggeleng dan keluar dari kamar mandi dan segera menggunakan pakaiannya. Dia mengenakan pakaian yang menurutnya nyaman. Sedikit menyisir rambut, lalu dia mengajakku keluar.
"Gitu aja?"
"Iya, ayo kita cusss!" katanya tanpa memoles wajah sedikit pun.
"Tumben kamu nggak mau make up-an dulu? Biasanya hobi banget buat dandan?"
"Benar kah? Mungkin Yuki lagi males aja ni buat dandan. Ayok Aa ... kita ngemoll dulu. Yuki suntuk!" Tampak dia berpikir sejenak.
"Aa ada duit nggak ya?"
Lalu dia bergerak ke cermin rias. Melihat pantulan bayangannya di dalam cermin. "Emang pucat itu kayak gini ya?"
"Yakin kuat jalan-jalannya?"
Dia mengangguk cepat, "Yuki bosan Aa ... Maunya ganti suasana. Kalau Aa ngga ada, mungkin Yuki kesepian sendirian nggak ada orang di sini."
"Aduuuh, kasian ... kan udah ada Aa di sini." Kugandeng tangannya, mengajaknya untuk naik kendaraan kesayanganku. Skuter antik tahun tujuh puluhan.
Ternyata kali ini dia menggeleng. Dia menunjuk motor sportku yang biasa dipakai oleh Hady bila pergi main.
"Yakin mau naik itu?" Dia mengangguk cepat. "Bukan kah biasanya kamu gak mau naik itu? Katanya takut?"
"Yuki nggak tau. Kenapa ingin sekali naik itu. Kayak pengen melawan angin."
Mendengar penjelasannya yang aneh itu, hanya membuatku tergelak. Kuserahkan helm, memastikan terpasang dengan baik.
"Kamu pegangan dengan baik ya?" Dia mengangguk. Lalu memelukku dengan erat, menyandarkan dirinya di punggungku. Entah kenapa dia semakih aneh saja?
__ADS_1
Aku lajukan kendaraan, dengan kecepatan standar. "A ... ayooo ... ngebuuut!" ucapnya.
"Kamu jangan aneh-aneh!"
"Ngebut ... ngebuuut!" rengeknya.
"Kamu itu kenapa? Semakin aneh saja?"
Dia menggeser tubuhnya ke belakang. Melepaskan pelukan dan berpegangan ke belakang. Dia ngambek. Aku segera menepi dan menghentikan laju motor ini.
"Ada apa?"
"Kenapa Aa nggak mau bawa motornya ngebut?"
"Dulu katanya takut naik motor ini. Kenapa sekarang malah minta ngebut?"
"Yuki pengen tahu rasanya gimana naik motor kayak gini kalau ngebut. Sekarang pengeeeeen banget Aa ... ayolaaah?" rajuknya.
"Kamu ini ya?" Aku tarik hidungnya yang tampak menggemaskan itu. Permintaannya bener-bener nggak bisa ditolak.
"Peluk Aa dengan erat yah?" Dia mengangguk bersemangat kembali.
Dengan segera aku kembali menaiki motor itu. Yukita langsung memelukku dengan erat sampai napasku terasa sesak. Kunyalakan dan perlahan-lahan kecepatannya aku tingkatkan. Dia seperti tertawa kegirangan. Semakin cepat aku lajukan, dia semakin tertawa dengan lebar. Ada apa dengan istriku?
Kami berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Dia bergelayut manja di lenganku. Orang-orang melihat kami dengan tatapan aneh. Masa bodo ah, ini suami istri sendiri kok?
Aku rangkul dia dan dia ikut merangkul pinggangku dengan manja. "Mau kemana nih?"
"Nonton Doctor Strange yang terbaru yuk Aa?"
"Udah keluar gitu filmnya?" Setahuku belum rilis. Tapi entah sekarang bagaimana. "Ayo kita tengok dulu!"
"Harry?" Di hadapan kami tengah berdiri seorang wanita yang tinggi dan cantik. Dia yang sejak dahulu terus memaksaku untuk menerima cintanya.
"Siapa dia Aa?" tanya Yukita, istriku.
"Mesra sekali kalian?" sindirnya dengan nada yang tajam.
...*bersambung*...
__ADS_1