
Sambungan telpon telah diputuskan, lalu ku keluar mencari kios pulsa. Aku baru tahu, ternyata Akel itu asli Bandung? kenapa dia nggak pernah cerita padaku bahwa dia berasal dari Bandung? atau mungkin dia takut aku minta ini-itu? Hehe.. meneketehe?
Lalu aku cari tempat jualan pulsa. Mungkin karena terlalu pagi, jadi masih belum buka..
Jadi aku hanya bisa menunggu Akel sampai dia datang. Tak lama dia datang, kami pun mencari sarapan.
Kali ini dia mengajakku makan di warung nasi uduk. Kami pergi menggunakan skuter antik vespa berwarna hitam.
“Kel...”
“Hmmm..??”
“Nanti sebelum balik kita mencari tempat jual isi ulang pulsa yuk?”
“Kenapa?”
“Pulsaku habis.” Dia hanya mengeluarkan hape, lalu sibuk sendiri.
“Mantan penjual pulsa kehabisan pulsa nih?”
Tiba-tiba masuk SMS operator, mengatakan pulsaku ditambah lewat transfer oleh nomor..ini nomor Akel.
“Lho? Kenapa kamu isikan? Aku kan nggak minta kamu ngisiin? Ini malah banyak lagi?”
“Udah! Makan aja sanah! Cerewet banget! bukannya seneng?”
“Tapi...” dia hanya menaruh telunjuknya ke bibirku, sontak membuatku kaget, deg...!!
__ADS_1
“Selesain cepat! Bentar lagi kita ada acara!”
Usai makan, Akel mengantarkanku kembali ke penginapan. Segera mandi dan kembali mencari kontak rumahnya dan menelepon.
“Halo” terdengar suara Ibu-Ibu yang mengangkat teleponku.
“Assalamualaikum”
“Walaikumsalam. Ini dengan siapa?” terdengar suara lembut dialek Sunda, perasaanku tak karuan, nafas ku jadi sesak. Ini Ibunya Harry…
“Ini dengan Yuki tante. Apa Harry nya ada, tante?”
“Oh… Harry, dia lagi tidak di rumah Yuki”
“Jadi nggak ada ya tante? Maaf nih tante… kalau boleh tahu Harry pergi ke mana tante?”
“Ooh, dia barusan dai izin mau pergi ke sebuah kampus.”
“Apa ada pesan untuk Harry?”
“Nggak usah tante, nanti Yuki telepon lagi”
“Kenapa tidak langsung hubungi ke hapenya aja neng?”
“Yuki nggak tahu nomernya berapa tante”
“Oh… gitu…”
__ADS_1
“Makasi ya tante? Assalamualaikum”
“Walaikumsalam”
Telepon ku tutup, rasanya pengen nangis aja? Aku tak bisa ngomong dengan Hary untuk memberinya kabar bahwa aku berada di Kota Kembang, Bandung. ku duduk di sebuah bangku yang tersedia. Oh… ya udah… masih ada waktu, aku pasti akan menghubunginya lagi
...Rasaku sakit…pahit.......
...Sesak… meledak.....
...Karena rindu…...
...Namun ia pergi…tak tahu harus bagaimana...
“Yuki kenapa? Kok murung gitu?” Mili sudah siap hendak ke acara di kampus.
“Ooh, enggak. Aku hanya sedikit sedih.”
“Sedih kenapa? Tadi aku mendengar kamu menelepon orang yang bernama Harry. Lalu tiba-tiba kenapa sedih begitu?"
“Sudah, yuk kita bergegas ke acara. Kamu belum sarapan kan?”
“Yuki, cerita donk?”
“Iya, nanti sambil jalan aku cerita.”
Ternyata di aula diajak sarapan bersama lagi, karena sudah makan, aku hanya mengambil sedikit teh, lalu menemani Mili sarapan. .
__ADS_1
Dia terus saja meminta aku menceritakan siapa sih Harry, siapa sih Harry... aku hanya menyuruhnya untuk menyelesaikan makan. Dan dia semakin gregetan untuk menyelesaikan makan.
Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, tampak panitia pelaksana sudah sibuk mempersiapkan rangkaian acara yang akan dilaksanakan hari ini. Mili sibuk menyikutku, sedangkan aku masih ragu untuk menceritakannya apa tidak. Karena aku takut Mili menganggap ku aneh, jika akhirnya dia tahu kenapa aku seperti ngotot sekali untuk ikut study banding ke sini.