
Sungguh kebahagiaan yang luar biasa tak bisa diungkapkan dengan kata. Ketika kami kembali bersama dalam kisah nyata. Dalam kisah yang bukan sekedar angan. Bisa menggenggam tangannya dengan nyata. Kenyataan bahwa saat ini Yukita adalah makhluk cantik yang berharga, yang akan kujaga untuk selamanya.
Hanya saja, hatinya terlalu cantik untuk terus kudaki. Aku juga harus bisa memperbaiki diri agar tujuan kami bersama itu benar jadi kenyataan dalam ikatan yang suci nanti. Beberapa waktu lalu, hatiku masih terlalu kotor. Begitu banyak prasangka terhadap orang lain. Aku ingin seperti Remon yang selalu ber-positive vibes terhadap segala sesuatu. Aahh, indahnya bila aku juga bisa seperti itu.
Hari-hari yang dilewati begitu indah, terkadang dia memang tampak jenuh saat kutempeli terus. Makanya, selalu kucoba untuk memberi ruang ketika dalam jam kuliah. Namun, ketika jam kuliah habis, aku tak memiliki teman untuk kuajak bicara selain dia. Selama ini aku selalu kesepian. Apa ini adalah akibat aku yang terlalu sombong? Menganggap mereka lebih kecil, sehingga enggan untuk diajak ngobrol sejak dulu? Terkadang aku iri pada Anggi, dan kawan lain yang leluasa ngobrol dengan siapa saja. Aku sebenarnya juga ingin seperti mereka. Tapi... bagaimana caranya?
Biasanya dulu, kalau tidak ada kegiatan kerjaku membaca buku hukum yang bejibun sambil melirik-lirik apa yang dilakukan Yukita. Walau saat itu begitu sebal dengannya, tetap saja memerhatikan kegiatannya adalah suatu pekerjaan yang menenangkan otak. Sekarang, semua tentang dia sudah dalam genggamanku. Tapi aku tak ingin menggenggamnya terlalu erat, takut genggaman erat akan membuat dia sesak dan lari menjauh.
Aku tahu dia sangat mencintaiku, namun entah kenapa hati tetap menjadi panas saat dia terlalu dekat dengan pria lain. Ketika mengetahui, dia begitu dekat dengan Anggi, hatiku terasa sangat terbakar. Ditambah lagi saat dia pacaran dengan Aldi, rasanya ingin menyerah melambaikan tangan ke kamera.
Setelah mengetahui di hatinya hanya ada satu nama, yaitu aku, aku bagai melambung tinggi hingga langit ketujuh, meski langit ketujuh seperti apa, aku sendiri tidak tahu.
Aku heran, mengapa akhir-akhir ini dia seperti begitu mengejar Anggi. Dia pernah bercerita, ketika aku masih di Bandung, Anggi memintanya menjadi pacar, tetapi telah ditolaknya. Semenjak itu Anggi menjauh, dan dia sangat sedih karena hal itu. Katanya dia ingin Anggi seperti dahulu lagi padanya.
Sebenarnya aku malah bahagia, bila Anggi memang menjauhinya. Tapi dada ini terasa sakit setiap melihat dia terus mengejar dan mengejar Anggi. Lebih sakit lagi melihat dia sampai jatuh karena terus mengejar.
Apakah aku tidak cukup untuk dijadikannya sebagai kekasih sekaligus sahabatnya? Padahal aku bicara segala hal hanya padanya, tidak ada lagi tempat berbagi selain dia dan Dirga.
Oh iya, Dirga... apa pun itu selalu kubagi dengan Dirga. Begitu pun dia, apa pun yang dia suka hingga kisah cintanya dengan Putri hingga saat ini tetap dibaginya. Dia adalah orang yang pertama kuberi tahu, akhirnya aku dan Yukita bersatu, ya memang hanya pada dia saja aku cerita. Tentu dialah yang pertama dan satu-satunya mengucapkan selamat. Atas segala upaya yang kami lewati untuk bersama.
Oh, atau mungkin baginya Anggi itu seperti Dirga dalam kehidupanku? Tapi bukankah dia sudah memiliki Mili, Feli, atau pun Chesi sebagai penampung ceritanya? Ditambah aku yang siap menampung ceritanya hingga dua puluh empat jam. Apakah masih belum cukup jika masih belum ada Anggi? Aku benar-benar tidak tahu bagiamana jalan pikirannya. Hanya saja, aku selalu bersyukur memiliki hati gadis manis itu.
Hal baru yang ku ketahui tentang dia adalah selalu berusaha mengalah. Memilih diam sejenak, dibanding bertengkar. Memilih mengalihkan pembicaraan daripada bertengkar. Jika dia seorang perempuan saja bisa begitu, mengapa aku sebagai laki-laki tidak bisa begitu? Bahkan aku bisa berusaha lebih baik darinya. Namun, satu hal yang tidak kusuka, ketika ia memilih pergi daripada membicarakan masalah secara baik-baik. Jika begini terus, setiap masalah tidak akan pernah selesai. Hah, wanita... emang susah dimengerti maunya apa.
Bagaimana caranya aku mengatakan bahwa sebenarnya aku lah yang dikeroyok? Aduh, lakil-laki apaan ini? Tak bisa membalas orang yang sudah mengeroyokku seperti itu. Harga diriku berasa jatuh terpuruk jika mengatakan hal itu padanya.
Aku takut, jika semua tenaga kukerahkan, Anggi dan kawan-kawannya akan masuk rumah sakit. Dulu sempat belajar taekwondo, tetapi memang udah lama sekali tidak. Sudah sampai sabuk merah, sedikit lagi menuju sabuk hitam namun memilih berhenti karena sudah tidak penasaran lagi. Tapi menghadapi anak-anak itu, hanya masalah geleng bagiku. Namun, dia adalah orang yang dianggap Yukita berharga. Jika saja aku melukainya, Yukita pasti akan lebih terluka.
***
Apakah dia masih mengkhawatirkan temannya yang baik-baik saja? Mengacuhkan aku dengan nyeri di seluruh tubuh? Api cemburu terasa membakar seluruh tubuh, membuatku malas mengikuti dia, yang bertemu dengan Anggi.
__ADS_1
Entah apa yang akan diceritakan Anggi pada Yukita. Menceritakan setiap detil pukulannya mendarat di wajahku? Tendangannya yang mendarat di dadaku? Membayangkan itu semua membuat harga diriku tiba-tiba jatuh, masuk ke sumur.
“Kak, Kak Akel? Jangan keluyuran dulu! Jelas masih belum sembuh bener juga!” sambut Vina saat kembali ke kostan.
“Assalamualaikum,” Remon juga menyambutku dengan jabatan tangan setiap pertama jumpa setiap harinya. “Kawan, kenapa wajahnya?”
“Oh, ini... jatuh!”
“Kawan jangan bohong gitu! Aku juga laki-laki, luka jatuh tidak begini?”
“Hmmm, iya. Tapi aku lagi tidak mau membahasnya.”
“Oooh, gitu,” dia mengangguk. “Sudah dibawa berobat? Apa perlu kutemani ke dokter?”
“Aaah, tidak usah. Ini di bawa istirahat juga bisa sembuh.”
“Jangan disepelekan begitu. Jika ada luka dalam itu berbahaya lho?”
“Tidak usah Bro, dibawa istirahat ini juga akan sembuh kok. Saya masuk dulu ya. Makasi sudah khawatir.”
Oh iya, Vina masih ngekor di sampingku. “Vina, saya tidak apa kok. Kamu boleh belajar lagi sama Bang Remonnya!”
“Kakak yang kemarin mana Kak?”
“Oh tadi sudah ketemu di kampus. Belajar lagi gih!” aku masuk menuju kamar. Apa yang mereka bicarakan ya? Hapeku bergetar, di layar tampak Dirga meneleponku. “Iya, hallo...”
“Hary.....” terdengar suaranya berat tidak seperti biasa.
“Kenapa Bro?”
“Bokap gue baru saja meninggal dunia,” ternyata suaranya berat menahan tangis.
“Innalillahi wa innailahi rajiun. Kenapa Ga?”
__ADS_1
“Tiba-tiba tadi pagi bokap sesak nafas. Langsung dilarikan ke dokter, kata dokter serangan jantung. Dan, baru saja meninggal dunia,” dari belakang suara Dirga terdengar tangisan beberapa orang.
“Bro! Gue turut berduka cita. Lu sebagai laki-laki, saat ini menggantikan almarhum, lu harus kuat! Nanti gue usahakan mencari tiket ke sana.”
“Nggak usah Bro! Terlalu jauh kalau lu menyusul ke sini.”
“Sekarang lu dimana Ga?”
“Kami semua masih di rumah sakit. Kami sedang mengurus administrasi membawa almarhum pulang.”
“Lu harus kuat! Ingat! Saat ini lu lelaki satu-satunya di keluarga!”
“Iya gue mengerti.”
Telepon ditutup, langsung kucari tiket pesawat online menuju Bandung. Kalau bisa yang terbang hari ini juga. Setelah dapat, langsung ku kirim Yukita pesan.
[Aku ke Bandung dulu!
Kamu hati-hati di sini!]
Pesan belum dibaca, dan aku segera packing, tidak banyak yang dibawa. Mungkin hanya sebentar di sana. Lalu kutelepon Mama, memberitahukan bahwa aku pulang untuk ngelayat ke rumah Dirga, dan beliau mengizinkan.
tampang Akel rada preman 😂
pembaca singgah juga ya pada tulisanku yang satu lagi
__ADS_1
