
Keesokan nya, kupastikan keluarganya telah sampai di rumah sakit. Aku sudah alpha beberapa hari dari perkuliahan. Yukita tetap masih belum juga sadar. Namun, aku harus kuliah dulu. Agar nilai bagus, biar bisa cepat wisuda dan melamar gadis ini. Tidak apa lah menikahinya sebelum bekerja, nanti rezeki pasti pasti dilimpahkan bagi setiap umat-Nya bukan? Ya, aku harus segera menyelesaikan kuliah ini. Nanti setelah menikah, aku akan melamar pekerjaan. Sebenarnya Papaku bisa saja memberikan jabatan kepadaku, karena beliau seorang CEO di bidang properti yang lumayan besar. Tapi kenapa tidak mencoba semuanya sendiri memulai dari nol bukan? Namun jika berbagai usaha telah dilakukan, belum juga membuahkan hasil, terpaksa, ya terpaksa aku menggunakan status anak untuk bekerja di perusahaan milik Papa..
Lalu bagaimana dengan perkuliahan yang satu lagi? Hmmm.. sepertinya itu urusan nanti. Jika aku menikah, mungkin hal yang paling kubutuhkan ialah uang, untuk membahagiakan Yukita. Jika ada kesempatan lain, jika keuangan lebih dari cukup, barulah bisa kuliah lagi. Hmmm.. mungkin ke program profesi hukum, bukan elektro lagi.
Hari ini Yukita ditemani oleh tantenya, adik dari ibunya. Sang ibu yang bekerja sebagai guru, yang kebetulan sudah dapat kontrak dari pemerintah karena pengabdian menjadi honorer selama ini, membuat tidak bisa untuk hadir di setiap pagi hari, sehingga harus mengutus keluarga yang lain untuk bergantian menemani Yukita di rumah sakit ini. Aku pamit, dan berjanji sepulang kuliah nanti langsung ke sini.
Sampai di kampus, Anggi langsung menodong ku dengan beberapa pertanyaan. Aku hanya bisa menjawab seadanya dan begitulah keadaannya. Hari ini kuliah pagi, dan siang jadwal kosong lalu disambung lagi dengan jadwal sore. Saat tidak ada Yukita, entah kenapa waktu berjalan begitu lambat. Menunggu waktu kuliah selesai, terasa begitu lama. Aku berharap, keadaan Yukita berangsur membaik hari ini. Semoga saja dia sudah bangun, duduk dan semuanya baik-baik saja, meleset dari diagnosa yang diberikan dokter kemarin.
Waktu terasa merangkak dengan lambat menuju senja hari. Ya menjelang magrib kuliahan baru selesai. Mungkin orang tua Yukita sudah sampai di rumah sakit. Ku tuju kostan, membersihkan diri, lalu kulajukan lagi motor menuju rumah sakit. Tadi Stevan sempat mengatakan masih memproses data dari ponsel Yukita yang aku kirim kan tadi malam. Semoga ketemu titik terang, jika CCTV sudah tidak bisa diandalkan. Entah kenapa aku selalu menduga satu sosok penyebab ini adalah mantan nya dulu. Jika memang itu dia, bersiap lah, dia akan kujebloskan ke penjara atas perbuatan kejinya pada gadisku itu.
Sebelum sampai di rumah sakit, kusempatkan membeli beberapa makanan untuk orang tua Yukita dan untuk amunisi begadang menjaganya nanti malam. Ternyata beenar, orang tua Yukita sudah di rumah sakit tengah sibuk, apa yang membuat mereka sibuk? Lalu aku melihat di dalam, ternyata dia telah membuka matanya. Ya..dia telah bangun. Rasa syukur yang luar biasa tak berhenti bernyanyi di dalam kalbu. Namun, masih dalam penanganan dokter. Ibu Yukita menghampiriku dengan wajah yang lebih segar dan cerah, pasti tentunya karena si bungsu telah bangun dari tidur panjangnya.
"Nak Akel, Yukita baru saja sadar, jadi sekarang dokter tengah mengecek kondisinya. Semoga hal yang kita semua khawatir kan tidak terjadi."
"Aamiin.. semoga Yukita sehat seperti sedia kala ya Bu.." lalu aku serahkan kantong yang kubawa pada Ibu Yukita.
"Apa ini Nak?" seolah menolak ini, dan mengembalikan kembali ke tanganku.
"Ini untuk ibu dan ayah. Aku sudah punya sendiri. Apakah Ibu sudah makan?"
"Ibu sudah makan tadi sebelum ke sini Nak. Jadi masih belum lapar," lalu ibunya memegang kantong tersebut, mungkin bisa dimakan nanti.
Sembari menunggu hasil dari dokter, aku putuskan menelepon Stevan. Nada sambung menunggu panggilan diterima.
"Halo Ry…" Jawab sepupu buleku. Anak dari pamanku, yang menikah dengan wanita keturunan bule juga. Paman Rusdi kakak kandung dari Papaku.
"Gimana hasilnya Stev?"
"Iya, ini hampir beres. Nanti gue kirimkan hasil rekaman data blockbox ponsel dari pacar lu.. tenang saja.. Lu maunya rekaman mulai kapan?"
"Yang terakhir saja, satu hari terakhir sebelum kecelakaan.."
"Oke, baik.. nanti langsung gue kirimkan…"
"Terima kasih Steve.."
"Sama-sama.." dia benar-benar anak yang jenius. Aku selalu kalah olehnya. Usia kami sama, saat ini umur kami sama-sama menuju angka dua puluh tiga. Dia sudah selesai, dan aku masih harus menempuh beberapa semester lagi.
Tak lama menunggu, akhirnya dokter menyudahi pemeriksaan terhadap Yukita. Ayah Yukita tengah berbicara tentang kondisi gadis itu. Aku intip, dia sudah dalam kondisi tidur kembali. Mungkin karena pengaruh bius atau obat yang lain. Usai mendapat penjelasan dari dokter, wajah sang ayah tampak cukup sedih. Apa hasil pemeriksaan barusan tidak bagus? Lalu kuhampiri beliau, rasa ingin tahu ini sangat besar tentang kondisinya saat ini.
"Bagaimana hasilnya saat ini Pak?"
Beliau menggeleng pelan dengan raut yang sedih. "Kita lihat hasilnya besok saat dia sudah bangun. Tadi kata dokter, dia hanya menunjukkan respon lambat. Apakah karena pendengaran, atau terjadi masalah pada otak. Semoga semua baik-baik saja."
"Aaamin ya Allahuma Amin.."
Saat waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, aku minta kedua orangtuanya untuk pulang saja. Biar aku yang masih kuat dan sehat ini yang menjaganya, apalagi besok kuliah siang, jadi bisa menemani nya di pagi hari. Kembali kupesankan taksi online, dan setelah itu kutunggu waktu yang beringsut lama di tengah dinginnya malam di rumah sakit ini.
Pagi pun menjelang, tampak sosoknya yang telah dipindahkan ke ruang perawatan, mulai menggeliatkan badan. Kudekati dan kubisikkan ke telinganya, "Kamu sudah bangun sayang?"
Dia melihatku, netra-nya menatap lurus pada bola mataku yang tak putus menangkap tatapan itu. Dia mengernyitkan keningnya, mendorongku tanpa mengucapkan apa-apa. Seperti orang asing yang, ya mata itu menatap ku seperti orang asing yang tak dikenalnya, tapi dia masih diam dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Aku hanya bisa melihat sosok gadis itu dengan wajah yang sayu, tidak ada ekspresi di wajahnya, dia terlihat sepi. Setelah tiga puluh menit berada di sisinya, selama itu pula dia hanya diam. Tadi sempat mencoba meraih jemarinya, seperti orang asing menarik kembali dari genggamanku. Apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu begitu membenciku?
Satu jam waktu telah berlalu, waktu berjalan terasa lama. Dia masih sayu, merenung entah memikirkan apa. Kemarin dokter juga bingung dengan keadaannya pascasadar dari koma beberapa hari.
"Yukita,." Dia masih di posisi yang sama. "Kamu memikirkan apa?" Beberapa waktu dia masih diam, lalu menolehku..
"Hmmm.. apa?" Tanya nya ragu dan bingung.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Setelah beberapa waktu berlalu, kembali merespon dengan lambat.. "Aku? Apa?"
Apa yang terjadi dengannya? Kenapa responnya lambat begitu? Kucoba melambaikan tangan di depan matanya, tak ada respon, jangan-jangan. Pikiran buruk itu langsung buyar dengan respon akhirnya dia menangkap tanganku. Syukurlah dia masih bisa melihatku. Masih dengan respon yang lambat, dia melihatku dengan matanya yang sayu.
"Kakak siapa?"
"Aku Harry..."
Masih belum ada respon, beberapa waktu kemudian, "Harry?" Lalu dia seperti menerawang dalam beberapa waktu.
"Harry? Kok udah besar aja?" Nada bicaranya tidak biasa, seperti anak kecil.. "Kakak bohong aaah.." Lengusnya mengernyitkan dahi.. Apa yang terjadi dengannya?
"Harry kan rambutnya botak, item, jelek.." Tambahnya lagi.
"Harry botak, item, jelek itu siapa?" Masih dalam bingung ingin tau arah kemana yang dia maksud.
"Yang tinggal di belakang mushola, yang main kejar-kejaran dan petak umpet..Kawan main di sawah.."
Masih membutuhkan waktu baru mendapat respon, "Kakak itu Harry Potter ya?"
Aku masih berusaha mencerna apa yang dikatakan dan apa yang dipikirkannya tentangku. Ini sungguh sesuatu yang membingungkan.
"Yang bisa sihir kan? Pakai kacamata juga... Kadang ada di tivi.,."
Dia menjawab tak obahnya jawaban anak kecil yang biasa kuajak ngobrol.
"Sekarang umur kamu berapa?"
Sekian waktu dia diam dan merespon dengan lambat,.. lalu melepas tanganku yang sedari tadi masih dipegang dengan kedua tangannya. Mulai menghitung dari gerak bibirnya tampak dia mulai dari angka satu, berakhir di angka sepuluh.. "Sepuluh Kak.. Yuki sudah sepuluh tahun..." Lalu dia seperti sadar akan sesuatu melihat ke segala sisi, kemudian rautnya berubah menjadi sedih dan cemas, "Ibu...Ibu...Ibu.. Ibu Yuki mana...Ibuuuu.." Gadis ini menangis layaknya anak-anak.
Tubuhku jadi lemas seperti lepas dari persendian. Dia tidak mengingatku. . masih kuperhatikan dia yang menangis mencari ibunya. Aku beneran tidak tahu harus bersikap bagaiman menghadapinya. Dia bagai anak kecil di usianya yang telah dua puluh tahun.
Dia yang menangis mulai menggoncang bahuku, "Kakak... Ibu Yuki mana.. Ibu...?" Dari mulut yang memanggilku kakak, entah kenapa terasa begitu menyenangkan di telingaku? Seharusnya dia memang memanggilku kakak. Karena beda usiaku dengannya dua setengah tahun.
"Jangan panggil kakak! Coba panggil Aa..." Tergidik aku jadi ingin menjahilinya.
Lalu masih dalam respon yang lambat, "Aa..?? Aa itu apa?" Masih dalam sesegukan..
"Yaaa.. sama kayak panggilan Kakak, Abang, Uda... Itu panggilan untuk kakak laki-laki..."
Kembali respon dalam sekian waktu, "Kenapa harus Aa? Kenapa bukan Kakak?"
__ADS_1
Tak bisa ku sembunyikan rasa gemas ku, menarik kedua pipi gadis yang kekanakan ini. Rasa takut dan cemas yang tadi, entah kenapa berubah jadi gemas.. "Karena aku orang Sunda. Lebih suka dipanggil Aa.." Lalu mencubit hidungnya dengan gemas.
Dia masih melongo bagai anak kecil yang masih merespon, kembali menangis .. "Awas kakak yaaa.. aku kadukan pada ibu, kakak cubit pipi dan hidungku..." Kembali dia melanjutkan tangisnya dengan kencang.
Dari luar terdengar suara langkah kaki membuka pintu kamar ini, "Ada apa? Siapa yang menangis?" Seorang perawat muncul, "Kenapa?"
"Saya rasa ada masalah dengan memori Yukita ini Sus.. Seperti yang dikhawatirkan oleh dokter beberapa waktu lalu."
"Kalau begitu saya akan memanggil Dokter, dan kamu tolong tenangin dulu pasien ya? Kasihan pasien lain jadi terganggu mendengar tangisannya yang lumayan kencang ini.."
"Baik Sus..."
"Lalu kamu ini siapa? Kakaknya?"
"Saya calon suaminya...ehemm.."
"Apa? Calon suami? Adik ini? Kamu?" Kata sang perawat saking terkejutnya. Emang kenapa gitu? Meski sedikit bohong, tapi semoga memang dia yang jadi istriku nanti.
"Maaf... maaf...Saya hanya sedikit kaget saja, mungkin zaman lagi berbalik ke zaman dahulu, trend menikah muda mungkin terjadi kembali..." Perawat itu mundur sambil geleng-geleng kepala.
Kuambil piring berisi sarapan pagi untuk Yukita, dan duduk kembali di kursi di sampingnya. "Sekarang sarapan yuk sayang?"
Tangisnya sudah reda dengan sendirinya, kembali menatapku dengan tajam, "Kakak ini penculik anak ya?"
Kali ini tak bisa kutahan tawa yang dari tadi sudah menggelitik di perutku. Ternyata dia sudah ceriwis sejak masih kecil. Kali ini dagunya yang lancip menjadi sasaran cubitan, "Siapa yang mau nyulik anak sebesar kamu sih?" Ujarku gemas, dan jemari yang tadi di dagunya dengan cepat ditariknya dan digigitnya "Aaawwww... Sakit atuh sayang Jangan nakal aaaah.."
"Abis kakak nakal..."
"Coba panggil aku Aa?"
Masih menunggu responnya beberapa waktu, "Aa...."
"Iya, pinter anak cantik..." Ku elus pelan kepalanya yang masih diperban itu.
"Tadi Yuki dipanggil sayang ya Aa?"
"Iya .." kembali kuambil piring berisi sarapan tadi, sebuah bubur dengan sedikit kuah soup..
"Biasanya yang bilang sayang itu Ibu Yuki Aa, Kenapa Aa juga panggil Yuki sayang?"
"Karena Aa sayang sama kamu Yukita..."
"Tapi Yuki sayangnya sama Ibu Ayah...x
"Iya...Gak apa.. Biar aku saja yang sayang sama kamu, walau kamu melupakan Aa, Aku akan selalu mencintaimu..." namun matanya hanya mengerjap-ngerjap dan membulat..
"Aa berarti orang India ya?"
"Ya udah, makan dulu… Biar aku suapin!" Kok ujung-ujungnya kesel ya.. gadis ini belum bisa diajak ngomong serius...
Tapi entah kenapa aku lebih menyukai dia yang seperti ini...
__ADS_1