Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 7


__ADS_3

Beberapa hari lalu hasil pengumuman kelulusan perguruan tinggi negeri. Aku memilih kampus Andalas, karena berdasarkan informasi yang aku browsing katanya Andalas dan Politeknik di Padang itu masih satu area.


Awalnya ambil elektro lagi, tapi yang jebol Cuma di Hukum. Sengaja ambil campuran. Ya udah, dijalani aja pasti bisa, Insya Allah.


Besok aku harus terbang ke Padang, untuk mendaftar ulang. Dalam benak sekelumit pikiran usaha yang aku lakukan untuk mencari Yukita ke kampus politeknik. Malam ini aku akan menraktir Dirga dan Hendri makan. Ada telepon masuk, ternyata dari Vonny.


“Hmmm...”


“Hallo Harry...?”


“Ya?”


“Aku dengar dari Dirga kamu akan keluar kota?”


“Iya”


“Berapa hari?”


“Cukup lama.”


“Kenapa lama?”


“Gue kuliah di luar!”


“Kenapa?”


“Udah ya? Gue mau jalan nih?”


“Kemana?” langsung kututup teleponnya menuju tempat makan yang sudah kami janjikan. Hendri ku ajak juga karena kami lumayan dekat. Tapi Dirga lah sahabat terbaik. Dia tak pernah ember tentang kisahku dan Yukita pada siapa pun, termasuk Hendri.


Sampai di tempat yang kami janjikan, ternyata Dirga dan Hendri sudah di tempat.


“Broo, lu bosan ya sama kita? Sampai nyebrang pulau ninggalin kita,” celoteh Hendri.


“Gapapa Bro... bahkan ada pepatah yang menyuruh belajar sampai ke negeri China,” timpal Dirga.


“Oh iya, tadi gue ketemu Tika,” ucap Hendri.


“Lalu lu cerita kita makan di sini?” Dirga sedikit nada curiga.


“Iya, gue cerita mau pergi perpisahan dengan Harry.”


Dirga langsung tepuk jidat, “bakalan ada masalah lagi nih?” celetuknya.


“Kenapa? Emangnya masalah apa?” Hendri tanpa merasa berdosa.


“Sudah-sudah! Mau pesan apa?” leraiku. Lalu kami makan sesuai pesanan yang telah datang.


“Harry...!!!” suara siapa itu teriak memanggil namaku. Semua yang ada menoleh ke sumber suara. Ternyata sudah ada Vonny dengan wajah kesal berdiri di koridor restoran itu. Ada yang kagum karena kecantikannya, ada yang heran kenapa orang teriak seperti itu. Vonny mendekati meja kami.


“Aku sudah tahu kamu itu kejam, tapi aku tak nyangka kamu sampai setega ini?” bentaknya membuatku menghentikan makan. Semua pengunjung memperhatikan kami, menatap sinis padaku.


“Pon...tenang!” Dirga menenangkan Vonny. Sementara Hendri menyikut Dirga menanyakan apa yang terjadi.


“Ini semua gara-gara lu Ndri?”


“Loh? Kog gue? Salah gue apa?” Hendri tak terima.


“Harry.. kenapa kamu tidak menceritakan semuanya padaku? Ternyata kamu perginya besok, tapi sama sekali tidak mengatakan apa-apa padaku.”

__ADS_1


Aku tak ingin semakin ribut, “Ikuti gue!” ku ajak Vonny ke luar.


“Harry, apakah aku sama sekali tak ada artinya untukmu?” pertama kali kulihat dia menangis.


“Maafkan gue Pon, lebih baik lu mencari laki-laki selain gue Pon!”


“Teganya kamu ngomong seperti itu dengan wajah dinginmu Ry? Sama sekali tidak memikirkan perasaanku. Bahkan kepergianmu besok, ke Padang? Aku tak tahu, kau tak pernah bercerita sedikit pun. Kenapa harus jauh Ry? Kemarin aku rela kamu perlakukan sesukamu, karena merasa masih bisa dekat denganmu. Bila jauh seperti ini, kapan kita jadi Ry? Apakah sama sekali tidak ada kesempatan Ry?”


Sungguh, tak tahu harus mengatakan apa melihatnya terisak begitu. Aku tak ingin terus menyakitinya. Tapi hati ini tak bisa dipaksakan.


“Pon, maafkan gue.. gue memang salah tidak pernah memikirkan perasaan lu. Gue ini memang bukan laki-laki baik seperti yang lu kira Pon. Gue yakin lu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik. Please, jangan menangis lagi!”


“Ceritakan lah sejujurnya Ry? Apa yang kamu cari sampai sejauh itu meninggalkanku?” apakah harus kuceritakan semuanya padanya?


“Ry, apakah ada yang kamu cari di sana?..... kenapa kamu tidak mengelak Ry? Ternyata memang karena sudah ada orang lain di hatimu?”


“Pon, jujur, di hati gue memang ada seorang. Jujur lagi gue ke sana untuk mencarinya. Jadi gue mohon, lebih baik lu mencari pria lain yang benar-benar tulus mencintai lu!”


“Apakah kalian pernah bertemu?” bagaimana cara untuk mengatakannya? Karena kami sama sekali tak pernah bertemu.


“Dari mana kalian bisa kenal? Apakah dia pernah ke sini?”


“Sudah Pon, gue tak ingin semakin menyakitin hati lu. Gue antar pulang ya?”


“Tidak usah! Jangan sok baik gitu! Aku akan mencari tahu siapa wanita itu!” lalu dia pergi meninggalkanku dengan rasa marah. Semoga semua baik-baik saja, batinku. Aku kembali ke teman-teman.


“Gimana Bro? Maaf kan gue ya? Gue nggak nyangka bakalan seperti ini kejadiannya?” sesal Hendri.


“Santai aja lah! Lhoh? Kog belum dimakan?”


“Habis kita nggak enak Ry!” jelas Dirga.


“Lanjut...!! Lanjut...!! makan..makan!!”


Di sebuah kota yang tak terlalu besar, tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kakiku telah menginjak ranah minang, dalam perjalanan menuju area kampus Andalas. Karena memang sama sekali buta wilayah, kupilih taksi online sebagai moda transport terbaik. Setengah jam lebih perjalanan dari bandara menuju area kampus, hal pertama yang harus dilakukan tentu mencari kos-kosan.


Sebelumnya Mama sempat menawarkan diri untuk mengantarkan, tapi malu-maluin udah dewasa gini masih diantar. Jadi dengan keputusan berangkat sendiri, harus siap menanggung resiko kebingungan sendiri diantara manusia yang menggunakan bahasa yang sama sekali tak kupahami.


Melihat plang, ~terima kos cowok~ tanpa pikir panjang langsung masuk, karena dari luar sudah terlihat tempatnya bagus dan nyaman. Semoga betah. Satu hal yang membuatku kagum, ternyata biaya kosan di sini tidak semahal di Bandung. Jadi memilih ambil satu kamar saja, biar nyaman. Waduh, ternyata kamarnya kosong? Dipikir sudah ada kasur dan lemari. Ternyata harus isi sendiri. Beli ke mana ya? Terpaksa ku tanya ke pemilik kos. Lalu pemilik kos menyuruh anak gadisnya untuk menemaniku beli kasur dan lemari.


“Namanya siapa?” tanyaku.


“Vina Kak. Kakak sendiri nama panjangnya siapa?” Lalu kutunjukkan KTP,


“Oooohh.. Kak Akel,” timpalnya mengembalikan KTP-ku. Akel? Wah, keren juga dipanggil Akel, batinku.


“Kakak dari Bandung ya? Pasti kota ini kalah sama di sana,” dia berjalan mendahuluiku. Aku tidak tahu mau kemana.


“Vina, kita mau jalan kemana ini?”


“Oh. Di sana kak. Ada toko yang jual perlengkapan kosan.” Anak seusia SMP itu menunjuk toko yang dimaksud. Jadi cukup jalan kaki saja. Aku pikir jauh tempatnya.


Ternyata semua serba dekat, dimana-mana ada warung nasi, pasti aman. Maklum, area kos-kosan. Usai semua selesai, pihak toko yang mengantarkan hingga menyusun semua alat ke dalam kamar.


Vina menemaniku selama menyusun perlengkapan di kamar, “Vina sudah kelas berapa?”


"Aku kelas satu SMA kak?”


“Oooh, udah SMA. Saya pikir masih SMP?” dia tersenyum tersipu.

__ADS_1


“Ah, udah dulu Kak. Aku turun dulu ke bawah,” katanya buru-buru dengan muka merah. Ternyata dia sudah abege.


Besok harus mendaftar ulang ke kampus, jadi saya bertanya pada pemilik kosan, bagaimana caranya untuk ke kampus. Terus dijelaskan, tinggal nunggu Bus Operasional di depan ini yang langsung mengantarkan setiap mahasiswa ke masing-masing fakultas hingga kampus politeknik.


Politeknik? Bukankah itu kampusnya Yukita? Tak lama kenalan dengan kawan satu kos, memang isinya antara anak politeknik dan unand (andalas) mereka lebih suka menyebutnya unand.


Karena masih baru kenal, tidak enak rasanya langsung menanyakan Yukita. Jadi ku memilih tidak bertanya untuk sementara, meski rasanya sudah tidak sabar. Kebetulan ada yang mau mendaftar ulang juga esok, jadi kumemilih untuk bareng walau fakultas kami berbeda.


Namanya Roni, lulusnya di teknik elektro, seperti jurusan yang aku ingin. Tapi yasudahlah, nanti aku sambung itu di Bandung saja. Pendaftaran ulang negeri itu ternyata seperti ini, penuh hiruk pikuk, saling dorong-dorong. Jadi banyak yang memilih menunggu bila tidak kuat aksi tersebut. Aku adalah orang memilih menunggu hingga sepi dan memilih cari tempat duduk. Sekilas ku melihat seperti wajah yang selalu kulihat di hape sedang cemberut. Kembali kubuka hape, iyah..itu seperti Yukita. Kucari lagi sosok yang duduk tengah cemberut tadi, ternyata sudah tidak ada. Aaah, mungkin perasaanku saja.


Ngapain di di sini? Kampusnya bukan di sini.


Sudah sepi yang antre di loket administrasi, aku baru mendftarkan adminitrasi. Usai itu harus ke auditorium, mengurus persyaratan ospek. Aduh, dimana sih auditoriumnya? Aku tanya mba-mba di sana ah?


“Maaf Mba?” terpaksa aku colek karena dia jalan di depanku.


“Iya? Ada apa?” sapanya sopan melihat ke arahku. Deg, rasanya jantungku tidak kuat. Memang benar tadi yang kulihat adalah sosok Yukita yang juga kini berada di depanku. Bagaimana caranya? Aku ingin mengatakan? Yukita ya? Atau ini Yukita? Aku Harry..ini Harry...


“Bang...! Bang..!” dia membuyarkan lamunanku “Kenapa? Ada yang bisa saya bantu,” ucapnya tersenyum ramah. Deg, lagi jantungku terkejut. Ini rasanya benar-benar tidak kuat.. mendadak dia muncul dengan senyuman dengan lesung di pipi yang selalu kulamunkan, kini menjadi nyata.


“Maaf, aku mau menanyakan gedung auditorium dimana ya?”


Dia seperti tercenung sesaat, apakah dia mengingat sesuatu? Ini aku Harry.. aduh..suaraku lari kemana.


“Oh, mau mendaftar ya Bang? Itu gedung auditorium di seberang lapang bola. Abang bisa lewat sini!” katanya menunjuk jalan menuju gedung yang dimaksud. “Udah Bang?”


“Iya, makasih.” Dia mengangguk, dan melanjutkan jalan dengan temannya. Ku berjalan di belakang rasanya ingin menggapainya, lalu dia menengok lagi ke belakang, ke arahku. Langsung ku pura-pura jalan sewajarnya. Hehe, ternyata begitu sempitnya dunia ini, baru sampai di sini langsung ketemu orang yang kucari. Tapi kenapa aku bodoh banget. Masa mengatakan bahwa aku Harry..Harry.. saja tidak bisa? Tersadar lagi, ternyata orang yang berjalan di depanku tadi sudah tidak ada.


Kemana dia? Cepat sekali menghilangnya? Tapi yang jelas tak lama lagi kita akan ketemu lagi. Kembali kumasuk area hiruk pikuk, tes urin dan mengambil persyaratan ospek. Syarat melaksanakan ospek di sini bagi yang laki-laki rambutnya harus cepak, alias gundul.


Rambutku? Aduh? Ini melanggar HAM bukannya? Masa disuruh botak, nanti kalau jelek Yukita nggak suka bagaimana? Tapi dia sepertinya benar-benar tidak mengenalku. Bagaimana caranya untuk menjelaskan? Sementara nomor hapenya sudah diganti.


Sampai kembali ke kosan, ku nekat bertanya pada Remon anak politeknik.


“Kamu jurusan apa di politeknik?”


“Oh, aku teknik listrik.”


“Ooh, beda jurusan berarti.”


“Emangnya kenapa Kawan?”


“Aku punya kenalan di Teknik Telkom angkatan pertama. Bentar lagi angkatan kedua.”


“Oooh, berarti seangkatan. Aku banyak kenal anak telkom. Siapa namanya?”


“Yukita, kenal?”


“Yukita? Yukita?" sejenak dia berpikir, "Kayaknya aku Nggak pernah dengar nama itu Kawan.”


“Oooh, gitu? Ngga kenal ya?”


“Nanti aku tanya ke kawanku yang jurusan telkom. Soalnya kawanku banyak di jurusan itu.”


“Ooh, ya udah. Makasi yah, aku kembali ke kamar dulu."


“Siip..kawan!”


Waktu ospek masih seminggu lagi. Nanti saja mangkas rambutnya. Mau mencari Yukita besok ah. Nanti aku minta ikut ke politeknik juga lah, sambil lihat-lihat kampus. Ku ketuk pintu kamar Remon.

__ADS_1


“Bro, besok aku boleh ikut main ke politeknik?”


“Oh, tentu saja kawan. Besok pagi kita bareng ke sana. aku juga ikut penasaran,” katanya, seperti menggodaku, seolah paham maksudku untuk mencarinya.


__ADS_2