
“Apa tidak apa-apa kalau dia dibangunin?”
“Tidak apa-apa kok Teteh, dari pada dia molor terus kan?” di seberang terdengan suara tawa lalu hening. Untung bukan Hary yang baru saja aku lihat, dan untung langsung aku cek orangnya. Hemmm, jangan-jangan dia itu gemuk ya?? Masa kerjaannya tidur-tiduran mulu? Hehehe...terdengar suara telepon diangkat.
“Halow....”
“Ini Hary ya?”
“Iya, ini Hary. Ini teh siapa yah?” suara orang di balik telpon ini mirip siapa ya? Aduh.. kok jadi berdebar-debar?
“Halooo.. ini siapa?” terdengar lagi suara dari sebrang.
“Eh..hemmm..i..ini..”
“Iya, ini teh siapa?” logat Sunda-nya masih belum berubah..yang membuatku rindu.
__ADS_1
“I..i..ini Yuki.. Yukita..” benar-benar membuatku gugup, sesak dan bahagia berbicara lagi dengannya..
“Yukita?”
“Iya... masih ingat kan?” jawabku malu-malu. “Halo? Halo?” hah? Telponnya ditutup? Air mataku kembali menjatuhi pipi. Kecoba menghubungi nomor itu kembali, namun tidak masuk lagi.
Dadaku sesak, sekarang bukan karena deg-degan. Tapi karena sakit dan kembali kecewa. Kecewa untuk kesekian kalinya di hari yang sama. Oksigen seketika terasa begitu sedikit, membuatku sesak. Air mataku makin deras menjatuhi pipiku. Melihatku menangis begitu murungnya sepanjang jalan orang memandangiku menangis berdiri di antara pejalan kaki..
Kebetulan angkot ngetem tepat di depanku, penumpangnya masih sepi, ku pilih duduk paling sudut. Tak tahu berapa lama aku menangis di angkot tersebut.
“Neng, neng...” terdengar suara sang supir menyapaku.
Oksigen, seketika menghilang di sekitarku
Sesak, tak sanggup bernafas
__ADS_1
Ketika sebuah cinta yang putih
Diputus begitu saja oleh malaikat dalam mimpi
Oksigen seketika habis
Ketika pangeran impian memutuskan
Sebuah pelangi yang tercipta dari seberang samudra
Oksigen seketika menjadi karbondioksida, yang membuatku mati perlahan
Dilepas sang raja hati
Sekarang aku tersesat, di tempat yang benar-benar asing menurutku. Padahal semua ini kulakukan hanya untuk bertemu dengannya. Mengapa dia tidak mencoba mendengarkan apa yang hendak ku katakan padanya tentang semua itu? Seandainya semua orang yang lalu lalang itu mendengar teriakan hatiku, kuping mereka pasti sakit karena rangkaian-rangkaian kata yang tidak berbentuk
__ADS_1
KAMU TEGA HARY!!! KENAPA KAMU TIDAK MENCOBA MENDENGAR APA YANG INGIN AKU KATAKAN? SEKARANG GARA-GARA KAMU AKU TERDAMPAR DI TEMPAT YANG TIDAK KUKETAHUI INI DIMANA. SETIDAKNYA KAMU HARGAI AKU SEBAGAI PEREMPUAN YANG JAUH-JAUH DATANG KE SINI HANYA UNTUK MENGATAKAN “HAI” PADAMU? NAMUN, SEMUA SIA-SIA.. SUNGGUH AKU MENYESAL BERADA DI SINI” air mataku berkucur deras bagaikan hujan yang siap-siap membanjiri tempat ini.
Masih bertahan menangis di sana, dan mungkin semua yang lewat memperhatikanku seperti anak ayam kehilangan induknya. Hapeku bergetar, Mili mencoba meneleponku, namun kureject. Hingga lima kali dia menelpon terus kutolak. Setelah itu “Misterius Boy” yang menelepon. Akel..sang Pangeran kaca mata. Seperti Mili, telponnya kutolak juga. Entah berapa kali kutolak. Aku dimana? Aku tak tahu sekarang dimana? Aku tak tahu jalan kembali ke asrama..."