
Hah, kembali menginjakkan kaki di sini. Banyak sekali yang kurindukan di sini. Kamar sudah cukup berdebu, dan terpaksa bersih-bersih dulu. Tampak Remon mengintip, dia masih menggunakan Ransel. Mungkin baru balik dari kampus.
“Assalamualaikum Kawan. Sudah lama tidak jumpa!” dia menjabat tanganku penuh persahabatan.
“Walaikumsalam Bro. Apa kabar? Iya sudah cukup lama. Baru balik nih?”
“Iya, ini aku baru ketemu dosen buat bimbingan.”
“Ooh iya ya, sekarang kamu lagi bikin laporan akhir ya?”
“Iya, dosennya agak susah ditemui. Tapi aku nikmati saja. Gimana kuliah di sana?”
“Yah, lihat! Aku di sini! Cuti lagi yang di sana!”
“Aku benar-benar salut sama kamu Kawan! Kuliah sarjana sekaligus dua tempat. Nanti punya dua gelar donk ya?”
“Hehe, amin. Doakan saja ya?”
Tiba-tiba dari kejauhan seperti terdengan suara Vina. “Waah, Vina kayaknya sudah pulang sekolah. Kawan, dia uring-uringan saat Kawan cuti enam bulan kemarin. Sepertinya dia benar-benar suka sama kawan?”
“Haha, apa-apaan sih? Pintar juga ikhwan yang satu ini bercanda.”
“Hehehe, ya sudah! Selamat beres-beres kawan!”
“Oke..oke..” lalu dia keluar. Tak lama, Vina malah mengintip.
“Kak Akeeell... kenapa lama nggak pulang-pulang?”
“Eeh, Vina. Iya, di sana ada urusan juga.”
“Kata Bang Remon, Kakak kuliah lagi di sana ya?”
“Oh, dibilang juga sama Remon ya? Iya, saya dulu sempat kuliah di sana. jadi kuliah lagi aja.”
“Waahh, Kak Akel benar-benar hebat. Kuliah dua tempat sekaligus?”
“Enggak ah, Cuma satu-satu kok.”
“Kak, kangen sama kota ini nggak?”
“Iya, kangen. Banyak sekali yang saya rindukan di sini.”
“Kalau sama aku rindu juga nggak Kak?”
Kulirik dia sejenak, lalu tertawa tipis sambil geleng-geleng.
“Eekhheemm...” terdengar suara berdehem dari belakang Vina.
“Bunda?” ternyata ibu Kost. “Kak, aku turun dulu ya?” bisiknya.
Sekarang Vina sudah kelas tiga ya? Emang kurang tepat juga dia masih main-main ke kostan ini yang berpenghuni laki-laki semua. Aku takut, ibu kost malah salah paham padaku nanti. Padahal, kami sama sekali tidak ada hubungan apa-apa. Mudah-mudahan tidak ada masalah berarti kedepannya.
Aku balik usai ujian akhir semester. Rencananya aku mau mengambil kuliah semester pendek. Mengambil mata kuliah yang ketinggalan semester lalu. Ternyata dibatasin maksimal enam SKS. Yah, bagaimana lagi. Kuliah ini dilaksanakan selama sebulan penuh. jadi setiap hari harus masuk dengan mata kuliah yang sama. Selama SP, aku sering melihat Yukita aktif dalam himpunan mahasiswa. Sepertinya dia menjadi panitia ospek tahun ini? Apa perlu kutemui dia? Tapi nanti sajalah. Sepertinya dia sedang sibuk.
***
Sudah hampir selesai semester pendek, aku masih juga belum bisa menemui Yukita. Waktu semester pendek yang kuambil ini benar-benar mepet. Kuliah pertama empat SKS, terus istirahat, hanya sempat makan dan sholat, langsung disambut kuliah dua SKS berikutnya. Kalaupun aku selesai, mungkin Yukita sudah pulang. Tidak lagi tampak batang hidungnya dari kejauhan.
Semester pendek selesai, kuliah semester baru masih lebih seminggu lagi. Kalo pulang, tanggung. Ini juga gara-gara sudah nggak sabar, makanya sekalian aja datangnya buat kuliah semester pendek.
__ADS_1
Haaah, kalau tidak ada kegiatan ini pikiran bisa melayang entah kemana-mana. Udah nggak ada bedanya dengan jomblo ngenes. Kucoba mengecek kamar sebelah, ternyata orangnya masih belum pulang. Mungkin dia sedang sibuk, maklum membuat tugas akhir harus selalu siap kapan pun jika ada dosen datang.
“Kak, Kak Akel?” suara Vina dari balik pintu. Kubuka pintu terlihat Vina sudah sangat rapi.
“Kak, kita jalan-jalan yok?”
“Jalan-jalan?” oh iya, bukannya aku jarang keliling kota ini? masalahnya tidak ada kendaraan, dan kota ini sangat panas.
“Iya.. jalan-jalan. Sekarang kan weekend Kak? Nggak bosan gitu di sini terus?”
“Iya sih. Kita mau kemana?”
“Kita ke mall yuk? Makan.. Nonton.. tinggal pilih aja.. atau main ke pantai. Kan deket jaraknya dari mallnya,” terangnya.
“Hayuk lah. Sebenarnya saya juga bingung ni mau ngapain. Tidak ada gawean.”
“Nah, itu Kak. Yuk..kita berangkat?” langsung ambil dompet dan mengunci kamar. “Gitu aja Kak?”
“Apanya?”
“Bajunya?”
“Emang kenapa?”
“Yang rapi lah?!”
“Aah, males. Bukan pergi kencan juga.” Lalu dia berjalan dengan cemberut di belakang. Lalu kami berangkat menggunakan motor Vina. Jika berkeliling dengan motor gini, ternyata enak juga. Tidak perlu pusing gonta angkot mana, ganti angkot lagi. Kayaknya perlu beli motor juga di sini. Motor bekas berapaan ya? Sepanjang berjalanan, aku tanya Vina nama-nama jalan yang dilewati. Lalu aku tanya, Lubuklintah itu dimana?
“Ini namanya persimpangan Anduring Kak. Ke Lubuklintahnya belok kanan!”
“Oooh, itu Lubuklintah? Deket ternyata?” bisa nih, lain kali aku antar Yukita pulang.
“Ooh, ada temen yang tinggal di sana.”
“Siapa?” seketika nada suaranya berubah sumbang, “Cewek?”
“Iya, kawan sejurusan saya.”
“Kakak suka sama dia?”
“Iya.”
“Ooohh...”
“Kenapa bulet gitu?”
“Enggaa.” Lalu Vina lebih banyak diam, wajahnya cemberut tidak jelas. Dia hanya sekedar menunjukkan jalan, tetapi tidak bersemangat seperti tadi.
Sampai di mall tujuan, saat masih memarkir motor dia sudah nyelonong duluan. Ngambek.. tapi gimana lagi? Dia harus tahu, sudah ada pemilik hati ini. Dia kemana ya? Dia yang ngajak, malah kayak gini jadinya. Ooh, itu dia lagi menunggu di depan outlet kacamata. “Vina, kamu kenapa cemberut gitu?”
“Enggak...”
“Kita beli apa gitu yuk!? Biar saya yang traktir?” seketika ekspresi wajahnya berubah.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Kak, bayarin ke bioskop juga donk? Pengen nonton yang lagi viral sekarang itu!”
__ADS_1
“Ohh boleh..” haha, yang namanya anak-anak tetap anak-anak mah. Kemudian dia minta dibeliin cofeecup. Kami beli dua, dan kami lanjut jalan menuju lantai paling atas. Ternyata, malah ketemu dengan teman-temannya.
Terdengar bisikan dari temennya. “Itu cowoknya ya? Ciiieee...” nah, yang Vina hanya senyam-senyum nggak jelas aja. Tidak menjelaskan status sebenarnya, sekedar teman. Ooh, ya udah lah. Nggak usah diambil pusing, namanya juga abege.
Kami lanjutkan perjalanan lagi, terlihat kelompok mahasiswa yang wajahnya familiar. Ooh, itu teman seangkatan. Mungkin habis rapat atau ngapain lalu jalan bersama. Lhoh? Dia juga ada di sini? Seketika langkahku berbelok agar tidak dilihat olehnya. Seperti seorang laki-laki ketahuan selingkuh dari pasangannnya. Ngapain juga aku sembunyi tadi?
“Kak, jadi ada di salah satu rombongan tadi ya orangnya?”
“Iya, kok tahu?”
“Habis Kakak sembunyi. Pasti takut ketahuan lagi jalan dengan aku yaaaa??” godanya. “Yang mana orangnya Kak?”
“Ah, sudahlah. Hayuk? Katanya mau nonton bioskop?”
“Oh, iya.. kita ke pojok aja, naik lift ke atas!”
“Oke!”
Kami memilih film yang sedang viral saat ini. Semua orang selalu memperbincangkan tentang film itu. Jadi penasaran seperti apa filmnya. Kami menonton, terdengar suara teriakan histeris yang suaranya sudah hapal olehku. Jadi tadi rombongan mau nonton ini juga ternyata. Waduh, dia duduk dimana ya? Kalau aku kelihatan berdua dengan Vina pasti dia menyangkaku sudah punya pacar baru. Susah payah mempertahankan status ‘sendiri’ untuk menunggunya selama ini, bisa hancur gara-gara anak kecil ini.
Filmnya selesai, bersambung ke jilid berikutnya, “Yaaah, ternyata ada lagi sambungannya...” celetuk Vina. Tidak sedikit yang kecewa, karena penasaran kelanjutannya.
“Vin, kita cabut yuk?” aku langsung keluar dan menunggunya di luar.
Karena semua ingin keluar dengan tidak sabar, terjadilah aksi dorong-dorongan. Tampak Vina dan Yukita terdorong hingga jatuh. Ingin segera bantu, tapi terlalu numpuk. Untung satpam di sana segera mengatur kembali jalan agar tertib. Nampak Yukita bangkit, dan membantu Vina berdiri..
“Kamu tidak apa Dek?”
“Iya, tidak apa Kak. Terimakasih ya Kak. Kakak sendiri gimana? Tadi jatuh juga kan?”
“Iya, Kakak tidak apa kog say. Kamu sendirian aja?”
“Enggak, aku sama temen kog Kak.”
“Oh, ya udah. Kalau gitu Kakak gabung ke sana ya?” menunjukkan rombongannya tadi. Vina sudah melihatku dan menuju tempatku berada.
“Kamu tidak apa Vin? Tadi saya lihat kamu jatuh.”
“Iya, tidak apa kok Kak. Tadi aku dibantu kakak cantik yang baik hati. Kayaknya serombongan dengan yang Kak Akel hindari tadi.”
“Iya, aku lihat kok.”
“Jadi Kakak kenal juga dengan yang nolong aku tadi?”
“Iya..ehmm.. yuk?”
“Hmmm, ada gelagat mencurigakan nih? Jangan-jangan kakak yang nolong aku tadi orangnya?”
“Hmm, yuk? Kemana lagi nih?”
“Bener kan? Bener?” masih memaksaku.
“Iya, itu orangnya.”
“Oooh, baguslah Kak. Dari wajahnya terlihat dia orang yang baik. Aku ikhlaskan Kakak dengannya.”
“Maksudnya?”
“Hmm.. enggak.. yuk pulang aja? Daripada bergerilya kayak gini terus. Kasihan Kak Akelnya.”
__ADS_1