Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 37 Penyesalan


__ADS_3

Sampai di rumah ternyata sudah malam kembali. Kutemui hape, sudah dalam keadaan off. Mungkin batrainya sudah habis. Langsung mengechas hape, dan ketiduran gara-gara tubuh terasa terlalu lelah. Azan subuh membangunkanku, setengah sadar melangkah ke kamar mandi untuk wudhu. Melaksanakan sholat subuh, dan baru ingat, hape masih dalam keadaan charging. Langsung kucabut dan kuaktifkan.


Kulihat ada pesan chat yang masuk, ada juga dari beberapa orang..namun yang pertama kulihat adalah Yukita, sudah banyak chat dari Yukita.


Kenapa tiba-tiba pergi?(16.00)


Sayang, tadi aku menemui Anggi. Kami banyak bercerita tentangmu(16.01)


Maafkan aku sayang, terlalu mencurigaimu (16.02)


Sudah berangkat belum?(16.05)


Sudah sampai belum?(18.05)


Sayang, kamu marah padaku?(18.45)


Sayang, aku merindukanmu(20.07)


Hary? Kenapa telponku tidak diangkat? (09.10)


Hary?(12.11)


☹️ (19.45)


Aku lihat log telepon terakhir, memang ada nama dia. Tapi entah sudah berapa kali dia ingin menelepon. Langsung kutelepon, tak lama diangkat, “Halo, assalamualaikum...” bukan suara Yukita.


“Waalaikumsalam? Ini siapa yah?”


“Ini Feli...”


“Oohhh Feli, Yukitanya adah?”


“Kenapa baru menghubungi?”


“Ada apa Fel?”


“Malah nanya, jawab dulu pertanyaanku! Kenapa baru menghubungi?”

__ADS_1


“Soalnya seharian kemarin hapeku tertinggal,” ada apa dengan Yukita? Kenapa Feli begitu marah? “Yukitanya mana?”


“Oh, gara-gara hape tertinggal. Mudah sekali ya jawabannya?”


“Katakan padaku Feli! Ada apa dengan Yukita?” teleponku diputus. Kemudian masuk videocall nama Yukita, langsung kuterima. Tidak percaya yang kulihat, seorang yang tidur tenang, dibantu oleh oksigen tambahan, kepalanya diperban, tangan sebelah kiri dialiri infus, sebelah kanan dialiri tetesan darah tambahan, “Hallo...Hallo...Felii?”


“Kamu sudah lihat!? Apa yang terjadi pada Yukita?”


“Itu kenapa? Kenapa dia sampai seperti itu?”


“Dia kecelakaan tadi malam!”


“Kenapa dia bisa kecelakaan? Bukankah dia tidak pernah keluar malam?”


“Itu karena kamu!”


“Aku?”


“Dia terus bolak-balik mencarimu! Kamu tidak ada kabar! Sejak dua malam. Dia terus menanyakan kabarmu kepada kawan kostmu! Berharap ada kabar darimu! Tidak tahu, entah kenapa aku sudah dapat telepon dari ibunya dia masuk ICU di rumah sakit.”


“Hary...!? Kenapa diam saja?”


“Aku akan segera pulang!”


“Kamu lagi dimana?”


“Aku akan segera mencari tiket ke Padang secepatnya! Udah ya.” Langsung aku searching tiket online. Tiket yang berangkat secepatnya aku bisa. Langsung pamit pada Mama dan Papa.


“Bukannya baru balik? Tunggulah beberapa hari di sini dulu!”


“Ada urusan penting Pah. Aku harus berangkat sekarang juga.”


“Oh ya udah! Hati-hati saja! Perlu Papa antar ke bandara?”


“Tidak usah Pa, aku naik taksi online saja.”


“Ya udah, hati-hati di sana ya!” kucium tangan kedua orang tuaku, langsung menuju bandara.

__ADS_1


Selama penerbangan, ponsel dengan mode pesawat, kubaca pesan dari Remon dan Vina, mengatakan pacarku bolak-balik nyariin aku. Saat ditelepon tidak diangkat. Terakhir dia mencari sudah cukup malam, tapi aku masih belum ada kabar, dan nomor sudah tidak aktif. Remon bilang terakhir mencari dia terus menangis, dan khawatir saat membiarkan mengendarai motor sendiri.


Jangan-jangan dia kebut-kebutan saat seperti kemarin. Sudah kubilang dia tidak boleh seperti itu! Aaah..ini gara-gara hape sampai lupa dibawa pula! Seandainya hape ini kubawa kemana-mana, seandainya setiap pesannya langsung kubalas? Mungkin ini tidak akan terjadi. Tuhan, jagalah bidadariku itu? Jangan dulu Engkau ambil dia. Berikanlah kami waktu untuk berbahagia. Aah..lama sekali rasanya sampai sana.


***


Dimana dia? ICU dimana? Ujung-ujungnya kesal pada diri sendiri... aaahhhcc! Nomor Feli berapa? Aduh, ke siapa bisa ditelepon? Anggi tahu nggak ya? Kucoba menelepon Anggi.


“Heh, lu dimana?” baru juga nelpon langsung kena semprot.


“Gue lagi nyari ruangnya. Dimana?” lalu dijelaskan dan akhirnya sampai juga. Ketika melihatku, Anggi langsung menarikku ke tempat yang tidak dilihat yang menunggu Yukita.


“Lu dari mana aja ha? Katanya lu akan jagain dia? sedangkan dia begitu lu gak tahu!” dia terus menyudutkanku.


“Gue mau lihat dia!”


“Jelaskan dulu! Lu dari mana?”


“Gue ada kemalangan, ini gue langsung dari Bandung!” dia lepas genggaman dari kerah bajuku.


“AAAhhh!! Kenapa tidak lu jelaskan padanya?”


“Gue sudah bilang akan ke Bandung, tapi saat di sana gue sudah panik Ang! Lupa bawa hape, tidak gue sangka malah begini jadinya!”


Langsung ku tuju ruangannya. Tampak ayahnya menunggu sambil mengintip dia, ibunya duduk lelah bersama kakaknya. Tampak Feli, hanya diam memerhatikan kehadiranku. Kuhampiri ayahnya yang terus menengok Yukita, aku salami beliau, setelah itu beliau memberikanku tempat untuk menengoknya ke dalam.


Kucoba memutar gagang pintu, sedikit demi sedikit kubuka pintunya, jantungku makin lama berdegup makin kencang. Tidak karuan perasaan melihat keadaanya seperti itu. Seandainya saja.. aaaarrrggghhh... Yukita! Bangunlah! Bangun!!!! Rasanya ingin mengguncangnya tidak sabar. Apa yang harus kuberikan Yukita? Jika kamu kurang darah, aku akan berikan semua darahku. Kurang oksigen? Akan kuberikan paru-paruku untukmu. Kurang apa? Aku akan kuberikan nyawaku untukmu Yukita.. bangunlah sayang! Bangun!


Namun, bibirku tak bergerak sama sekali. Teriakan itu hanya memenuhi rongga jiwa. Lidah sangat kelu, karena pilu. Yang bisa kulakukan hanya menggenggam tangannya. Apakah mencintaiku sekakit itu untukmu? Aku yang harusnya menjagamu, tetapi aku yang membuatmu seperti ini.


Lalu kutemui orang tua Yukita, kubilang biar aku saja yang menjaganya. Seluruh keluarganya sudah terlihat sangat lelah. Ayahnya malah menyuruhku pulang, biar mereka yang jaga. Kujelaskan aku baik-baik saja, biar mereka istirahat, dan aku saja yang menjaganya. Feli masih tampak memperhatikan dengan tatapannya yang tajam. Tentu dia marah, seolah mengabaikan sahabatnya hingga akhirnya seperti ini.


“Yukita, sebenarnya apa yang kamu pikirkan?” kudekap tangannya yang tak berdaya dengan sepenuh jiwa. Seandainya aku sempat menjelaskan, mungkin kamu tidak akan begini. Atau mungkin jika tak berada di antara kamu dan Anggi, pasti semua baik-baik saja. Tak apa aku terluka, karena itu sudah jadi makananku sehari-hari. Yang penting kamu baik-baik saja.



__ADS_1


__ADS_2