
Menjelang pukul lima sore, aku bangunkan Yukita. Dia terlihat sedikit lebih baik dibanding sebelumnya.
"Ayo bangun, Sholat Ashar dulu!"
Seakan terkejut, Yukita langsung bangkit untuk berwudhu. Tanpa menunggu-nunggu, dia langsung melaksanakan sholat empat rakaat. Setelah itu dia duduk di sampingku.
"Kamu udah baikan?" Dia mengangguk, namun tak semangat. "Ayo sini peluk Aa, siapa tau akan baikan."
"Keasikan meluk-meluk Aa ni?" sungutnya.
"Iya, soalnya baru sekarang boleh meluk kan? Sebelumnya kamu gak mau terus lho?" Aku tarik dan aku peluk tanpa menunggu dia lagi. "Aa seneng nih, kalau kita berpelukan gini. Kamu jangan pernah melepaskanku dan aku tak akan pernah melepaskanmu."
"Yuki nonton Layangan Terbang, itu suaminya minta aku giling pakai bulldozer. Nanti kalau Aa selingkuh, Yuki beneran nyari bullldozer yaa. Awas lhoo?"
Kusugar rambut yang menutupi keningnya. Lalu aku cium sampai puas. "Dih, belum apa-apa udah ngancam-ngancam?"
"Abis, Yuki gregetan sama suami tak tahu diri kayak gitu. Aa awas lhooo, kalau kayak gitu juga."
"Kalau service memuaskan, yaa ngga akan." candaku melihat reaksinya.
"Servis semacam di bengkel-bengkel itu? Emangnya Yuki motor?"
"Yaaa, maksud Aa tu kamu berikan kenyamanan. Dapur, sumur, kasur ...." candaku sambil terkekeh.
"Issshhh ... Kalau suami itu memang yang di kasur tu yang dicari. Yuki udah baca-baca juga."
"Nah, kalau gitu jelang makan malam kita main di atas kasur dulu." Langsung kupeluk, wajahnya kembali bersemu.
"Kenapa? Masih malu? Bukan kah tadi malam kamu sudah melihat semuanya? Aku pun juga udah merasakan semuanya juga."
Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung memberikan serangan penuh cinta padanya.
💖
💖
💖
Usai waktu Magrib, kami kembali keluar hotel mencari sesuatu yang menarik. Dia semakin bergelayut manja seolah melupakan masalah yang baru tadi kami lewati. Semoga tak akan ada lagi kata berjumpa dengan si keparat tengik itu.
__ADS_1
"Aa ... Yuki mau itu!" Dia menunjuk ibu-ibu yang menjajakan kerupuk kuah yang ditaburi mie goreng di atasnya.
"Nanti keburu kenyang lho? Kita cari sesuatu buat makan malam dulu."
"Ga apa. Makan itu aja kenyang kok." rengeknya.
"Iiih, kamu ini gak bisa dibilang ya?" Lalu kembali ku masukan ke dalam dekapan mengajaknya mendekat pada ibu penjual kerupuk itu.
"Bu, beli dua ya." ucap Yukita.
Sang penjual menyiapkan pesanan kami, dan kami nikmati makanan itu di malam cerah, bersuhu dingin di kota ini. "Kalian pacaran malam-malam gini, udah minta izin sama orang tua belum?" tanya ibu penjual.
"Emang kenapa Bu?" tanya Yukita, dan aku hanya memperhatikan.
"Nanti pacaran gak minta izin, tau-taunya pulang pagi. Beberapa bulan malah udah dung duluan." ucap ibu itu sambil memperagakan.
Kami terkekeh, Yukita malah semakin memelukku. "Kami ini sudah menikah lho Bu." Akhirnya dengan percaya diri dia mengenalkanku sebagai suaminya. Ku dekap pelukannya sambil mencium pucuk kepalanya.
"Waaah, udah nikah?" tanyanya tak percaya.
"Iya, kami baru menikah beberapa hari."
Yukita melihatku dalam-dalam. "Nah, sama juga kata ibu ini seperti yang Yuki bilang tadi. Nanti Aa masih sama kayak gini ngga ya kalau kita udah punya anak?" Aku hanya bisa mengacak rambutnya, melemparkan senyuman yang aku punya untuknya.
"Duuuh, kalian ini mesra banget. Ibu jadi ingat suami di rumah jadinya."
💖
💖
💖
Kami berdua tengah menunggu ijazah yang disiapkan oleh pihak akademik kampus. Semua teman seangkatan yang bertemu sibuk menggoda kami sebagai pengantin baru.
Mili mendekati Yukita, dan istriku melambaikan tangannya padaku. Aku biarkan dia menikmati waktu-waktu terakhir dengan sahabatnya di kota ini. Seminggu lagi kami akan terbang ke Bandung, sebagai warga Bandung.
"Gimana Bro? Enak ngga punya bini?" ucap Anggi yang sudah menjadi teman baikku.
"Kalau penasaran, buruan nikah. Lu nggak akan bisa melukiskan betapa nikmatnya memiliki istri itu."
__ADS_1
"Iye, nanti gue pasti nikah. Kira-kira lu mau ke sini ngga ya kalau kami nikah?" tanya Anggi.
"Tergantung kondisi dan keuangan. Kalau sudah bekeluarga tentu semua tidak semudah saat masih single. Banyak hal yang harus dipikirkan. Kapan nih rencananya nyusul kami ke pelaminan?"
"Mungkin setelah mendapat pekerjaan tetap. Gue nggak seberani lu sih Bro. Apalagi umur gue masih muda. Mungkin masih beberapa waktu lagi."
"Iya sih. Lu masih dua puluh dua ya. Gue udah otewe dua lima ni. Lumayan lah. Kerja bisa dipikirkan bersama nantinya."
"Lu mah enak, tinggal kerja sama bokap. Sedangkan gue harus pontang-panting ke sana ke mari dulu buat nyari kerja." ucap Anggi. Perasaanku seketika langsung tertohok.
Padahal aku ingin menghapus mindset seperti itu. Namun aku tidak berani mengucapkannya dengan lantang. Takut takabur juga. Kita lihat saja kemana takdir selanjutnya membawaku. Rezeki yang mana diberi Tuhan kepadaku. Apakah dengan perjuangan, atau sebagai seorang anak yang memiliki bisnis properti yang lumayan?
"Atau lu mau ikut kerja di Bandung?" tawarku.
"Hmmm ... Gue mau coba di sini dulu. Jika belum dapet, lu rekomendasikan gue ke bokap lu ya?"
Aku hanya menepuk-nepuk punggung anak ini. Dia belum paham betapa kejamnya persaingan untuk masuk dunia pekerjaan.
💖
💖
💖
"Ibu, Ayah, Yuki pergi dulu ya? Doakan Yuki jadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah di sana ya?" Yukita memeluk kedua orang tuanya dengan rasa haru. Tentu dia merasa sangat sedih, harus meninggalkan kedua orang tuanya yang mulai memasuki usia senja. Meninggalkan kota kelahirannya yang memiliki jutaan kenangan, meski beberapa telah dilupakannya.
"Akel, kamu jaga Yuki dengan baik ya? Jika dia khilaf, kamu boleh menasihati dan mengingatkannya. Sekarang semua tentang anak kami, Ayah serahkan padamu." ucap Ayah padaku saat aku mencium tangannya untuk pamit.
"Ayah tenang saja. Aku akan selalu menjaganya dengan sebaik mungkin." Ayahnya menepuk-nepuk pundakku. Setelah itu kucium tangan ibunya yang terurai air mata.
"Kamu jaga dia dengan baik ya? Meski dia masih kekanakan, dia akan cepat dewasa setelah menjadi istrimu. Ibu sudah memberi nasihat, agar dia patuh dan melayanimu dengan baik. Semoga kalian selalu rukun dan damai." Ibu menangis terharu melepas kami berdua.
Sementara kakak iparku tidak bisa ikut mengantar ke bandara karena sudah memiliki pekerjaan tetap di bidang perbankan. Namun, kami sudah pamit kepadanya sesaat sebelum dia berangkat bekerja.
Yukita melambaikan tangannya penuh rasa haru. Aku mendorong barang-barang seperlunya untuk dibawa. Nanti segalanya bisa dibeli di sana. Aku rangkul dengan mesra, dia masih terhenti melihat kedua orang tuanya dengan tangisan.
"Kita akan sering menghubungi mereka." ucapku di tepat di telinganya. Dia mengangguk dan melambaikan tangan kembali. Lalu kami masuk menuju ruang tunggu penerbangan.
Kami berdua benar-benar akan memasuki dunia baru setelah ini.
__ADS_1
...*bersambung*...