Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 20


__ADS_3

Acara hari ini tidak terlalu banyak, habis berkeliling ku kembali pulang ke rumah setelah Yukita tidak terlihat. Mungkin dia pulang ke asrama untuk berisitirahat.


“Ga, lagi apa?”


“Ini lagi ada kuliah, bentar lagi juga istirahat!”


“Oh ya udah, nanti kita kontekan lagi!”


Enaknya ngapain ya? Hady udah pulang belum ya? Lalu kutengok keluar, ternyata rumah masih sepi. Ku hidupkan tivi dan mainkan pe-es. Udah kelamaan main, kuputuskan untuk tidur sejenak.



Tengah asyik tiduran samar-samar terdengar ni panggilan dari Hady.


“A’..Aa” terdengar Hady dari luar dan masuk ke dalam kamarku


“Heh! Anak kecil main nyelonong aja?”


“Ada telepon A’ dari cewek!”


“Lho? Kok nelpon ke rumah?” Hady hanya mengangkat bahu, kulihat jam sudah pukul enam belas. Ternyata sudah dua jam aku tidurnya.


Dengan malas, kutuju telepon rumah itu. Mungkin teman esde, tadi kata Mama ada yang nyari juga.


“Halow....”


“Ini Harry ya?” ini bukankah suara...


“Iya, ini Harry. Ini teh siapa yah?” harus kupastikan dulu.


“Halooo.. ini siapa?”


“Eh..hemmm..i..ini..”


“Iya, ini teh siapa?” jadi semakin yakin..ini..


“I..i..ini Yuki.. Yukita..”


“Yukita?”


“Iya... masih ingat kan?” tuh kan Yukita. Langsung ku lempar gagang telepon itu dan kucari jaket, dia dimana? Lalu hape..ya hape.


Ternyata Dirga tengah meneleponku.


“Kenapa Ga?”


“Ini, ada yang nyari lu sampai sini! Lu pasti tidak menyangka siapa yang ke sini nyari lu!?”


“Siapa Ga? Ayo bilang!”


“Tadi Hendri bilang ada orang yang nyari Harry. Terus gue sempat lihat dia, emang rasa-rasa pernah lihat dia dimana, mukanya dah merah menahan tangis, sempat ketemu Harry dan Tika juga. Gue tanya nama dia siapa, dia bilang Yukita. Jadi gue langsung ingat, pernah lihat dia di hape lu. Dia Yukita, mencari lu sendirian ke sini. Ah! Gila lu! Sudah gue bilang untuk mengatakannya secepatnya!”


“Terus dia dimana?”


“Ya, nggak tahu. Kata Hendri dianya mau balik. Tapi mending lu telepon! Gue jadi khawatir!”


“Ya udah, makasih infonya!”


Ku telepon Yukita, namun tidak diangkat. Lalu kutelepon Mili, tanyakan Yukita ada di mana.


“Tadi dia pergi, saat aku masih bareng yang lain. Kata Chika dia buru-buru keluar. Kenapa Kel?”

__ADS_1


“Sebenarnya apa alasan dia ke sini Mil? Apa kamu tahu?”


“Tadi dia cerita, katanya sebenarnya dia mencari seseorang yang bernama Harry.”


“Harry?”


“Iya, Harry,..”


“Kalau gitu tolong kabarin aku kalau Yukita hubungi kamu atau kamu berhasil hubungin dia ya?”


“Oke, baiklah!”


Terus ku coba menelepon Yukita, namun tidak diangkat. Yukita, kenapa kamu begitu hebat menyembunyikan perasaanmu? Atau karena aku yang tak bisa membaca hatimu? Jika aku tahu sejak dulu, tidak.. jika seandainya aku mengatakan semuanya sejak awal kita bertemu. Pasti, semuanya tidak akan begini.


Pasti, saat ini kita sudah berbahagia berdua. Teleponku masih belum diangkat. Kemana harus kucari? Ya Tuhan? Jagalah dia. semoga kali ini teleponku diangkat.


“Halo...” wah, diangkat, namun suaranya serak.


“Yukita, kamu menangis?”


“Tidak”


“Kamu menangis?”


“Tidak!”


“Katakan padaku! Kenapa kamu menangis?”


“Tidak!”


“Sekarang kamu dimana?”


“Maksudmu?” dia hanya diam “Sekarang kamu dimana? Dari tadi aku, Mili dan Anggi terus mencarimu!”


“Aku bilang aku tak tahu, ini dimana?”


“Apa kamu melihat sesuatu yang besar?”


“Di sini ada Mall yang gede.”


“Namanya?”


“Central Plaza”


“Haaa??? Kenapa kamu bisa tersasar jauh ke sana?”


“Tadi aku asal naik angkot.”


“Baiklah! Tunggu aku depan Central Plaza! Aku segera ke sana.”


Kulajukan skuter ini sekencangnya. Tak ingin dia sendiri berlama menangis di sana. Setelah sampai langsung kuhubungi “Yukita, kamu dimana? Aku depan pintu masuk Central”


“Aku di seberang.” Seberang? Mana..hmm.. nah itu dia.


“Tunggu aku di sana!” melihat dia sendu itu rasanya ingin kupeluk. Kutarik dia hanya ikut dengan diam.


“Nah, ini adek yang nangis tadi kan? Masih nangis ya?” tanya seorang wanita dengan wajah kesal padaku “Kamu apakan adik ini? Dari tadi dia menangis terus.”


“dia tersasar.”


“Oh, adik ini tersasar? Kamu siapa nya?”

__ADS_1


“Udah dulu ya? Terima kasih udah perhatikan dia. Jangan panggil dia adik. Dia ini mahasiswa.”


“Masa sih? Palingan dia masih kelas dua SMA?”


Terus kutarik dia, dia masih mengikutiku dengan lesu. Melihat motorku, dia seperti enggan untuk naik. Mungkin dia masih belum ingin pulang.


Baiklah, mungkin kali ini harus kujelaskan. Ku bawa dia ketempat yang pas, untuk kami berdua bercerita.


“Ayo naik! Aku tahu tempat yang cocok untukmu.”


Mendengar ucapanku barusan dia langsung duduk di skuter matic antik kesayanganku ini. Kupasangkan helm padanya. Maafkan aku yang terlalu lemah selama ini menghadapimu.


Belum sanggup menyatakan yang seharusnya hingga hal ini terjadi padamu. Terasa, dia terus menangis dipunggungku. Sekali lagi maafkan aku, cinta.


Kubawa, ketempat dimana biasa aku merenung. Melihat lembah itu, Yukita langsung berlari, dan berteriak.


“KAMU JAHAAAT.. KAMU JAHAAATT.. KAMU JAHAAATTT...


AKU INGIN PULANG.. TAK MAU LAGI DI SINI


KENAPA KAMU BEGITU???


AKU SIAP BILA KAMU MEMILIKI LAIN


TAPI BICARA DENGANKU SATU MENIT SAJA KAU TAK MAU


AKU INGIN PULAAAANG!!!”


Melihatnya seperti itu, lagi...hatiku menciut. Sepertinya kali ini aku benar-benar terlambat. Terlalu terlambat menanti waktu dan kesempatan, terlalu banyak berpikir, terlalu menyakiti hatinya.


Apakah aku sanggup mengatakannya saat ini? melihat dia menangis seperti itu, membuat dada ini sakit.


“Kenapa? Kenapa aku begitu gila? Aku malu pada diriku sendiri, sampai begini untuk mencari seorang Harry yang aku sendiri tidak tahu seperti apa. Tapi, hanya ini yang kudapat. Seharusnya aku memang tak berharap lebih, dan tak perlu pergi ke sini. Di mana jauh dari orang orang tua dan keluarga yang ku sayang,” terdengar dia tidak berteriak lagi.


Apakah dia sudah lelah? Kubiarkan dia menangis, biarkan dia hingga lebih tenang.


Cukup lama, saat ini sudah terlalu sore, hampir gelap, Yukita mendekat. Matanya tampak sembab, dan mungkin karena malu dia membelakangiku.


“Sudah puas nangisnya? matamu bengkak”


“Kita pulang yuk?”


“Ke mana?”


“Aku mau tidur, kita ke asrama.”


“Tunggu, aku ingin bicara denganmu.”


“Aku ingin tidur Kel... Please?”


“Tapi... Yukita... aku ingin kamu tahu yang sebenarnya...bahwa...”


“Aku tahu, kamu ingin hibur aku.. tapi, sekarang ini aku lebih membutuhkan istirahat.”


“Baiklah...” ternyata masih belum bisa. Belum saatnya.



melihat wajahnya yang begitu sendu, membuat hati ini dipenuhi rasa bersalah. Setidaknya tadi kutunggu dia menyelesaikan pembicaraan nya saat dia menelepon tadi. Usai dia bicara, tinggal mengatakan, taraaaa.. ini aku Harry, Harry itu yang kamu kenal dengan nama Akel.


Akhh... itu hanya khayalan yang sia-sia. Terlalu terlambat untuk terus berandai-andai.

__ADS_1


__ADS_2