
Sekarang sudah sepuluh hari dirawat. Setiap hari, lewat pukul sepuluh pagi, ada saja yang datang membesukku. Jika teman-teman kampus yang datang hanya yang berada di kota Padang saja. Sedangkan yang lain, mungkin sudah pulang kampung. Ibuku cerita waktu baru dirawat dulu, teman-temanku beramai-ramai datang ke rumah sakit, tapi aku tak ingat… tiba-tiba sebuah pesan masuk;
Assalamualaikum YuKi… Va mau ke rumah sakit sekarang
Walaikumsallam… OK… Yuki Tunggu
Aku baru bisa membuka hape sejak dua hari yang lalu. Hapeku selalu saja berbunyi, sejak aku sakit. Jika baterainya habis, Uni April yang selalu menolongku mengecas hingga baterai penuh. Setelah mampu membuka hape, langsung mengecek sosmed yang biasa digunakan sebagai tempat komunikasi yang paling nyaman. Ternyata pesan grub begitu heboh karena aku sakit. Banyak pesan chat yang belum terbaca.
Tak perlu menunggu terlalu lama, Nova datang tak sendirian. Ia datang bersama Reni, Widya, Doly dan…??? Orang yang paling tidak ingin ku lihat juga ikut.
“Yuki…” Nova masuk dengan ceria.
“Haaaiii…” lalu Reni, Widya dan Nova duduk di atas ranjang.
“Gimana Ki? Udah sehat kan?” tanya Widya.
“Ya beginilah Wid…”
“Mana Ibunya Yuki? Kok sendirian saja?” tanya Reni.
“Iya… pagi-pagi emang kayak gini. Ibu harus ngajar, Uni beres-beres rumah dan Ayah harus ke ladang”
“Kapan nih bisa pulang?” tanya Nova.
“Aku juga tidak tahu… kata dokter sih sampai sehat. Tapi rasanya sudah sehat kok.”
“Iya… Yuki kayak orang gak sakit kok,” tawa Reni.
Aku lihat Doly bingung dengan teman yang dibawanya, dia dengan setengah-setengah melihat ke arahku…
“Cie… saling bertatapan nih ye?” goda Nova.
“Ih… apaan sih?”
“Kami tahu kok…” tambah Widya ikut menggodaku.
Waduh, kenapa sih mereka? Tapi tak mungkin aku cuekin Aldi? Dia sudah susah-susah datang untuk melihatku di sini.
“Doly… Aldi… masuk saja! Ngapain berdiri di sana?”
“Oh iya… Di… masuk yuk!”
Aldi mengangguk, berjalan salah tingkah di belakang Doly. Sedangkan Nova saling kode-kodean dengan yang lain dan memberi tempat untuk Aldi.
“Jangan!!!” pintaku melototi mereka.
“Ahh… nggak apa…” kata mereka.
__ADS_1
Sekarang aku mengerti, mereka masih mengira aku dengan Aldi masih pacaran.
“Gimana kabarmu Yukita?”
“Udah baikan sih…”
“Kapan pulangnya?”
“Cie… ada yang kangen-kangenan nih?”
“Teman-teman… kayaknya kita ganggu deh?”
“Iya… mending kita biarin mereka berdua."
“Eh… jangan! Kalian kan baru nyampe sini? Kok udah pergi lagi? Aku kan masih ingin ngumpul nih?”
“Oh… enggak… kami Cuma cari angin bentar keluar, di sini kami jadi obat nyamuk saja”
“Nggak kok… di sini aja ya…”
“Daah.. nanti kami kembali lagi kok”
Yaaaaaah… mereka meninggalkanku? Dengan Aldi, lagi?
“Yukita…”
“Kamu takut ya?” ku diam, “kejadian itu… maafkan aku!!!” aku masih terdiam dan menatap matanya “waktu itu aku kehilangan kendali… sungguh… aku mohon maafkan aku!”
“Kalau aku tak bisa memaafkanmu, apa yang akan kau lakukan padaku?”
“Sungguh…waktu itu aku benar-benar kehilangan kendali. Hampir saja aku melukai orang yang ku sayang. Aku masih sayang padamu…. Yukita… maafkan aku…”
“Di…?”
“Aku tahu aku yang salah, karena memang cinta tak bisa dipaksakan” lalu dia menggenggam kedua tanganku dengan lembut “aku tahu apa yang harus ku katakan… aku sangat menyayangimu.”
Aku tatap dengan lembut “baiklah… Aku maafkan…” ku coba menarik tangan dari genggamannya.
“Yukita…”
“Ya?”
“Tapi izinkan aku untuk selalu berada di sisi kamu. Aku hanya ingin menyerahkan hatiku padamu."
”Tapi Di…”
“Aku tahu kamu tak menyayangiku, tapi aku akan berusaha membuatmu menyayangi ku walau hanya sedikit saja."
__ADS_1
“Tapi Di… aku tak bisa…”
“Kenapa tak bisa?”
“Ini bukan karena apa-apa Di… aku hanya ingin sendiri”
“Jadi tak ada kesempatan untuk ku lagi?”
“Maaf… kalau nggak keberatan kita jadi teman saja!”
“Jadi hanya sekedar teman?” wajahnya berubah murung, aku tak sanggup melihat wajah sedih seperti itu…
“Teman spesial…” ups… apa yang ku katakan? Habis gimana lagi? Aku tak sanggup melihat jika ada yang sedih di hadapanku.
“Benarkah?”
Aku hanya bisa tersenyum kebingungan, tadi itu hanya jawaban refleks jika ada yang bersedih di depanku. Tak mungkin ku tarik lagi ucapanku barusan, karena dia begitu bahagia.
“Dengan syarat…”
“Apa syaratnya?”
“Kamu jangan meminta yang macam-macam padaku!”
“Baiklah Yukita… aku akan berusaha membahagiakanmu”
Lalu teman-teman beramai-ramai kembali masuk ke ruang rawat ku
“Ah… jadi iri nih. kayaknya ada yang lagi seneng?” goda Doly.
Aku hanya bisa bingung dan mengutuk diriku sendiri, kenapa aku bisa begini? Aku kembali pada Aldi? Tanpa perasaan apa-apa? Mudah-mudahan dia tidak akan terluka dengan sikapku ini
Cinta tak bisa
Bila terpaksa
Cintaku dusta
Bukan untuknya
Tapi tak terasa
Kembali padanya
Karena ku hiba
Dengan cintanya
__ADS_1