
Aku dan Feli sedang berada di sekolah anak-anak autis. Bermacam-macam tingkah anak yang sekolah di sini. Karena Feli mahasiswa psikologi, bermacam-macam jenis tingkah kejiwaan yang ditelitinya. Terakhir aku menemani dia bertemu keluarga yang anak laki-lakinya mendapat sakit turunan step down.
Kali ini aku hanya mengamati dari jauh, guru yang mengajarkan anak autis membaca. Ada yang patuh mengikuti guru membaca yang ditunjuk di papan tulis. Ada yang sibuk dengan dunianya sendiri, menggambar atau menulis. Ada yang menyanyi tidak jelas sendiri. Aku begitu takjub dengan kondisi ini. Hal ini membuat wawasanku bertambah.
Tiba-tiba aku melihat anak yang tenang, tanpa ekspresi, duduk di atas ayunan. Sekilas, dari wajahnya tanpa ekspresi itu mengingatkanku pada orang seseorang, Harry... aah, apaan nih aku? Masa iya menyamakan dia dengan anak-anak autis?
Kubuka hape, tidak ada pesan dari dia. Sejak pulang kemarin, dia sama sekali tidak menghubungiku. Banyak hal yang baru kuketahui tentang dia, yang sangat berbeda ketika dulu masih jarak jauh. Memang banyak orang yang tidak menyukai dia, tetapi yang menyukai dia lebih banyak lagi. Harus bagaimana ya, cara mengatakan padanya untuk berubah ke arah yang semakin baik? Aku suka semua tentangnya, hanya saja harapanku dia bisa lebih baik lagi untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Usai mengunjungi sekolah autis itu, Feli mengajakku main muter-muter mall. Kami berputar-putar mencari produk bermerk tapi diskonnya gede. Maklum lah, aku salah satu makhluk yang bergaya dengan produk diskonan. Gimana lagi, hidup pas-pasan juga. Kebetulan, masih ada sisa beasiswa semester lalu. Tinggal menunggu beasiswa baru masuk dalam rekening.
“Yukita, ini bagus..cocok untukmu kayaknya?” Feli bersorak melihat baju.
“Emang bagus Fel, baguuuusss banget malah. Tapi..ini mahal!” celetukku.
Lalu kami mutar-mutar nggak jelas lagi mencari yang bagus, yang harganya pas, pas dikantong maksudnya.
“Yuki?” lalu kutengok, ternyata ada Doli. Waduh, kenapa malah ketemu dia di sini? “Apa kabar Yuki? Udah lama banget kita tidak jumpa.”
“Hemm, begini lah,” jawabku sekenanya. Rasanya masih kesal mengingat Aldi itu temannya.
“Loh, kok jutek gitu?” Ku hanya mengubek-ubek baju yang tertulis diskon tujuh puluh persen.
“Yuki, kalau kamu ada masalah sama Aldi, jangan ikut marah sama aku dong?”
“Habis, gara-gara kamu, aku kenal dengan Aldi,” suara yang tertahan akhirnya keluar cukup keras.
“Lalu, kalau kenal denganku kenapa?” sahut seorang yang sudah ada di belakangku.
__ADS_1
“Aldi?”
“Iya, ini aku!”
Langsung kutinggalkan mereka berdua, mencari Feli. Kulihat Aldi langkahnya cepat mengejarku. “Feli... Feli...” akhirnya aku menemukannya di antara pajangan baju mahal tanpa lab diskon.
“Kenapa? Kok ketakutan gitu?” lalu melihat sosok yang baru sampai di dekat kami. “Eeh, lu mau apa lagi?” bentaknya.
“Ah, bukan urusan lo!”
“Urusan gue lah! Dia temen gue, berangkatnya bareng gue!”
Tampak di belakang Doli menyusul, “Hey, Di. Lu jangan gitu dong sama temen-temen gua?”
“Apa-an sih lu?” ujar Aldi geram.
***
Hingga malam, Harry belum juga menelepon atau sekedar chat denganku. Apakah dia marah? Apa yang membuat dia marah? Seharusnya aku yang marah. Aku tak suka dikekang begitu, meski aku cinta pada dia.
Saat keluar dari rumah, hendak ke kampus. Ibu sudah berangkat ke sekolah. Ayah di ladang, kakakku masih bersiap-siap akan ke kampus. Dia sedang sibuk mengurus skripsi. Moga urusannya lancar, segera wisuda dan cepat mendapatkan pekerjaan. Ternyata di halaman depan rumah sudah berdiri Harry dengan motornya, menungguku. Aku pikir dia masih marah, meski marah tak jelas kenapa. Ternyata dia sudah menungguku dengan senyuman.
“Harry? Kamu menjemputku?”
“Semalaman aku kepikiran kamu terus, maafkan aku ya? Mungkin aku terlalu posesif padamu.”
“Kalau kepikiran, kenapa tidak telepon?”
“Aku lebih suka menemuimu langsung. Aku ingin langsung mengucapkannya padamu.” Kembali dia tersenyum. “Yuk, naik! Kita berangkat!” memasangkan helm padaku.
__ADS_1
“Ah, udah! Malu nanti dilihatin tetangga,” ujarku buru-buru memasangnya sendiri. Dia tertawa dan menggelengkan kepala. Lalu kami melaju menuju kampus.
Sampai di parkiran, ternyata Anggi juga baru sampai. Kami lewat di depannya, “Hey, lihatlah! Pasangan pangeran dan putri!” soraknya. Kami berdua menengok ke arahnya. “Apa?” tanyanya pada Harry. Anggi menatap penuh kebencian, dan Harry menatapnya dengan dingin.
“Ang....” Harry menahanku. Lalu dia menarikku untuk segera meninggalkan Anggi. Kulirik kembali Anggi, dia masih memperhatikan langkah kami. Kembali Harry menarikku untuk segera pergi. “Harry, bagaimana pun aku dan Anggi adalah sahabat.”
“Iya, tunggu dia tenang dulu!” aku mengangguk dan kami langsung menuju ruang kuliah.
Kembali ku pilih bangku sebelah Mili, sedangkan dia memilih duduk jauh di depan sendiri. Mungkin dia ingin memberiku ruang agar aku merasa tidak diikat terus. Ujung-ujungnya, aku tak berhenti untuk terus memperhatikannya. Dia belajar dengan serius, sesekali menaikkan kacamata yang agak turun.
“Nggak bosen-bosen gitu ya menatapi pacar terus?” celetuk Mili.
“Ah, Mili.. aku jadi malu.” Lalu ku cari sosok tadi yang berjumpa di parkiran. Ternyata dia duduk di bangku pojok paling belakang. Mata kami beradu pandang, ternyata dia terus memperhatikanku dari belakang sana. Aku lambaikan tangan memanggil dia. Dia malah membuang muka.
Usai dosen keluar, langsung kuturut Anggi ke tempat dia duduk. “Ang, aku mohon agar kita temenan kayak dulu lagi.” Dia bangkit, dan hanya tersenyum sinis,
“Anggi!” setengah teriak, dan hampir semua isi kelas melihat kami termasuk Harry. Dia sama sekali tidak menoleh dan keluar dari kelas. Suasana ini benar-benar tidak nyaman. Aku tidak suka! Aku kembali duduk di sebelah Mili. Mili menepuk pundakku.
“Sabar ya Yuki, suatu hari kita pasti bisa kembali seperti dulu.”
“Aku sedih melihat dia terus begitu Mili. Dia itu sahabatku, sama sepertimu. Dia sudah kuanggap sebagai saudara laki-laki yang tak kumiliki.”
“Kamu juga harus tahu Yuki, apa yang kamu pikirkan belum tentu sama dengan yang dipikirkannya. Dia menyukaimu, makanya mau selalu di dekatmu, baik padamu, selalu ada untukmu. Ternyata, kamu memilih orang lain, bukan dia. Pastinya dia kecewa berat, makanya dia tidak mau mendekat lagi padamu."
"Berilah waktu untuk menerima keadaan ini. Biasanya waktu selalu menjadi obat yang manjur untuk sakit yang tak terobati.”
Mili mengucapkannya dengan penuh sahaja. Semua yang dikatakannya memang benar. Mungkin hari ini belum bisa, semoga tak lama lagi dia memaafkanku, kami bertiga kembali seperti dulu lagi.
__ADS_1