
“Ki… cerita donk! Harry itu siapa?”
"Hmmm... hmmmm...."
"Ayooolaaahh..." desaknya.
"Tapi kamu jangan tertawa yaa, kalau aku cerita?"
"Ya tergantung..."
"Tuh kan, kamu aja gak mau janji untuk tidak menertawakan aku. Aku gak jadi cerita aja deh..."
"Aaahh...kamu ini tega bikin aku penasaran yaaaa?" deliknya.
"Tapi kamu janji dulu! untuk tidak menertawakan ataupun mengejek...!?"
"Baik laaaahhhhh... ayo buruan cerita!"
“Hemmm… sebenarnya Harry adalah satu-satunya nama pria yang ada di hatiku hingga saat ini”
“Oh ya? Apa aku kenal dengan dia?” aku hanya menggeleng. "Aku pikir kamu bukan tipikal penyuka lawan jenis," candanya.
“Yeee… enak aja?” ku cubit pinggangnya “gini-gini aku masih normal”
“Heehe.. abisnya, kamu gak ada lirik-lirik cowok, padahal yang lain sibuk mentengin cowok, kamunya kayak yang gak peduli, termasuk sama pacar kamu sendiri… eh iya… kamu kenal dia kapan?”
"Udah lama siih..."
"Dimana?"
“Lewat hape saja…”
“Terus sudah pernah bertemu belum?”
“Ya belum… aku di Padang, dia di Bandung. Bahkan wajahnya pun aku tak tahu”
“Masa hari gini masih tidak tahu wajah orang yang ada di dunia sosmed? Serasa masih zaman baheula gitu,” meledaklah tawanya.
“Iya, aku tahu. Sampai hari ini aku tak tahu wajahnya. Dulu dia bilang nggak suka difoto. Sehingga kami sepakat sama-sama nggak usah saling penasaran dengan wajah.”
“Tapi jika dia jelek gimana?”
“Ya, tidak apa Mil. Yang penting hatinya kan?”
“Oh… sekarang aku mengerti.. pasti karena ini kamu ngotot ikut study banding ini? agar bisa bertemu dengan Harry?”
“Ya… gitu deh… hehe”
“Jadi karena dia pula kamu tak bisa berpaling ke lain hati?”
“Iya”
__ADS_1
“Apa kamu berhasil menghubunginya?”
“Itu lah Mil… tadi sudah mencoba ke telpon rumahnya. Namun dia tidak ada di rumah” aku lihat Akel masuk ke Aula. Langsung menuju ke arah kami.
“Aku duduk di sini, boleh nggak?”
Aku dan Mili saling berpandangan dan kubisikkan “nanti kulanjutkan lagi” Mili mengangguk.
“Tentu saja boleh,” jawab kami serempak.
Selama seminar, aku tak bisa konsentrasi pada penjelasan dari Dekan Hukum Unpad. Yang ada dalam pikiranku hanya Harry… Harry… dan Harry…
Tiba-tiba aku digelitik oleh hape yang bergetar. Dan “BUAYA” menelepon. Aku beranjak keluar “halo”
“Ki, please! Beri aku kesempatan satu kali lagi?”
“Tidak bisa.”
“Kenapa begitu Ki? Nanti kita ketemu di tempat yang biasa ya?”
“Tidak bisa.”
“Oke, aku tahu kamu tidak bisa menerimaku lagi. Tapi anggap saja ini pertemuan antara teman biasa.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa tidak bisa terus?”
“Karena aku berada di luar kota.”
“Tuh kan? Itu saja kamu gak tahu. Katanya ingin jadi kekasihku, selama ini aku persiapkan keberangkatan untuk study banding ini saja kamu tak tahu”
“Mana aku tahu kalau kamu tak cerita?”
“Mana mungkin aku cerita kalau kamu tidak nanya? Gimana dengan pacarmu itu?”
“Aku gak tahu, aku tidak pernah menemuinya lagi.”
“Masa sih?”
“Iya! Aku berani sumpah?”
“Alaah, jangan coba kadalin aku lagi! Aku bukan wanita bodoh yang mudah dibohongi.”
“Sumpaaah! Aku gak bohong!”
“Kamu bilang tidak pernah menemuinya. Jelas-jelas kalian satu kampus. Mana mungkin gak pernah ketemu?”
“Itu, itu emang benar. Tapi itu kan beda lagi.”
“Kalau ada, juga gak apa kok!”
__ADS_1
“Heh, elu! Jangan sok jual mahal gitu deh!” Terang aku terkejut dia berkata kasar seperti itu.
“Jangan karena gue sayang ama lu, lu permainin hati gue. Gue mau nya sama lu, kenapa lu sok jual mahal?” Langsung kututup telponnya.
Ah, biar lah. Yang penting aku bisa bertemu Harry, dicaci atau dihina seperti apapun aku akan tegar. Aku kembali ke kursiku tadi.
“Kok lama?” tanya Mili.
“Ini, Aldi marah-marah padaku.” Beberapa saat kemudian, masuk sebuah pesan dari Feli.
Gimana ni, acaranya di Bandung?
^^^Lumayanlah^^^
Gimana ya Ki?
Barusan Aldi menemuiku, dan menanya kamu berada di mana.
Ya aku bilang aja kamu ada di Bandung.
setelah itu dia pergi aja dengan wajah kesal. Kenapa ya Ki?
^^^Aku juga gak tau^^^
Jaga kesehatan ya? Jangan lupa bawa oleh2 nya! ^_^
^^^OK.. thankz..^^^
Tak lama datang pesan dari BUAYA
Heh, gue tw lu ke Bandung... Mau nyari sugar Daddy ya? kenapa jauh2 amat? gue siap bayar lu jadi sugar baby gw...!
Makin kurang ajar aja ni orang.
“Ki, kamu kenapa? Kok kesal gitu?”
Seperti enggan melihat pesan barusan, sedikit kulempar hape itu di sebuah bangku kosong. Mili langsung mengambil HP itu dan membaca pesan nya.
“Kurang ajar banget tu orang?” ujarnya geram.
“Ada apa?” tanya Akel yang sejak tadi diam. Tanpa menjawab apa-apa Mili menyerahkan HP-ku dan membaca pesan itu.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Ini namanya meneror kamu.” Lalu tanpa izinku, dia langsung membalas pesan tersebut dengan geram. Aku tak tahu apa apa yang ditulisnya, dan datang lagi pesan yang mungkin masih dari Aldi. Dia kembali mengetik pesan dengan geram.
“Yukita, batraimu habis ya?” dan aku mengangguk tadi hanya sempat ngechas sebentar aja, buru-buru keluar nyari pulsa.
Kluarlah HP-nya dan langsung mengetik pesan. Sepertinya telah mengirim pesan, kembali datang balasan. Akel menyerahkan kembali HP-ku. Rencanannya akan kubaca kembali pesan tadi, tapi sudah gak ada lagi. Semuanya sudah kosong, seenaknya aja membersihkan chat orang ni anak.
Aku tak tahu apa yang ditulis Akel. Sementara Akel sibuk berbalas pesan dengan Aldi dengan geramnya. Wajah dinginnya semakin tampak menakutkan. Jika anak kecil melihat wajahnya, dijamin akan langsung menangis. akhirnya chat selesai, dia berhenti dengan sebuah senyuman kemenangan.
“Emangnya kalian ngomong apaan?”
__ADS_1
“Ah, Cuma say hello doang.”
Siapa yang percaya? “Ya nggak mungkin lah?” Wajahnya semenakutkan tadi Cuma ‘say hello’ doang? Namun bibir Cuma menyunggingkan senyuman smirk.