
Kembali “Misterius Boy Calling...” ku angkat “Halo...”
“Yukita, kamu menangis?”
“Tidak”
“Kamu menangis?”
“Tidak!”
“Katakan padaku! Kenapa kamu menangis?”
“Tidak!” padahal jelas suaraku serak dan air mata masih tak terbendung.
“Sekarang kamu dimana?”
“Aku tak tahu!”
“Maksudmu?” Aku hanya diam “Sekarang kamu dimana? Dari tadi aku, Mili dan Anggi terus mencarimu!”
“Aku bilang aku tak tahu, ini dimana?”
__ADS_1
“Apa kamu melihat sesuatu yang besar?”
“Di sini ada Mall yang gede.”
“Namanya?”
“Central Plaza”
“Haaa??? Kenapa kamu bisa tersasar jauh ke sana?”
“Tadi aku asal naik angkot.”
“Baiklah! Tunggu aku depan Central Plaza! Aku segera ke sana.”
“Dek, jangan nangis lagi ya? Udah sejak tadi Teteh perhatikan adek nangis terus. Putus pacar itu biasa? Kan masih sekolahan? Masih banyak yang mau jadi pacar kamu kok dek” aku dikejutkan oleh seorang pejalan kaki yang tampaknya seorang mahasiswa tiba-tiba mengajakku duduk.
“Makasih Teh.”
“Jangan nangis lagi ya?”
Semua orang di sini baik-baik dan dewasa ya? Orang yang tak dikenal selalu dianggap adik. Padahal mungkin orang itu lebih tua darinya. Ku bangkit dan bingung harus melangkah kemana. Semua orang mengira aku anak SMA yang baru diputusin pacarku. Kembali Misterius Boy Calling...
__ADS_1
“Yukita, kamu dimana? Aku depan pintu masuk Central”
Aku lihat ke arah pintu gerbang, dan aku lihat dia. “Aku di seberang.” Terlihat dia mencari-cari dan sepertinya dia menemui keberadaanku.
“Tunggu aku di sana!” dia langsung menyebrang menuju tempatku berdiri. Saat sampai, tanpa ngomong apa-apa dia langsung menarikku. Tapi, aku belum ingin kembali ke asrama dengan perasaan berkecamuk ini. Dia membalikkan badan dan memberikan sapu tangannya padaku, dan masih belum bisa menahan hujan di pelupuk mataku. Dia masih belum berkata apa-apa.
“Nah, ini adek yang nangis tadi kan? Masih nangis ya?” wajahnya prihatin padaku dan menatap laki-laki di sampingku dengan kesal “Kamu apakan adik ini? Dari tadi dia menangis terus. Kalau kamu Sakirin terus, dia bisa diambil orang lain lho?
Akel menatapku, “dia tersasar.”
“Oh, adik ini tersasar? Kamu siapa nya?”
“Udah dulu ya? Terima kasih udah perhatikan dia. Jangan panggil dia adik. Dia ini mahasiswa.”
“Masa sih? Palingan dia masih kelas dua SMA?”
Kembali Akel menarikku, dan jujur aku malu dan aku tetap mengikutinya. Dia mengajakku ke tempat dimana skuternya parkir. Dia langsung menaiki skuter, menyerahkan helm, tapi hanya diam yang bisa kuperbuat. Aku belum ingin pulang, aku butuh suatu tempat yang membuatku mampu melepaskan sakit ini.
“Ayo naik! Aku tahu tempat yang cocok untukmu.”
Mendengar itu, segera ku naiki skuter. Air mata masih belum bisa berhenti mengalir, dan kumenangis di pundaknya.
__ADS_1
Seandainya saja, dia mau berbicara denganku tadi, pasti dengan penuh semangat aku bilang ke dia, aku ada di sini, di Bandung. apakah kita bisa bertemu? Sebentar aja.. sebentar please.. Kalau kamu sudah punya pacar juga tak apa. yang penting bagiku sudah punya catatan, sudah bertemu denganmu, seorang yang sudah mengisi hatiku selama ini. hanya itu...hanya itu .. ku terus menangis dan berandai-andai di dalam hati. menangis di balik punggung Akel, yang tak bersuara sedikitpun hingga kami sampai di tempat yang dia katakan.