Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
bab 14 Ratu Bengong


__ADS_3

Untuk hari ini aku tidak bisa pulang bersama Mili dan Anggi. Aku merenung sendirian di halte sebelah gedung D. otakku bertarung dengan pikiran bisa ikut studi banding atau nggak bisa ikut? Tapi… aku ingin sekali ikut studi banding itu. Di Bandung ada seseorang yang hingga detik ini masih membekas dalam jiwa.


Jika aku minta ke ibu, pasti Ibu tidak akan mengizinkan karena keterbatasan biaya. Untuk biaya kuliahku ini adalah ibu sudah susah payah mencari pinjaman ke sana ke mari, ibu hanya seorang guru honorer yang sekedar dapat janji-janji yang tak pasti diangkat oleh pemerintah kabupaten. Di mataku, Ibu lah seorang pahlawan. My mother is the super hero in my life. Ayahku? Dulu ayahku adalah seorang pengusaha sukses, semua permintaanku selalu dipenuhi oleh beliau. namun waktu kelas tiga SMP, ayahku gulung tikar hingga ayah tak bisa merintis usaha baru.


Sekarang ayah mengurusi kebun milik keluarga yang berisi berbagai jenis buah dan kolam Ikan air tawar. Sementara hape yang kudapat pemberian saudara yang berbaik hati. Aku memiliki saudara perempuan satu-satunya, dan aku sangat menyayanginya. Aku panggil dia Uni April, dia mahasiswa matematika semester lima di Universita negri Padang.


Selama mencari pekerjaan, aku berpikir Ibuku mendoakan agar tidak mendapatkan pekerjaan yang sangat ku impikan. Beliau selalu mengingatkanku untuk selalu belajar dan belajar karena tidak bisa ikut Bimbel karena keterbatasan biaya, agar aku juga sukses untuk seleksi perguruan tinggi. Dan jadilah aku seperti sekarang ini.


Mengingat itu semua membuatku semakin tidak berani meminta uang yang begitu banyak pada Ibu. Apa aku bisa mendapatkan beasiswa? Jika dapat, apakah cukup? Entah sudah berapa Bis yang lalu-lalang di depanku, aku tak tahu. Yang menyadarkan ku ialah pesan dari Aldi. Isinya apa? Nggak usah tahu ya… urusan pribadi… hehehehe. Lalu masuk lagi pesan dari nomer yang tidak ku kenal


Eh… dari tadi melamun terus? Dasar ratu bengong…


Iiiih… siapa sih yang kurang asem banget? Aku perhatikan semua yang ada di sekitar halte bis sebelah gedung D itu. Di koridor tampak si kacamata menyandarkan tubuhnya di salah satu tiang di koridor itu dan tetap dengan datar dia terus memperhatikanku. Aku yakin dia yang kirim pesan itu. Nomer hape si kacamata itu memang belum ada dalam kontak hapeku. Karena teman-teman tidak berani minta nomer hapenya, jika ada yang berani minta ke dia pasti dijutekkin.

__ADS_1


“Kenapa nanya-nanya nomer hape gue? Mau lu isiin pulsa ya?” atau “gue nggak tahu berapa nomernya” atau dengan terang-terangan dia bilang “nomer gue nggak memerlukan nomer orang-orang yang nggak penting”


Entahlah… Akel… dia memang jenius dan aneh… aku hanya tersenyum simpul dan kembali menunggu bis. Ternyata sudah terlalu sore, ku lihat jam sudah pukul lima lewat lima belas. Waduh gawat…??? Bis operasional kampus pasti udah nggak ada lagi yang jalan karena bis beroperasi hingga jam tujuh belas nol-nol atau lima tepat. Sekarang aku memilki sebuah buku tempat curhatku. Sebuah diary mini yang sengaja ku beli untuk ini. Memang tidak banyak puisi di dalamnya, tapi yang ada dalam diary ini adalah puisi original buah tanganku sendiri.


Sendiri..


Di sini ku sepi..


Ditinggalkan bumi


Lalu ku masukkan kembali kedalam tas. Aku harus berjalan menuju rektorat agar dapat angkot, dan dari gedung D, rektorat sangat jauh. Ada jalan pintas lewat belakang perpustakaan pusat, tapi siapa tahu aja kalau lewat depan gedung F ada angkot yang lewat. Dan terpaksa berjalan sendiri…


Sambil berjalan kembali aku memikirkan apa yang harus ku lakukan agar mendapatkan uang? Mencuri? No way… aku ini calon penegak hukum tak mungkin menggunakan jalan melanggar hukum? Otak ku terus berputas “Cari kerja… cari kerja… cari kerja…” dan aku terkejut oleh sebuah sentuhan di pundakku.

__ADS_1


“Kamu ini gimana sih? Aku panggilin dari tadi juga?”


“Eh… Akel… sorry… nggak dengar…” hanya bisa sedikit tersenyum, kenapa wajahnya merona?


“Habis… bengong terus… hati-hati.. jangan suka bengong!!!”


“Kenapa belum pulang? Dari perpus ya?”


“Eh… iya… iya… dari perpus”


“Mau ke bawah ya? Bareng yuk!? Males jalan sendiri…”


“Oke…” dan kembali dengan wajah dingin.

__ADS_1


Depan gedung F, pucuk di cinta… ulam pun tiba… angkot lewat sana dan langsung kami naiki. Akel turun di kawasan Kapalo Koto, mungkin dia kos di kawasan itu. Kalau aku? Tentu langsung menuju simpang Anduring, setelah itu melanjutkan perjalanan naik angkot berikutnya dan turun tepat depan rumahku.


__ADS_2