
Kembali hanya terdengar suara kendaraan melintas. Cukup lama dia dalam berkendara. Akhirnya setelah lebih dari duapuluh menit berkendara, terdengar suara motor dimatikan. Ini sudah di rumah belum ya?
"Waahh.. kamu.. pacarnya Aldi kan?" suara lelaki yang tidak kukenal..siapa yang kali ini?
"Aldinya ada Bang?" suara gadis kali ini terdengar cukup tegas.
"Aldi.. hmm.. dia keluar sudah sejak tadi sih. Ada apa? Tumben sekali pacarnya mencari sampai ke sini?" jadi dia ke tempat Aldi?
"Akhir-akhir ini dia ngapain aja Bang?"
"Ngapain ya? Ya kurang tahu juga.. Bukannya kamu pacarnya? Masa nggak tau dia ngapain?"
"Ooh.. aku bukan pacarnya lagi Bang. Siapa tau dia lakukan hal aneh-aneh kan Bang?"
"Aneh-aneh maksudnya?"
"Ooh.. nggak jadi Bang. Aku balik aja lagi Bang.."
"Oh, ya uda.. hati-hati. Udah malam..!"
"Makasi Bang.."
Banyak sekali tempat yang dikunjunginya. Gara-gara hape ini, pakai acara ketinggalan segala. Malah membuat kekasih hatiku kebingungan. Tapi nasi sudah menjadi bubur, bubur ayam yang saat ini tengah aku nikmati.
tit
tit
tit
"Aldi..?"
"Ternyata beneran dicari.. hahahaha..."
"Kenapa kamu bohong?"
"Udah tau bohong, masih juga dicari. Dasar gadis bodoh! Daripada tanggung begini, mumpung lu ada.. Ayo ikut gue!"
"Heeeii.. kamu mau apa?" suaranya meninggi. "Lepaskan.." teriaknya. Apa yang sedang dilakukan bajingan itu pada Yukita?
"Ayo.. sini.. jangan malu-malu..!!"
"LEPAAAASSS..." seketika darahku ikut mendidih membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.
"Heeeii..apa yang lu lakukan pada dia..?" itu suara siapa lagi?
__ADS_1
"LEPAAASS.." Yukita terus berteriak.
"HEI.. Gadis itu minta dilepaskan!" ucap suara yang tidak kukenal.
"LU SIAPA? JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN GUE!" bangsat itu minta kuhajar saat ini juga.
"Pergi.. cepat larii..!" ucap suara laki-laki yang tidak dikenal tadi.
"Terima kasih!" ucap Yukita buru-buru. "Sial.. kenapa aku percaya sama perangkap buaya keparat itu?" terdengar umpatan dari mulutnya yang selama ini tidak pernah terdengar di telingaku. Motornya dinyalakan dan terdengar teriakan dari belakang.
"WOOOII.. KEMBALI KAU! GUE MAU KASIH LU PELAJARAN KARENA SUDAH MENCOBA MAIN-MAIN DENGAN GUE.."
Makin lama suara itu makin menjauh. Mungkin Yukita sudah menjauh darinya.
tit
tit
tit
Kembali terdengar suara klakson yang berbunyi bertubi-tubi.. Terdengar suara gesekan anginnya semakin cepat, dia kembali menggila mengendarai motornya. Seketika aku teringat saat dia bawa motor seperti orang gila dulu. Aku sampai susah untuk mengejarnya.
Klakson itu masih bertubi-tubi mengganggu pendengaranku. Apalagi dia yang terus dikejar si bangsat yang ingin segera untuk kucekik. Kayaknya sekarang saja. Sudah cukup. Aku matikan rekaman, terus kutelpon Anggi.
"Halo Ayah Mertua..!!" sapa yang di seberang panggilan.
"Kunyuk yang mana?"
"Siapa lagi? Yang menjadi penyebab Yukita seperti yang kalian lihat tadi!"
"Gue liat malah lu seneng kayak gitu?"
"Jangan alihkan pembicaraan dulu. Gue hanya butuh kepastian lu, kalau iya saat ini juga gue tunggu!"
"Dimana? Gue cuss sekarang juga!"
"Gue tunggu di depan kampus si bangsat itu. Kita kasih pelajaran saat ini juga!"
"Oke, tunggu gue di sana!"
Akhirnya tanpa berpikir dua kali lagi, aku tuju tempat yang kami janjikan. Kutunggu Anggi yang lumayan lama sampainya, karena tadi posisi dia jauh dari lokasi ini. Setelah dia sampai, akhirnya kami berdua mencari lokasi yang sering disinggahinya. Kami mendapat kabar dia sering main billiard, di area yang tidak terlalu jauh dari kampusnya.
Kami memarkirkan motor tepat di arena billyard yang lumayan elite di sini. Perlahan namun pasti, kami memasuki arena billyard yang lumayan luas ini. Mata kami mengedarkan pandangan ke seluruh bagian, mengecek dimana meja biru yang digunakannya untuk menyodok bola kali ini. Setelah sekian menit mencari, akhirnya aku menemukannya. Dia tengah berkonsentrasi memperhitungkan titik koordinat agar bola yang dia bidik, mulus masuk ke dalam pool di bibir meja bewarna biru ini.
__ADS_1
Ku tepuk pundaknya, namun dia hanya menepis telapak tangan tampa menoleh ke arahku. Dia terlalu serius dengan permainannya. Lalu kutunggu dia menyelesaikan permainannya dengan melipat tangan menunggu di belakangnya. Akhirnya dia menyodokkan bola, namun sodokannya hanya mampu sedikit menggeser bola-bola itu dari posisi semulanya.
"Shiit.." desisnya kesal. Lalu membuang muka karena amarah arah belakang, alangkah terkejutnya dia melihat kami berdua.
Melihat kami berdua yang sudah bersiap-siap ingin melahapnya, dia melempar stik yang tadi dipegangnya, dan mendorong kami berdua, setelah itu dia kabur. Tampak dia memberi kode ke kawan-kawan sepermaiannya lalu mencegat kami yang ingin mengejar laki-laki cemen itu. Beraninya main keroyokan.
Arena billiard itu seketika menjadi hiruk karena aksi kejar-kerjaran kami. Security seketika menghadang kami, "Kalian mau apa di sini berandalan tengik?" hardik security berbadan kekar terssbut.
Kami hanya tergidik melihat posturnya yang berotot, membuat kami semua lari tunggang langgang menuju luar arena. Di area parkiran, mereka semua mengepung kami berdua.
"Hahaha, kuat juga nyali lu mencari gue ke sini. Berani sekali kalian berdua mendatangi sarang harimau ini. Kalian mau mengantar nyawa ya ke sini?"
"Sarang harimau ya? heh.. kita lihat nanti harimau di sini seliar apa," kulirik Anggi yang sudah dalam ancang-ancang hendak menghajar orang.
...(anggap saja ini visualisasinya, susah nemukan gambar yang cocok)...
"Kalian pikir kami takut?" ucap Anggi dengan tubuhnya yang tinggi itu.
Ketika mereka mulai satu per satu mencoba menghajar kami, dengan segala kemampuan yang aku bisa menangkis dan memberikan serangan balik.
buk
buk
buk
plak.
plak.
Pukulan dan tendangan mendarat pada tubuh mereka, namun sesekali tendangan juga mendarat di tubuhku, mengenai ulu hati. Serangan terakhirku mendarat dengan melompat posisi siku menukik tajam di punggung kacung-kacung si bangsad itu.
Melihat semua anggota genk nya ambruk, Aldi tergopoh berlari untuk kabur. Sisa tenaga yang tak banyak, kupaksakan diri untuk menguras semua tenaga yang kupunya untuk mengejarnya.
Dia mencoba kabur menggunakan motor, tampak sebuah potongan balok yang lumayan besar, kupungut, lalu kulempar tepat ke arah motornya melaju. Motornya yang belum siap mendapat benturan balok itu, membuat dia oleng dan jatuh lumayan keras.
Langsung ku kejar, dan kuhajar. Kupukul rahangnya dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya.
"Lu apakan Yukita ha?" kembali kuberikan hadiah tinju ke ulu hatinya. Dia jatuh terbungkuk menahan sakit yang luar biasa di bagian perutnya itu.
Dia kembali mengangkat wajahnya, masih dengan senyuman yang menyebalkan. Perasaan kesal yang tak terbendung ini, akhirnya aku tarik kerah jaket jins yang tengah dikenakannya.
"Masih bisa tersenyum?"
__ADS_1
Si keparat itu meludahkan wajahku. Kembali pukulan ku arahkan ke wajahnya, sialan kampret..