
Lalu keluar yang tinggi dan besar, berkaca mata. “Kenapa anak kecil ini cari saya?” Sontak aku kaget dengan logat bataknya yang kental.
“Dia bukan anak kecil Har, kenalkan dia Neng Yukita!” lalu kami berjabat tangan. Waaahh, tangannya sangat besar dan segera kulepas jabatan tangan itu.
Kubisikkan pada Kang Hendri, “sepertinya bukan dia Kang? Kayaknya Hary yang kutahu tubuhnya sedang.”
“Selanjutnya, Hary kedua!”
“Muncul lagi seorang pria yang tubuhnya kurus tinggi. Rambutnya lurus semua, kalau aku bayangkan dalam imajinasi mirip Rock Lee temennya Naruto. Pasti Hary ini juga berkaca mata.”
“Kenalkan Har, ini teh Neng Yukita”
“Salam kenal dek, ada apa to?” dengan logat jawa yang sangat kental, menjabat tanganku sambil memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kepala. Ingin kulepas jabatan tangan tadi, tapi ditahannya.
Sepertinya Kang Hendri maksud dari tanda-tanda yang kuberi, bahwa dia juga bukan yang kucari. Menolongku melepaskan dari Hary medok itu.
“Hary yang ketiga, saya mohon ke sini bentar ya?” lalu muncul seorang pria dengan potongan rambut harajuku, sedikit ikal, tingginya kira-kira 170 sentimeter dan pasti berkaca mata.
“Ada apa atuh neng?” tanya orang itu dengan dialek Sundanya. Apakah dia orang yang kucari? Hary yang tak lepas dari seorang cewek cakep di sampingnya?
“Eh, ngapain elu nyari-nyari cowok gue?”
__ADS_1
“Maaf mbak!?” langsung ku tarik Kang Hendri dari tempat itu.
“Aya naon neng? Apakah Hary yang ketiga yang neng maksud?”
“Aku gak tahu Kang,” dengan refleks air mataku jatuh.
“Kalau Hary yang ketiga itu yang neng maksud, mending gak usah neng?”
“Kenapa Kang?” air mataku teris menitik di pipiku.
“Jangan nangis ya neng? Dia itu tak baik. Ceweknya tadi bernama Tika. Tika itu dulu pacarnya Hary yang lagi cuti neng. Setahu aku, pacarnya yang lama bernama Hary dulunya begitu menyayangi si Tika itu. Kebetulan Tika itu sudah jadi pacarnya Hary yang tadi.”
“Ada Hary yang lain lagi Kang?”
Tapi tak tahu kenapa, hatiku begitu sedih. Mungkin aku tak siap untuk menerima kenyataan ini, jika Hary yang ketiga tadi adalah Hary yang kucari, sekarang aku harus berbuat apa? “Kang, ke Dipati Ukur aku harus bagaimana?” aku bertanya, namun aku tak mengerti dengan penjelasan Kang Hendri, otakku sibuk bergelut dengan kesedihan dan perasaan sia-sia. “Terima kasih ya Kang?”
“Beneran tidak apa-apa neng? Apa perlu Akang anter ke sana?”
“Tidak usah Kang, aku bisa pulang sendiri kok.” Padahal aku sama sekali tidak mendengar mesti naik apa saja menuju kampus tempat teman-temanku berkumpul.
“Neng, bukan ke sana? Tapi ke sana!” tiba-tiba dia dihampiri oleh temannya.
__ADS_1
“Ada apa Bro?” temennya memperhatikanku, beberapa waktu dia seperti berpikir.
“Ini ada yang nyari Hary Bro.”
“Hary? Hary yang mana?” tanya temannya itu, Kang Hendri hanya mengangkat bahu. tampak temannya terus memperhatikanku kayaknya sambil mikir.
“Eh iya, makasih ya Kang?” kutinggalkan mereka dengan obrolan mereka.
Entah mengapa hatiku terus memaksa untuk kembali mencoba menghubunginya. Kukeluarkan hape, lalu ku cari kontak rumahnya.
“Halo,” di seberang terdengar suara laki-laki muda.
“Bisa bicara dengan Hary?”
“Oh, temennya A’ Hary?”
“Iya..”
“Aa’ lagi tidur Teh, kalau di rumah Aa’cuma tidur, main pe es, tidur, main pe es, kalau tidak dia ngidupin MP3 dengan volume luar biasa bising” kami tertawa.
“Bukannya dia lagi di kampus?”
__ADS_1
“Tadi pagi dia emang di kampus, tapi udah pulang sejak tadi kok Teh. Kalau gitu, apa perlu saya panggilkan?”