
"Harry?" Di hadapan kami tengah berdiri seorang wanita yang tinggi dan cantik. Dia yang sejak dahulu terus memaksaku untuk menerima cintanya.
"Siapa dia Aa?" tanya Yukita, istriku.
"Mesra sekali kalian?" sindirnya dengan nada yang tajam.
"Udah, ngga usah ladeni!" Kembali kurangkul istriku meninggalkan Vonny. Dia menatap kami sambil bersedekap dada.
"Siapa dia Aa?"
"Oh, dia bukan siapa-siapa."
"Hey kau wanita pembohong!" Suara Vonny menggelegar dengan sangat lantang.
Aku terus mengajak Yukita pergi, namun dia memilih untuk berhenti melihat apa yang sedang diinginkan wanita ini. Memandang dengan wajah heran dan ingin tahu.
"Katamu kalian tidak ada hubungan apa-apa! Namun, kenapa kau tetap merebutnya dariku hah?" Vonny seolah tidak peduli akan tatapan orang lain yang terus memperhatikannya.
Yukita melihat ke arahku. Lalu melihat sisi lain. Dengan heran dia bertanya kepada Vonny, "Kamu bicara dengan aku?"
"Iya ... siapa lagi hah? Dasar wanita munafik!"
Yukita gemetar mendengar ucapan Vonny. "Kamu tak perlu mendengarkan dia Sayang. Kita lanjut nonton bioskop saja!"
"Tapi ... tapi dia siapa Aa?"
Vonny seperti jengah melihat istriku. Menyunggingkan senyum sinisnya menatap kami dengan nanar.
"Akting apa lagi kali ini? Dulu lagakmu tidak memiliki hubungan apa-apa. Namun nyatanya? Kau malah menahan dia untuk tidak kembali selama dua tahun di sana. Dasar wanita licik!"
"Li-li-licik?" Tubuhnya kembali gemetar.
"Apa lu sudah puas membuat istri gue ketakutan seperti ini?"
"Hah, istri ya? Dia menjebak dan memaksamu untuk menikahinya? Menjebak dengan jalur grebekan. Dasar! Siasat wanita kampungan sia--"
"Sekali lagi lu mengatakan hal yang buruk terhadap istri gue, gue nggak akan segan, untuk membuat lu menyesal. Cam kan itu!" Aku tarik Yukita. Kakinya masih berat berpijak pada lantai bangunan ini.
__ADS_1
"Aa, siapa dia Aa? Kenapa dia bilang Yuki merebut Aa? Apa Yuki pernah jadi selingkuhan Aa?" Matanya sudah berkaca-kaca menatapku dengan wajah sedih. Tiba-tiba aku kembali teringat kala Vonny menariknya, sebelum semua kujelaskan. Dia mengira sebagai selingkuhanku di antara aku dan Vonny.
Aku peluk, dan kuusap air matanya. "Dia sedang bohong. Kamu tak perlu memercayai dia." Dia mengangguk seperti biasanya. Sikapnya ini yang membuatku selalu luluh.
"Aa hanya mencintaimu Sayang."
"Yuki juga cinta sama Aa."
"Kalau gitu, ayo kita nonton bioskop?" Dia menggeleng. "Lhoh, tadi katanya mau nonton?"
"Udah nggak mau lagi Aa. Yuki hanya pengen jalan-jalan keliling mall aja Aa."
"Hmm ... yakin nggak mau nonton film?" Dia mengangguk pelan. "Ya udah, ayo kita muter-muter aja. Sekalian olah raga."
Kami berkeliling pusat perbelanjaan ini. Dia melihat pakaian-pakaian bayi di sebuah toko. "Kenapa melihat ini?" tanyaku heran.
"Terlihat lucu aja."
Aku tarik lagi untuk berkeliling, melihat stand mainan anak. Ada apa dengan istriku? Kenapa dia selalu tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan bayi.
Apa jangan-jangan dia lagi hamil kah? Hmmm ... kayaknya kami harus ke toko obat. Membeli test pack dulu. Biar nanti bisa meminta dia untuk mencobanya di rumah.
"Sayang, kita beli testpack yuk?"
"Apa itu?"
"Kita beli dulu. Nanti Aa jelaskan." Dia hanya kembali mengangguk.
Setelah selesai urusan di apotek, aku ajak kembali dia berkeliling. Kami melewati area makanan. Tatapannya panjang melihat ke arah sana. Aku tarik, dia menggeleng.
"Ayo kita makan!" Dia kembali menggeleng. "Mau makan apa?"
"Yuki mau sate padang yang dibuat sama Etek yang deket rumah itu lho Aa?"
"Kalo sate padang yang ada di sini aja gimana?"
Dia menggeleng, "Boleh kita ke Padang dulu sebentar nggak Aa?"
__ADS_1
"Kalau ada uang mah, di sana lama-lama pun pasti gak apa. Masalahnya Aa belum kerja ni Sayang. Jadinya kita nggak bisa kemana-mana."
Dia melepas genggamanku. Wajahnya cemberut. Melihat bangku yang tersedia, lalu duduk membuang muka karena marah. "Kita beli satenya di sini aja!"
Dia tidak mengubris. "Kamu kenapa marah begitu?"
"Habis, Yuki maunya yang itu."
"Tapi jauh!"
Dia tertunduk, lalu membelakangiku. "Mau ngambek? Bagaimana pun itu tidak mungkin. Mencari sate ke Padang saat ini juga."
Dia hanya diam tanpa kata. Aku berjalan berjongkok tepat di hadapannya. "Kamu menangis?"
"Abis Aa peliiit." ucapnya meneteskan air mata.
Apa dia bener-bener hamil ya? Kenapa semenjak tadi meminta hal-hal aneh terus? Jadi kalau tidak dapat perasaannya malah menjadi kesal. Pernah baca juga sih, kalau perasaan ibu hamil lebih sensitif dibanding biasanya. Aku melihat sendiri Yukita sangat begitu sensitif.
"Bukan pelit ah. Hanya semua hal itu tak dapat dituruti. Contohnya permintaanmu saat ini. Minta beli sate ke Padang saat ini juga. Kamu sendiri kan udah tahu. Keadaan keuangan kita saat ini sangat minim. Jadinya belum bisa untuk sering bolak-balik ke tanah asalmu. Itu gak semudah membalikan telapak tangan lhooo?"
Dia membuang maukanya. Terlihat bahunya bergetar hebat. Tangisnya semakin menjadi. "Aa jahat!"
Dia bangkit berjalah cepat meninggalkanku yang masih posisi berjongkok di hadapannya tadi. Apa aku keterlaluan ya? Yukita menunjukan tanda kehamilan mendekati angka sembilan puluh persen. Sebaiknya dia aku ajak pulang terlebih dahulu saja. Sebelum melihat hal lain, lalu diminta lagi yang langsung dibeli di sana.
💖
Dengan susah payah, aku membujuk istriku untuk tidak marah lagi. Menjanjikan semua akan dibeli di sana apabila memiliki banyak uang. Akhirnya dia mau menurutiku. Sampai di rumah, aku langsung memintanya untuk menggunakan alat testpack ini.
"Kamu tau ini apa?" tanyaku pada Yukita. Dia menggeleng. Kemudiam aku baca petunjuk pemakaiannya. Ternyata dibasahi oleh air seni. Tak lama hasilnya akan langsung keluar.
"Ini kamu rendam dengan air seni ya? Nanti hasilnya akan keluar dengan otomatis. Kalai haris merahnya hanya satu, itu tandanya masih belum. Tetapi, jika ada dua garis merah, itu tandanya udah."
"Air seni?" tanyannya dengan wajah bingung. "Ini disiram sama airnya aja?"
"Direndam sayaaang!"
"Oh, kalau gitu Yuki coba dulu ya?" Aku mengangguk menunggu cukup lama.
__ADS_1
"Udah belum?" tanyaku kepada yang di dalam kamar mandi.
"Garis merahnya cuma satu Aa." teriaknya dari dalam.