Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Bab 52 Puzle


__ADS_3

Aduh...aduh.. jangan dulu..jangan dulu...belum siap..kemarin aku baru saja merasakan patah hati yang hebat “Ka..kalau gitu bawa motor hati-hati donk!” jawabku sedikit salah tingkah, matanya terus merasuk makin dalam menatapku. Dia mengangguk pasti dan kembali ke kemudi dan melaju. “Sebenarnya kita mau kemana sih? Kok belum sampai juga ke tempat makannya?”


“Aku ingin mengajakmu ke tempat makan yang asik,” jelasnya kembali dengan gayanya yang tak biasa. “Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu.”


“Apaan sih? Bikin penasaran saja?”


“Tapi kita makan dulu.”


Apaan si Akel ini? Dari tadi ngomong ingin jelaskan sesuatu, tapi disuruh makan dulu. Kenapa harus makan dulu? Bilang saja sekarang kenapa coba? Jangan-jangan dia mau bilang suka padaku? Hahahaha... tidak mungkin. Itu cewek yang tadi pagi cantik luar biasa saja ditolak, jadi suka sama aku rasanya sesuatu yang tidak mungkin.


Akhirnya kami sampai di tempat makan, yang tempatnya benar-benar telihat enak. Area perbukitan dan tampak lembah yang sangat indah. Di balik lembah, tampak lagi rangkain bukit-bukit saling bergandengan.


“Ini dimana Kel? Bagus banget.”


“Kamu suka?” Aku mengangguk senang dan dia tampak ikut senang. “Kamu mau makan apa?”


Ku buka menu makanan, mataku langsung terbelalak tak percaya “Mahal banget Kel?”


“Pilih saja!” cetusnya.


“Aku nggak biasa makan kayak gini.” Ku buka tas, ku cek recehan yang sisa di dompet.


“Udah, aku yang traktir!” pandanganku langsung mendelik seolah tak percaya “Iya..bener! aku yang traktir!”

__ADS_1


“Tapi ini mahal lho?” dia hanya menepuk-nepuk kantong celananya yang mungkin isi dompet dan acungkan jempol. Lalu mataku lama memilih, sengaja aku memilih makanan dan minuman yang paling murah. Aku tak ingin membebaninya.


“Yakin cuma itu?” dia mengernyitkan kening. Aku mengangguk pasrah. Tapi ternyata dia malah memesankan menu lain untukku. Selagi menunggu hidangan sampai, kuperhatikan dia duduk cukup gelisah. Ini hal yang baru kulihat, sebelumnya dia tidak memperlihatkan ekspresi apapun, mukanya selalu datar hingga susah dibaca.


“Kenapa Kel?”


“Hmmm... enggak...” lalu pikirannya entah kemana lagi.


“Ngomong-ngomong kamu mau jelasin apa? Jangan-jangan gara-gara itu kamu gelisah?” Dia hanya tersenyum kaku.


“Sebenarnya aku harus menjelaskan semua ini sejak dulu padamu, tapi...” dia berpikir lagi “Lebih baik kamu makan dulu. Pasti sudah laper kan?”


Kuputuskan hingga dia tidak memulainya sendiri, aku tidak menanyakannya lagi. Kunikmati makanan yang asing di lidahku itu. Dalam hati berkata, kalau makan ikan asin, sayuran direbus, dan sambel tomat pasti lebih enak dengan melihat pemandangan indah ini.


“Kamu kenapa?”


“Kita cari tempat yang tenang yuk?” dia bangkit menuju kasir dan kami menuju taman.


Pemandangan yang tadi terlihat sempit, sekarang tampak lebih luas. Kuhirup nafas dalam-dalam hingga memenuhi rongga paru-paruku. Kulihat kembali ke arah Akel, dia memperhatikanku dan tersenyum. Baru kusadari, pangeran dingin itu tampak sangat tampan saat tersenyum. Karena dia jarang sekali tersenyum. Kudekati dia dan duduk di sebelahnya.


Lama dia hening menerawang pemandangan di sekeliling. tampak masih memikirkan sesuatu, lalu Dia pindah posisi duduk di depanku. Menatap lurus ke wajahku. Aku bisa melihat seluruh bagian wajahnya dengan jelas. Ternyata matanya cukup sipit, melihat kedua bola matanya melihatku tiba-tiba suhu tubuh terasa panas.


“Apaan sih Kel?” kembali aku jadi salah tingkat membuang pandangan ke arah yang lain. Kulirik lagi, ternyata dia masih lurus melihatku dan memperhatikanku. Ada apa dengan dia akhir-akhir ini? Apa kata kawan-kawanku benar? sebenarnya dia menyukaiku. Tapi bukan kan dia selalu mengatakan mencintai kekasihnya? tmTerus kucoba tata hati biar tidak terlalu berharap.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak mengenalku?” desisnya nyaris tak terdengar.


“Apa? Kenal?” tanyaku memastikan.


“Kamu tahu nama panjangku?”


“Tahu laah, sudah berapa lama kita kenal?”


“Sebutkan!”


“Apanya?”


“Nama panjangku!”


“Akel Haryendra? Lalu?” ini membuatku semakin heran.


“Perlu kamu tahu, panggilanku di rumah adalah Hary.” Sontak aku kaget, otakku seperti merangkai puzle-puzle yang masih samar dalam benak. “Satu yang perlu kamu tahu, betapa bahagianya aku saat tahu kamu mencari seorang bernama Hary hingga ke sini.”


“Dari mana kamu tahu? Aku tak pernah menceritakannya padamu.”


“Itulah...” dia tertawa kecil “seharusnya kuceritakannya padamu sejak dulu. Tapi selalu tidak ada kesempatan.”


“Cerita apa Kel? Dari tadi kamu membuatku bingung.”

__ADS_1


Akel mengeluarkan handphondnya, membuka kontak hapenya dan memperlihatkan padaku. “Kamu mau tahu ini siapa?” menunjukkan kontak bernama ‘ayank’ aku masih mencerna ucapannya dalam diam. Dia menekan tombol telephone, tak lama ternyata hapeku yang berbunyi.


__ADS_2