
Waktu berputar sangat lama berada di rumah sakit ini. tapi semakin lama kondisiku terasa semakin baik. Aku sudah bisa berkomunikasi dengan Ibu, Ayah, Uni, Dokter, perawat dan siapa saja yang mengajakku berbicara.
“Pak Dokter, kapan aku bisa keluar dari rumah sakit? Aku sudah jenuh…”
“Sabar… kamu msih harus dirawat. Ini adalah untuk kedua kalinya kamu diserang sakit Tipes ini. jadi sekarang kamu harus dirawat hingga benar-benar sehat. Sebenarnya Bapak sempat cemas waktu Ibumu mengatakan kamu pernah dirawat karena Tipes sebelumnya, bapak takut jika tubuh kamu mengalami komplikasi menahan panas yang tinggi. Untung saja kamu bisa melewati masa kritis.”
“Emangnya masa kritis yang saya alami seperti apa si Pak? Kok saya tidak ingat ya?”
“Haha…” lalu dokter ramah itu duduk di kursi samping ranjangku “Tentu saja kamu tidak ingat… kamu tak sadar selama lima hari. Dan itulah masa kritismu. Selama empat hari kamu selalu saja mengigau, dan suhu tubuhmu mencapai empat puluh satu derajat”
Ha? Segitunya? Yang aku tahu suhu tubuh normal manusia ialah tigapuluh enam derajat celsius, saat suhu tubuh tigapuluh sembilang derajat saja aku sudah tak sanggup berdiri dan pusing bukan main.
“Pak dokter, apa waktu itu ada kemungkinan aku bisa meninggal dunia?”
“Tahu nggak? Bapak pernah mendengar kamu mengigau berkata ‘gelap-gelap’ apa kamu tidak ingat?”
“Benarkah Pak?” aku jadi takut, biasanya itu igauan orang yang mau meninggal.
“Haha… bapak Cuma becanda. Dengan suhu setinggi itu akan merusak sel darah merah. Dan itu tergantung dengan daya tahan tubuh. Jika lemah, bisa saja meninggal dunia setelah empat hari tidak sadarkan diri. Jika dalam empat atau lima hari bisa sadar dan suhu tubuh menurun, kamu akan sembuh dan Insya Allah tidak akan diserang penyakit ini lagi.”
“Oh… syukurlah Pak… saya jadi ngeri membayangkannya. Jadi tidak akan diserang sakit ini lagi kan Pak?”
__ADS_1
“Insya Allah… tapi kamu tetap jangan terlalu letih. Jika kamu kelelahan sedikit saja, suhu tubuh kamu akan langsung naik”
“Kalau kuliah, nggak apa-apakan Pak?”
“Usahakan jangan sampai terlalu lelah”
“Tapi pak… jika saya tidak lelah dan bekerja sampingan bagaimana Pak?”
“Nyawa yang diberikan Allah hanya satu, Nak… jadi kamu harus jaga karena tidak ada yang akan menggantikan nyawa yang telah diberi oleh Allah…”
“Berarti nggak boleh kerja sambilan ya Pak?”
Dokter itu mengangguk mantap. Oh Tuhan… berarti aku tidak boleh bekerja lagi? Apa lagi yang harus ku lakukan untuk menambah tabunganku itu?”
“Apa kamu tahu berapa banyak orang yang berada di sisi mu?”
“Hemmm… saya hanya merasakan seseorang yang menangis dan menggenggam tangan saya Pak.”
Lalu dokter tersenyum dan langsung berdiri “Mungkin yang kamu rasakan adalah keberadaan seorang yang memiliki perasaan yang sangat dalam padamu.” lalu dokter itu tersenyum menggodaku.
“Ya udah… bapak mau periksa pasien bapak yang lain. Kamu istirahat saja! Jangan terlalu banyak berfikir."
__ADS_1
“Baik Pak… terimakasih Pak.”
Lalu Dokter keluar dari kamarku, dan menyisakan tanda tanya besar dalam otakku, siapakah gerangan yang menemaniku?
Kembali kesepian… di ruang rawat rumah sakit kampus kami yang terus berbenah.
Uniku belum datang karena masih terlalu pagi. Uni datang sekitar pukul sebelas setelah membersihkan rumah, mencuci baju, piring dan memasak.
Jika Ayah, sangat jarang datang ke rumah sakit. Karena beliau memiliki penyakit tak betah di rumah sakit, jika dipaksakan beliau akan mual dengan bau rumah sakit bahkan Ayah bisa ikut-ikutan sakit, jadi beliau lebih memilih melanjutkan merawat ladang keluarga kami. Kalau Ibu? Tentu saja harus mengajar di sekolah yang sangat jauh.
Oh sepi menemaniku…
Kursi menemaniku
Meja menemaniku
Sendu menemaniku
Tanda tanya menemaniku
Oh..
__ADS_1
Aku akan bahagia
Jika makhluk Tuhan yang menemaniku