
Sekarang aku akan kembali menghadapi pertempuran akhir semester. Untuk semester ini, aku ingin nilaiku meningkat barang Cuma nol koma satu dari kemaren. Kalau berhasil, aku tak perlu bekerja terlalu lama agar bisa sampai Bandung dengan hasil jerih payahku sendiri. Aku harus tetap semangat, walau semakin lama diriku semakin kehilangan tenaga dan stamina… tapi, aku harus tetap kuat…
Hari terakhir ujian semester dua, kepalaku terasa sangat sakit, dan aku harus kuat… hanya tinggal satu mata kuliah yang harus aku hadapi. Dan sebentar lagi ujiannya akan dimulai. Jangankan berjalan, berdiri saja rasanya aku sudah tak sanggup lagi.
“Yuki… lebih baik pulang saja! wajahmu pucat sekali… Ang anter pulang ya?” dengan khawatir dia terus menyuapkan potongan roti padaku.
“Nggak Ang… ini kan tinggal satu mata kuliah lagi. Aku yakin ujian Hukum Tanah Adat ini akan berhasil. Tapi mau kan, anterin Yuki ke ruang ujian?”
“Tapi Yuki… lebih baik kamu pulang…”
__ADS_1
“Jangan terlalu cemas gitu deh Ang… Anterin ya?”
Dengan setengah hati Anggi mengantarkanku dengan motornya ke ruang ujian yang ada di kelas bersama. Kepalaku begitu sakit dan ku sandarkan di bahunya, jika ditegakkan rasanya dunia ini jadi kabur dipenuhi warna putih dalam pandanganku.
Akupun tak ingat kenapa Akel bisa duduk di sampingku. Selama ujian berlangsung dia selalu menengok ke arahku dengan wajah cemas, karena dia sering melirik ke arahku, membuatnya seringkali mendapat teguran dari dosen pengawas. Dan setiap melirik itu pula aku memberikan senyuman untuk meyakinkannya “aku pasti bisa menyelesaikannya.” Dengan sedikit kesulitan menghadapi ujian dengan siksaan ini, aku mampu menyelesaikan semua soal yang ada.
Aku kembali mengambil tas, namun kepala ku semakin sakit, makin lama dunia seolah-olah berputar-putar. Makin lama, putaran itu semakin kencang dan membuatku terduduk di atas kursiku tadi. Aku berusaha memijit kepalaku tapi semuanya tak berhenti berputar di kepalaku, malah menjadi semakin dahsyat dan tak bisa lagi ku tahan membuatku rebah dan tak terasa tubuhku semakin lama semakin condong ke bahu Akel dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi, yang terasa sepasang tangan menyentuh pipiku
“YUKITA…???”
__ADS_1
Dan benar-benar tak bisa ku ingat lagi. Semuanya menjadi gelap… dalam kegelapan itu, aku brmimpi semua temanku mengelilingiku dengan semburat penuh kecemasan…
💖💖
Dalam kegelapan itu, ada sebuah lentera yang selalu menemaniku berjalan mencari sebuah cahaya untuk ku singgahi. Aku berada di mana? Kenapa aku sendiri di sini? Tak ada yang menemaniku… kemana semua orang?
Akhirnya… setelah sekian lama mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu, aku menemukan sebuah pintu. Pintu itu tertutup begitu rapat… dan aku tahu… pintu yang tak mampu ku buka. Aku tak bisa membukanya, dan terus ku coba untuk membukanya. Ingin ku gunakan kedua tanganku untuk menarik kelopak mata agar bisa terbuka, namun semuanya terasa begitu berat. Tanganku tak bisa ku angkat… tanganku seperti ditimpa beban beratus-ratus kilo sehingga aku tak mampu menggerakkannya walau Cuma satu jari saja. Setiap mencoba mengangkat tangan kiriku, aku selalu merasa ngilu dan sakit. Tangan kiri tak lagi ku paksakan.
Aku masih berusaha mencoba mengangkat tanganku dan mencoba membuka mataku. Dan ada sebuah sentuhan lembut, dan terasa menggenggam tanganku di kedua telapak tangannya. Aku tak tahu siapa yang saat ini meneteskan air mata untukku, dan butiran itupun terasa begitu hangat hingga ke sukma. Kembali ku coba membuka mata, dan masih tak mampu ku buka… ini… membuatku lelah… dan tertidur…
__ADS_1