
Usai mata kuliah kali ini, tanpa babibu kulihat dia menyelonong keluar tanpa bicara apa-apa padaku. Dia seperti memikirkan sesuatu yang berat. Ku terus memerhatikanya dari kejauhan. Duduk di halte menunggu bis untuk turun. Kembali merenung, eehh.. itu ada bis. Aku hendak mengejar bis itu, tetapi dia masih dalam keadaan duduk merenung. Kira-kira apa yang dipikirkannya. Apakah tentang pembicaraan studi banding ke Bandung dan Semarang tadi?
Kalau merasa terbebani, tidak ikut kan tidak apa. Tidak ada paksaan semuanya harus ikut. Seandainya aku punya kekuatan bisa menerawang pikirannya. Aku bisa memberikan solusi dari apa yang dia pikirkan. Lama dia duduk termenung di sana, entah sudah berapa bis operasional yang lewat namun dia tak jua bergerak. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan waktu lewat masa bis operasional. Tunggulah sebentar lagi, mungkin dia akan sadar sendiri.
Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Lalu kuketik sebuah pesan padanya, kukirim. Nomornya sudah kumiliki sejak pendataan nomor hape semua teman kelas.
^^^Eh… dari tadi melamun terus? Dasar ratu bengong…^^^
Terlihat dia kaget menerima pesan yang kukirim. Raut wajahnya kesal membacanya. Tapi tuh anak belum juga bergerak. Wah, kayaknya ketahuan aku yang mengirim. Biarlah, agar nomorku disimpannya. Aduh, masih juga belum bergerak “Yukita! Yukita!” eeh dia kok malah menulis dulu? Bentar lagi kemalaman nih. Tiba-tiba dia memasukkan catatan dengan buru-buru dan jalan dengan cepat menuju ke bawah. Ni anak, udah ditungguin malah main ninggalain gitu aja.
“Yukita..!” namun tak digubrisnya, setengah berlari mengejarnya. Aku sentuh pundaknya pasti dia melamun lagi, dan dia sangat terkejut.
“Kamu ini gimana sih? Aku panggilin dari tadi juga?”
“Eh… Akel… sorry… nggak dengar…” lagi dia tersenyum seperti itu, senyuman yang membuatnya semakin cantik, tapi cukup padaku saja senyummu itu, hanya untuk aku ya? Jangan ke orang lain?
“Habis… bengong terus… hati-hati.. jangan suka bengong!!!”
Kembali dia berikan senyuman manisnya, membuat jantungku berdebar, ini melebihi rasa yang pernah kualami dulu pada Tika, aaahh... rasanya mau meledak. Ingin sekali mengucapkannya, Ini aku.. Ini Harry.. Harry yang mencintaimu, yang selalu mencintaimu, selalu ingin bersamamu...
"Kenapa belum pulang? Dari perpus ya?” tanyanya.
“Eh… iya… iya… dari perpus.” jelas aku menunggumu, agar aku tahu bahwa kamu baik-baik saja.
“Mau ke bawah ya? Bareng yuk!? Males jalan sendiri…” pinta nya. Tidak diminta pun, aku akan menemanimu.
“Oke…” dalam hatiku berharap angkotnya lama, biar waktu ini bisa kami nikmati. Jiaah, ternyata cepat sekali ketemu angkot. Yasudahlah.. biar Yukita tidak kelaman di jalan, ini juga sudah mau maghrib.
Sebenarnya aku ingin sekali mengantarkannya langsung ke rumah agar lebih aman. Tetapi aku belum memiliki kendaraan dan belum hapal wilayah sini. Lain kali ya, nanti aku pastikan kamu sampai di rumah kamu dengan baik.
__ADS_1
***
Seminggu kemudian kulihat dia pontang-panting bolak-balik kampus-kios, tempat dia kerja part time. Kadang kasihan melihat dia sesibuk itu. Hanya saja aku masih belum mendapat jawaban jelas kenapa dia sampai segitunya. Jika saja apa yang kusangka itu benar, dia benar-benar ingin mencariku, sampai harus bekerja demi uang yang tak sedikit itu, pasti sudah kularang sejak awal.
Karena dia tak perlu hingga sampai sebegitunya kerja keras mencari uang. Tapi masalahnya, jika bukan karena aku bagaimana? Entah dia mengingatku atau tidak, menyimpan nama Harry apa tidak. Seandainya dia hanya ingin ikut jalan-jalan ke Bandung dan Semarang saja bagaimana? Betapa malu rasanya sudah ge-er duluan, jadi tentu Aku tak dapat melarangnya. Besok aku ingin mengatakan dengan sejujurnya padanya. Akan kutemui dia di tempat kerjanya.
esoknya
Cukup lama menunggu kios itu hingga kelihatan agak sepi, ku menunggu di seberang jalan. Tepat di depan Tempat dia bekerja, entah kenapa di sana selalu ramai. Kadang kudengar komentar dari pembeli,
“Yang jaga orangnya lucu. Lucu kalau aku jadiin pacar,” mendengar itu rasanya tak tonjok aja.
Emang Yukita apa gitu kayak beli boneka aja gampang dimiliki? Mentang-mentang lucu, seenaknya aja bilang dijadikan pacar dia. jelas Yukita itu buatku, bukan buat orang lain.
Waah, udah agak sepi.. eeh, ada lagi yang datang? Siapa itu? Kenapa dia sampai masuk ke dalam? Kembali duduk menunggu, tapi kenapa orang itu lama sekali di dalam? Rasanya tak sabar, ingin menarik orang itu keluar. Tapi kelihatan ada yang lain antara mereka? Tetapi kenapa dengan lelaki seperti itu? Apakah mereka pacaran?
“Kak Akel kenapa? Kok sedih gitu?” ternyata Vina sudah pulang dari sekolahnya.
“Haha, enggak kok Vin? Sekarang ada pe-er apa?”
“Ini kak, ada pe-er fisika. Susah banget. Kak, ajarin aku ya?”
“Oke, saya ke atas dulu sebentar ya?”
“Oke kak!” mengacungkan jempolnya. Ku cuci muka, membasuh kepala membuang suntuk gara-gara hari ini hanya mendapat sesuatu yang buruk. .
Hah, gadis itu.. sampai kapan aku harus menunggu lagi? Kuturuni tangga kembali ke posisi Vina tadi. Mengajarkan materi fisika yang katanya sulit, tapi menurutku enteng. Soalnya itu adalah makanan sehari-hariku sewaktu di elektro dulu. Hanya saja otakku yang tengah suntuk membaca soalnya membuat kepalaku makin pusing. Tapi harus tetap bantu Vina, semoga segera selesai tugasnya.
“Assalamualaikum,” Remon masuk ke kos. Dia baru saja pulang kuliah.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab kami.
“Wah, Vina.. rajin sekali belajar ya?” sapanya dengan ramah.
“Iya ni Bang, soalnya enak belajar sama Kak Akel. Padahal jurusannya Hukum, tapi dia pinter juga matematika dan fisikanya.
“Iya, Abang juga sering belajar bareng sama Kak Akel kok Vina. Diskusikan robotik abang, ternyata dia paham juga.”
“Haha, sudah! Jangan terlalu memuji. Nanti saya bisa besar kepala gimana? ”
“Materi hari ini apa Vina?” tanya Remon.
“Ini Bang, hukum newton!”
“Ooooh, ini..” terus dia ikut membaca soalnya, “oiyayaya,” dia manggut-manggut.
“Gimana Mon, gampang kan? Bisa bantu menggantikan ngajar dia?”
“Kenapa kawan?”
“Hanya sedikit suntuk, tidak konsen.”
“Ooh, gitu.. baiklah. Tapi abang menaruh tas di kamar dulu ya Vin?”
“Yaah, Kak Akel kenapa?”
“Saya sedikit pusing Vin, dibantu Bang Remon dulu ya? Dia itu pinter banget lho? Sapa tahu dia bisa mengajarkan cara simpel yang mudah diingat.”
“Tapi Vina maunya belajar sama Kak Akel!” wajahnya cemberut. Aku hanya mengusap kepalanya dan masuk ke kamar. Moga tidur bisa mengobati sakit kali ini.
__ADS_1