Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
S3-5


__ADS_3

Hari ini, CDH adalah novel ketiga yang Otor tulis.



Lomba Karya Wanita-Mengubah takdir, selesai 1 bab, 1200-an kata.





Lomba Karya Pria, selesai 2 bab masing-masing 500-an kata





Cinta dalam Hati, seberapa Otor mampu. (tadi udah nulis hingga 1500 kata, malah hilang ... ngenes otornya ngulang ngetik lagi 😭😭)






Sekitar setengah jam perjalanan, dengan mengikuti Map, akhirnya kami sampai. Terlihat antrean yang sangat ramai. Banyak pengunjung yang membutuhkan bantuan terapis ini. Semoga kondisi Yukita menjadi lebih baik. Namun, ternyata, sebelum dilakukan terapis menggunakan alat, dia harus melakukan peregangan terlebih dahulu dengan pijitan.



"Aaaarrrggghhhttt..."


"Aaaaarrrrrggtttttt..."


"Ibuu ... Ibu ... Ibu!!!" begitu lah tangisnya.



Seluruh belulangnya bergemeletuk. Aku pun tak kuasa mendengar rintihan kesakitan yang dia rasakan.



"Pulang Aa ... Pulaaang," tangisnya.



"Sabar, biar nanti bisa berjalan dengan baik lagi!"



Beberapa waktu dilaluinya dengan teriakan-teriakan saat tulang belulangnya bergemeletuk hingga tidak ada lagi rintihannya karena semakin lama, rasa sakit itu semakin berkurang.



Setelah dipijit, dia diajak masuk ke sebuah ruang. Dimana di dalam ruang itu akan dilakukan terapi lewat alat untuk memperbaiki kerusakan pada jaringan dan tulan Yukita.



"Nanti, Yukita datang lagi ke tempat ini hingga keadaan kakinya, benar-benar membaik. Kamu cukup terlambat datang ke sini. Oleh sebab itu, penyembuhannya mungkin menjadi cukup lama." ucap ahli terapisnya. Seorang Dokter spesialis Fisioterapis.



"Beberapa waktu ini kondisinya tidak memungkinkan, membuat kami tidak bisa membawanya ke sini, Dok. Jadi, baru sempat datang ke sini sekarang1."



"Ya udah, nanti kami akan memberi jadwal untuk terapisnya, semoga Yuki bisa berjalan dengan baik kembali."



"Amin, terima kasih Dok." Aku lirik gadis yang duduk di sebelahku. Dia terlihat sangat shock1q. Melirikku dengan menggelengkan kepalanya.



💖



Hari demi hari kami lalui dengan berkuliah sambil membawa Yukita terapi. Tanpa kami sadari waktu terus berjalan, hingga kami berada di penghujung masa perkuliahan. Perlahan kaki Yukita bisa berjalan lebih baik, meskipun masih terlihat berbeda dengan yang lain.



Lambat laun pun, Yukita sudah bisa mengikuti materi perkuliahan. Meski dia selalu protes merasa kepalanya sangat sakit di setiap perkuliahan usai.



Beberapa masalah kecil pun mulai terlihat. Dia bagai anak perempuan yang mulai memasuki masa pubertas. Dengan lantangnya, dia menceritakan tentang idola-idola K-Pop yang dia senangi. Dia mengatakan, aku sangat mirip dengan seorang Idol. Karena itu, dia bilang mengidolakan Idol itu karena sangat mirip denganku.


💖


Sedikit demi sedikit, kaki Yukita sudah bisa berjalan dengan baik. Tak lama lagi wisuda akan digelar. Beruntung kami bisa tamat bersamaan. Orang-orang yang menghina Yukita pun tidak bisa berkutik karena Yukita tidak terlalu memahami dan menanggapi perselisihan yang mereka buat.



Hari ini kami semua berfoto bersama. Kedua orang tuaku pun hadir ke kota ini untuk menyaksikan wisudaku, meski Hady tak bisa ikut karena urusan sekolahnya yang semakin padat.



Lalu orang tua Yukita dan Keluargaku pun saling berkenalan di sini. Papa sengaja ngerental mobil, supaya bisa bebas ke sana-ke mari. Sehingg mereka memutuskan untuk ke rumah Yukita usai kami berfoto wisuda bersama.



![](contribute/fiction/3225595/markdown/24374039/1645267651400.jpg)



💖



Di rumah Yukita, kedua orang tuaku telah duduk sembari memperhatikan beberapa foto yang terpajang di dinding rumah sederhana ini. Mama masih mengedarkan pandangannya melihat ke sana ke mari akan kesederhanaan rumah ini.



"Bagaimana keadaan ingatan Yukita saat ini Pak?" tanya papalu kepada ayah Yukita.



"Jika ditanya ingatan yang hilang, jawabannya masih sama. Ingatannya, sampai saat ini masih belum kembali juga."


"Saat ini memang ingatan sepuluh tahunnya telah menghilang, namun dia sudah mengukir kembali ingatan baru dalam pikirannya. Jadi, menurut kami sebagai orang tuanya, tidak mengapa. Asal dia tetap sehat, bisa menjalani kehidupan sehari-hari."



"Memang benar apa yang Bapak bilang. Yang penting Yukita sehat selayaknya orang normal lainnya."

__ADS_1



"Tidak hanya itu, Pak. Harry sudah menyatakan keinginannya kepada kami untuk menikahi Yukita secepatnya. Karena dia ingin segera membawa Yukita mengikuti kami ke Bandung." ucap Papaku lagi.



Wajah ayah Yukita terlihat berubah sayu. "Harus dibawa ke Bandung ya?"



"Iya, agar Harry bisa bekerja di sana. Menafkahi Yukita dengan baik." jelas papaku.



"Bukan kah di sini mereka juga bisa bekerja?" ucap ayah Yukita.



"Maaf ya Pak. Jika di Bandung, Harry bisa meneruskan usaha Papanya. Di sana usaha suami saya cukup besar. Jadi, mungkin lebih baik Yukita kami ajak ke Bandung saja." sela mamaku dengan tidak sabar. Mata mama masih berputar-putar melihat ke segala bagian rumah ini.



"Ekhem, ... Ma," Papa menyela Mama karena membicarakan sesuatu yang kurang pantas.



"Habis, masa Harry akan diajak tinggal di sini?" gerutu mamaku.



"Ma-" Papa memberi kode agar mamaku tidak melanjutkan perkataannya.



Akhirnya aku dan Yukita memilih duduk berdua di teras. Membiarkan kedua belah pihak membicarakan hal-hal penting pernikahan kami yang dipaksakan oleh mereka dilaksanakan dalam waktu dekat.



Bagiku tentu, itu sebuah hal yang baik. Mengikat dia dalam sebuah ikatan suci. Setelah sekian lama hati ini hanya berpaut memikirkan dia.



"Aa, apa mama Aa nggak suka pada Yuki?" tanya-nya dengan lirih.



"Kenapa berbicara seperti itu?"



"Yuki merasa mama Aa tidak menyukai Yuki. Apa karena keluarga kami yang miskin?"



"Jangan bicara seperti itu ah! Mamaku bukan orang yang seperti itu kok. Kamu hanya tidak mengingatnya. Tapi mama dulu sangat menyukaimu lho?"



"Apa aku pernah ke Bandung?"



"Iya, kamu pernah ke Bandung. Bahkan kamu sudah singgah ke rumahku dan bertemu dengan mama."



"Waah, ternyata aku sudah pernah jalan-jalan ke Bandung?" ucapnya sumringah. "Apa waktu itu kita sudah pacaran?"




"Jadi Aa sengaja mencariku ke sini?" Aku hanya mengangguk. "Waah, Aa ... Kenapa hati Yuki berasa senang ya? Kayak ada bunga-bunga dan kupu-kupu di dalamnya."



Sontak aku tertawa mendengar ucapan polos pacarku yang manis ini. "Coba jelaskan kayak apa itu?"



💖



Di hotel tempat Papa Mama menginap


"Kamu yakin akan menikahi dia?" tanya mamaku dengan gusar.



"Kenapa Ma?"



"Kekanakan begitu!?" sungut mamaku.



"Iya, dia kan gegar otak. Jadi memang balik ke tingkah anak-anak."



"Gimana dia bisa mengurusmu nantinya? Mengurus diri sendiri saja dia tidak bisa?" ucap mamaku.



"Ma, urusan itu nanti biar aku yang pikirkan. Yang jelas, kami tidak akan menyusahkan kalian berdua. Biarkan kami memulai semuanya dari nol."



"Terserah kamu lah! Yang jelas mama sudah ingatkan. Nanti belum lagi dia harus melewati tahap periode perkembangan berikutnya. Jangan sampai kamu malah dibilang 'mengasuh istri'."



"Mama jangan khawatir. Semua sudah aku pikirkan. Yang jelas, aku memohon sama Mama agar menyayangi dia sebagaimana Mama sayang sama aku dan Hady."



"Hmmm ..." gumam mama. Sementara papaku hanya menggelengkan kepala melihat polah Mama.


💖


💖


💖



Saat ini kami sedang sesi pemotretan menggunakan pakaian pengantin adat minang. Istriku sungguh tampak cantik menggunakan mahkota yang indah di kepalanya.

__ADS_1



Kami berdua telah SAH dinyatakan sebagai pasangan suami isteri. Tadi pagi melangsungkan Akad Nikah di masjid yang tak jauh dari rumah Yukita. Semuanya lancar, karena aku benar-benar tulus mencintainya. Setelah itu, resepsi diadakan secara sederhana.



![](contribute/fiction/3225595/markdown/24374039/1645267651404.jpg)



"Yuki----" Mili hadir bersama Anggi. "Kamu cantik sekali." Menyalami kami berdua.



"Seandainya saja aku yang ada di samping kamu Ki." timpal Anggi.



"Ekhem ... Yang udah punya pacar, jangan godain istri orang!" ucapku.



"Dih, cemburuannya belum ilang." canda Anggi.



Akhirnya Anggi dan Mili berpacaran. Semenjak Yukita lupa ingatan, Yukita lebih memilih bersamaku kemana-mana. Sehingga sering meninggalkan Anggi dan Mili berdua. Mungkin sering berdua, benih-benih cinta diantara mereka pun tumbuh. Mereka telah resmi berpacaran.



"Anggi, Mili ... Ayo makan dulu. Selamat menikmati hidangannya ya." ucap istriku.



Kawan-kawan kuliah kami pun hadir memeriahkan pesta pernikahan ini. Yuki meski tampak ragu, namun aura bahagia juga tampak dengan jelas di wajahnya.



Dari arah panggung hiburan, diiringi oleh alunan lagu sederhana. Tampak dari jauh seorang pemuda, menaiki panggung meminta untuk diberi kesempatan untuk bernyanyi. Terdengar intro pembuka lagu yang viral dibicarakan di sosial media. Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh seorang mantan, kepada perempuan yang menikahi pria lain.



Yukita tampak menikmati lagu itu. "Kamu mengenalnya Sayang?" tanyaku. Dia hanya menggeleng. Namun sangat bersemangat melihat pria yang bernyanyi itu.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Ku tak bahagia


Melihat kau bahagia dengannya


Aku terluka


Tak bisa dapatkan kau sepenuhnya



Aku terluka


Melihat kau bermesraan dengannya


Ku tak bahagia


Melihat kau bahagia



Harusnya aku yang di sana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia



Ku tak bahagia


Melihat kau bahagia dengannya


Ku tak bahagia


Melihat kau bahagia



Harusnya aku yang di sana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia



Ho-wo-oh



Harusnya aku yang di sana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Siapa dia? Kenapa dia begitu menghayati lagu itu sembari memandang isteriku? Bahkan Yukita pun tak berkedip memandangnya?

__ADS_1



\*bersambung\*


__ADS_2