
Melihatnya yang tengah asyik mengacak leptop yang telah hang itu, hanya membuatku tidak tahu harus berbuat apa. Bingung kalau marah, tapi aku sayang. Kalau direbut, nanti dia malah nangis, toh saat ini dia hanya seorang anak sepuluh tahun. Biar lah, tunggu dia tidur dulu, baru aku beresin lagi. Lagian gampang benerin laptop nge-hang itu.
Dengan wajah childist-nya itu, dia terlihat semakin lucu. "Sayang, kamu belum ngantuk?" waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia masih menekan semua tombol yang mungkin di masa kami masih kanak-kanak benda ini mungkin belum ada di rumahnya saat di usia ini.
"Iya, Yuki udah ngantuk..."
"ya udah..ayoo bobo.. Aku temenin..."
Dia mengubah posisi yang tadi asyik dengan mainan baru, lalu merebahkan badan nya. "Aa' tadi belajar apa di sekolah?" tanyanya.
"Hmm.. belajar ilmu hukum.."
"Hukum?"
"Iya, biar bisa tahu, hukum yang berlaku di negara ini. Misalnya kalau ada maling, nanti itu masuk pada bagian mana.. terus sanksi nya apa..."
Tiba-tiba reaksi mengejutkan darinya membuatku tergelak. Dia langsung sembunyi di dalam selimut.
"Kamu kenapa?"
"Aku takut aah.. nanti aku masuk penjara kalau temenan sama Aa..."
"Kok gitu?"
Dia diam, namun matanya melirik ke kiri dan melirik ke kanan. "Aa janji ya jangan lapor polisi..." kembali tingkah nya ini bikin usiaku makin muda dibanding seharusnya.
"Kemarin aku diajak maling mangga si Otong.."
"ha-ha-ha..." akhirnya lepas juga tawa ini.. "Siapa yang ngajak..."
"Santy... dia ngajak maling mangga. Aku panjat mangganya dapat satu kantong gede lalu aku jual.."
"ha-ha-ha..." waduuh.. ternyata ini maksud ayahnya dengan pusing karena tingkah masa kecilnya. Aku pun baru tahu cerita ini, menurut ku ini bener-bener lucu. Gadis yang membuatku jatuh hati berulang kali ini, memiliki masa lalu yang sangat indah. Menikmati masa kecil nya dengan bahagia.
"Aa' janji jangan laporkan aku ke polisi..."
"Iya... iya sayang.. Aa janji nggak akan laporkan kamu kok. Kalau ada masalah nanti pasti Aa bantu kamu kok..."
Lalu wajahnya berubah menjadi cerah dengan senyuman lesung pipinya yang cantik.
"Sekarang kamu bobo ya Sayang.. biar aku bisa membuat tugas, jangan lupa berdoa ya.."
Tiba-tiba dia bangun lagi, dan duduk menyibak selimut mencoba untuk turun.
__ADS_1
"Kamu mau kemana? Ayo tidur..!"
"Pipis...aku mau pipis .." dia mencoba turun dan ternyata tubuhnya belum kuat untuk berjalan, dia terjatuh.
"Sini Aa gendong.." Dia menggeleng, wajahnya terlihat malu.
"Yuki udah besar.."
"Ayo sini Aa bantu jalan.." lalu dia menggeleng kembali. Mungkin dia masih canggung terhadap ku. Aku bantu dia duduk kembali ke brangkar, "Kamu di sini sebentar ya. Aku panggil perawat dulu.." lalu dia mengangguk.
Lalu aku segera mencari perawat yang jaga, dan meminta bantuan untuk mengantarkan dia ke toilet. Setelah semua selesai, baru Yukita bisa tidur dengan nyaman.
Kembali ku coba memperbaiki laptop yang tadi udah eror akibat ulahnya. Tak membutuhkan waktu yang lama, karena ini memang keahlian ku, benda ini telah kembali beroperasi dengan baik, meski suhunya begitu panas akibat eror mode tadi.
Dalam suasana yang sangat sunyi di rumah sakit ini, mengerjakan tugas menjadi sesuatu kegiatan yang menegangkan. Huuff.. laki-laki tidak boleh takut. Masa begini saja udah takut. Bagaimana nanti menjalani biduk rumah tangga jika begini saja K-O.. kutepis perasaan aneh itu . memasang handphone sembari mengerjakan tugas mendengar kan musik.
Mungkin ini yang terbaik, biar bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas di suasana yang sunyi seperti ini. Kembali melanjutkan mengerjakan tugas, membuat tiga laporan, semoga bisa diselesaikan.
Waktu telah menunjukkan pukul dua pagi, akhirnya tugasku selesai. Selanjutnya waktu untuk beristirahat, memasang hodie lalu melepaskan kacamata. Aku tidur di ranjang sebelah Yukita yang kosong.
Rasanya tidur baru beberapa saat, terdengar suara seorang wanita, suara gadis yang sudah heboh membangunkan ku yang masih lelah.
Akhirnya aku duduk dan dengan mata yang seakan mau copot kulihat apa yang diinginkannya.
"Apa?"
"Aa' .." wajahnya sumringah dan kuambil kembali kacamata yang tadi kuletak di atas nakas di samping ranjang.
"Ada apa?" tanyaku.
"Buka lagi kacamata nya..." pintanya..
"Kenapa?" aku masih antara sadar dan tidak.
"Ayo bukaak..." rengeknya.
"Kamu mau pinjam ya?" kubuka dan coba menyerahkan kan ke dia. Dia hanya menggeleng dengan senyum cengengesan di bibirnya.
"Aa' ganteng banget lhooo.. kalau nggak pakai kacamata..."
__ADS_1
Hmmm??? dia bilang ganteng? Tiba-tiba kondisiku langsung dalam keadaan prima seratus persen.
"Ganteng? Kamu tahu apa itu ganteng?" lalu kupasang kembali kacamata agar bisa melihat dia lebih jelas.
"Ganteng itu kayak orang di tivi-tivi itu lho A'.."
Aku hanya bisa memberikan senyuman, mengelus pipinya nya dan kembali kutepis perasaan itu. Saat ini dia hanya anak kecil polos.. lonjakan rasa yang tiba-tiba saja dibuatnya pagi ini setelah begadang mengerjakan tugas, rasanya benar-benar luar biasa.
Aku teringat harus sholat subuh dulu. "Kamu tunggu sebentar ya.. Aku mau wudhu dulu.."
"Aku juga mau sholat..." katanya.
"Mau wudhu juga?" dia mengangguk.. tapi bagaimana caranya? Masa aku yang ngantar dia wudhu, bukan muhrim malah langsung batal wudhunya.
"Tunggu ya, aku panggil perawat lagi .." dia kembali mengangguk.
Kembali memanggil perawat, meminta tolong untuk membantu Yukita berwudhu. Ternyata disuruh tayamum aja oleh perawat nya. Akhirnya perawat membantunya untuk tayamum, dan aku segera ke kamar mandi untuk berwudhu.
Kami laksanakan sholat, dan kembali meminta kepada-Nya untuk segera mengembalikan dia seperti sedia kala. Aku ingin segera menjadikannya makmum yang selalu ada di belakang ku. Menjadi ibu bagi anak-anak ku. Menjadi orang yang menemani di masa tuaku. Amin.
Kembali kubereskan peralatan dan memasukkan ke dalam ransel. Ku temukan Yukita tengah memerhatikan kegiatan yang tengah kulakukan. Wajahnya masih terfokus pada laptop yang terbuka di atas nakas.
"Kamu mau main pakai itu?" tanyaku yang langsung disambut senyum childist dan jenakanya.
Kembali kunyalakan dan membuka game yang aku punya. Lalu dekatkan nakas yang ada roda itu ke pinggir brangkar dekat dia duduk. Aku ajarkan sedikit cara bermainnya, dan cepat sekali dia pahamnya, lalu asyik sendiri dengan benda itu. Kembali ku buka materi untuk hari ini. Ada terminologi hukum, HAM, dan Perjanjian Hukum. Hari ini sangat padat, semoga keluarga Yukita cepat sampai buat gantian berjaga.
Hari ini aku ada jadwal pukul sembilan. Kulirik dia masih asyik dengan game itu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Jadi mungkin sebentar lagi sarapan untuk Yukita datang. Dan dugaanku tepat, dan kakak Yukita sudah Hadir. Syukurlah.. aku bisa kembali ke kostan lebih cepat.
"Yuki..." panggil Kakak nya. Wajah Yukita terlihat heran melihat kakaknya.
"Kak April?" tanyanya untuk memastikan. Mungkin hari ini si kakaknya ini baru hadir setelah dia bangun.
"Kakak udah besar..." ucapnya dengan mata membulat. Kembali hanya bisa menahan tawa. Malu dilihat kakaknya kalau tertawa berlebihan.
"Ya iya lah.. kamu juga sudah besar kan.."
Wajahnya terlihat makin membulat. Yuki sudah besar kak..." wajahnya sumringah kembali tertawa.
"Yuki, boleh aku ambil dulu itu?" menunjuk laptop yang tengah digunakan untuk bermain game.
Lalu laptop itu dipeluknya, dan dengan mimik kening berkerut. Sah lah.. Sekarang itu jadi benda kesayangan nya.
"Ya udah, Aku berangkat dulu ya.."
__ADS_1
Akhirnya laptop itu kutinggalkan, dan pamit untuk menuju parkiran tempat motor ku menginap semalaman. Tapi di tenpat parkiran mobil kulihat ada sosok yang langsung membuatku naik darah. Mau apa dia ke sini?