
Seminggu lagi anak-anak Hukum angkatanku akan menuju Kota Kembang, Kota Lautan Api, yaitu Kota Bandung. kenapa aku bisa ikut, padahal aku tak bekerja lagi? Itu karena isi tabunganku lumayan banyak, ditambah uang beasiswa yang benar-benar ku dapatkan.
IP semester duaku melonjak cukup jauh dari semester satu karena mungkin dosen-dosen yang mengajarku ingat pada mahasiswi yang pingsan di ruang ujian, dan para dosen kagum karena Yukita Marsya, terus menerus belajar sambil bekerja demi mendapatkan nilai yang bagus agar meraih beasiswa yang digunakan untuk Study Banding ke Unpad dan Undip.
Sehingga membuatku dikenal seluruh punjuru kampus.
Jika dosen mempromosikan adanya Study Banding pada adik kelas, pasti cerita itu yang digembar-gemborkan oleh para dosen untuk membangkitkan semangat mereka agar meraih prestasi yang gemilang, itu ku ketahui karena setiap adik kelas melihatku bilang.
“Oo… ini Uni Yukita itu?”
Kadang-kadang “itu” membuatku bangga, tapi “itu” lebih sering membuatku malu jika teringat alasan sebenarnya kenapa aku begitu gigih agar bisa ikut Study Banding itu.
Sejak sakit liburan semester, aku benar-benar konsentrasi dengan kuliah semester ini. Aku merasa beruntung semester ini berhenti bekerja karena semester ini intensitas perkuliahan lebih sibuk dari semester lalu.
Jadwal kuliah yang sangat padat, membuatku tidak memiliki waktu luang selain untuk bermain. Dan perkuliahan semester ini banyak mengadakan observasi ke lapangan, sedangkan mantan Bossku Uda Yefri berkata padaku.
“Jika ini yang terbaik, ya tidak apa-apa. Uda tahu dokter tak mengizinkan jika kamu terlalu sibuk. Namun, jika suatu saat kamu memerlukan pekerjaan yang sama, Uda akan selalu menyediakan tempat untukmu” dan ia tersenyum tulus padaku.
Dan tentu aku berterimakasih padanya; udah kaya, penyabar, baik hati dan tidak sombong. Tapi… aku tak ingin mengambil resiko, "Nyawa yang diberikan Allah hanya satu, nak… jadi kamu harus jaga karena tidak ada yang akan menggantikan nyawa yang telah diberi oleh Allah…" terngiang kembali ucapan dari dokter dulu. Sedangkan suhu tubuhku selalu naik turun gara-gara kelelahan.
Hubunganku dengan Aldi sampai saat ini masih tetap berlanjut, tapi hanya sekedar status. Karena selama satu semester ini aku menjalankan hubungan dengannya, bertemu dan mengahabiskan waktu dengannya masih bisa dihitung dengan jari. Mungkin karena ajakkannya sering ku tolak, aku mendengar kabar dari orang-orang yang bisa dipercaya bahwa Aldi sering bermesraan dengan pacar baru yaitu adik kelas di kampusnya.
Menurutku Aldi wajar bersifat begitu, karena dalam pandanganku laki-laki itu tak setia jika diacuhkan pasangannya. Dan itu bersifat alamiah… aku sama sekali tidak merasakan sakit hati ataupun kecewa mendengar kabar itu, karena banyak teman yang mendesak ku tentang kabar itu, membuatku bertanya terang-terangan padanya saat dia menelpon ku.
“Di… aku denger kamu punya pacar lagi ya?”
__ADS_1
“Emang siapa yang bilang?”
“Enggak… ini ku dapat dari sumber terpecaya, dia melihatmu jalan dengan adik kelas mu”
“Emangnya kenapa? Cemburu ya?”
“Kenapa kamu nggak mutusin aku saja?”
“Karena aku tak ingin putus denganmu, dan aku sayang padamu”
“Tapi kenapa kamu pacaran dengannya?”
“Karena dia sebagai penggantimu, jika kamu tak ada”
“Tepat banget”
“Apa dia tahu kamu juga pacaran denganku?”
“Enggak…”
“Kamu harus tahu, wanita akan sangat sakit bila dibohongi dan diduakan.”
“Tapi kenapa kamu nggak marah?”
“Iya… aku nggak marah karena…” ehm “pokonya aku nggak mau tahu tentang kisahmu dengan adik kelas mu itu”
__ADS_1
“Iya deh yang… walau aku pacaran dengannya, tapi hati aku hanya untukmu”
Bulshit… dasar buaya? Tapi biar lah saat ini seperti ini dulu. Dan teman-temanku hanya terheran dengan sikapku ini.
“Kenapa kamu nggak putusin saja?”
“Haha… lumayanlah buat isi pulsa tiap bulan”
“Dasar matre!!!”
“Ye… enak aja bilang aku matre? Yang bener, Cuma manfaatin… dia yang ngisi sendiri dan tak pernah ku minta padanya”
Dan akhir-akhir ini, Anggi selalu bete melihatku seperti ini dan ngotot menyuruhku memutuskan Aldi.
“Ngapain kamu masih bertahan dengannya? Jelas-jelas dia menghianati kamu”
“Habis gimana lagi Ang? Aku tak memiliki alasan untuk memutuskan dia”
“Nggak ada alasan? Itu… dia hianati hamu?”
“Tapi itu bukan alasan yang tepat Ang, dia sendiri cerita padaku dan aku tak merasa dihianati”
“Aduh Ki…? Susah bener ngomong denganmu? Masih banyak laki-laki lain yang pantas untuk kamu sayangi dari pada cowok brengsek itu”
Tenang Ang… aku memang menyayangi laki-laki selain dia “Iya… iya… Ang… kok gitu banget sih? Nanti lihat aja gimana jadinya!”
__ADS_1