Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 8


__ADS_3

Pagi ini kami sudah berada di depan kampus politeknik. Sepanjang perjalanan tadi baru aku sadar area kampus unand ini sangat luas.


Politeknik adalah kawasan terakhir jadi sudah terkelilingi seluruh area kampus hijau di atas pegunungan ini. Remon cerita politeknik ini dulunya salah satu fakultas di unand. Tapi sekarang sudah lepas menjadi satu bagian utuh kampus negeri di Kota Padang. Tidak berlama-lama, Remon mengajakku ke jurusan Telkom, dan berbincang dengan orang yang mungkin juga temannya. Kemudian Remon kembali dengan wajah kecewa.


“Katanya tidak ada nama Yukita di Telkom.”


“Masa? Kemarin aku ketemu dia di fakultas hukum?”


“Lhoh? Udah ketemu? Kenapa tidak tanya langsung?”


“Nah, itu lah? Apa kamu Yakin tidak ada yang namanya Yukita?”


“Hey Mon? Kenapa ini?” sapa mahasiswa yang mungkin temannya.


“Ini Vin, ada yang nanya seorang bernama Yukita di Telkom. Tapi kawan lain bilang tidak ada yang namanya Yukita,” jelas Remon.


“Ooh, Yukita? Dia itu teman SMA ku dulu, malah sekelas waktu kelas dua belas.”


Waahh. Ternyata sangat kebetulan sekali, ada teman SMA-nya di depanku.


“Emang siapa yang nyari?”

__ADS_1


“Ini, kawan sekos ku.”


“Dulu Yukita memang lulus di Telkom Kawan, tapi kayaknya dia nggak jadi ambil,” jelasnya.


Apa? Nggak jadi ambil? Kenapa?


“Kira-kira kegiatannya sekarang apa?”


“Nggak tahu juga, bisa jadi kerja, atau yang lain? Atau kucarikan teman baiknya? Mereka masih sering main bersama. Kebetulan dia anak sipil, namanya Odi.”


Dia ternyata punya banyak sekali teman cowok, “Aah, nggak usah. Terima kasih.” Rasanya sangat kecewa. Ku pamit untuk balik ke kosan.


Kenapa dia bohong padaku? Sudah sejauh ini kulangkahkan kaki, ternyata hanya untuk seorang pembohong? Kenapa wajah polos seperti kemarin, ternyata pembohong besar? Entah berapa kali bis berlalu, kusibuk dengan lamunanku sendiri.


Jika kutelepon Mama, menyatakan tidak jadi mengambil kuliah di sini, pasti beliau marah. Semuanya sudah dibayar, semua fasiltas kosan sudah lengkap. Ini membuatku sakit hati dan membeci wanita pembohong itu. Bisa menipu semua orang dengan wajah polosnya itu.


***


Hari pertama ospek, rasanya sangat menyebalkan. Mungkin senior yang berdiri di depanku usianya lebih kecil dariku. Kepala sudah plontos, kemarin Vina bilang aku jadi jelek. Biarlah.. aku sudah tidak peduli!


Sepertinya kacamata ini perlu dibersihkan sedikit. Kucopot dan kubersihkan dengan sapu tangan yang selalu kusediakan dalam kantong. Mataku sedikit terbelalak, sepertinya barusan lewat sosok yang sepertinya kukutuk setiap waktu semenjak tahu dia telah membohongiku.

__ADS_1


Kembali memasang kacamata untuk memastikan, dan ternyata jadi lebih jelas itu memang dia. Juga mengenakan pakaian ospek? Apa? Dia ospek? Si pembohong itu? Di jurusan ini juga?


Kulihat dia duduk sedikit linglung, ternyata yang dipanggil dari tadi sama senior itu dia. Dikerjain sama senior. Anggap saja itu sebagai hukuman sudah bohongi aku. Aku yakin dia akan menganggap ospek itu kegiatan paling menyebalkan, haha.


Tapi akhirnya dia malah yang sering dicari oleh senior. Sampai dia jadi icon oleh grub-nya mendapat bunga dari senior. Huh, seneng banget deket-deket sama cowok ya? Ternyata kamu sama saja dengan cewek lain yang kukenal.


Waktu ospek berlalu, dengan memperhatikan gadis yang sukses membohongi dan membodohi ku mentah-mentah. Hebat banget, membuatku sampai di sini gara-gara bualannya itu. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku, sengaja ku pura-pura membaca dan menulis penjelasan dosen, cukup lama sepertinya dia memperhatikanku. Kemudian tampak dia sibuk balas-balasan dengan sobekan kertas dengan teman sebelahnya. Itu semua membuatku makin panas saja, ngapain sih dia? Bukannya memperhatikan dosen dengan benar.


Usai perkuliahan, jam kosong hingga nanti habis lohor, setelah itu baru ada mata kuliah lagi. Mataku yang refleks memperhatikan gadis itu, langsung tertuju memperhatikan apa yang dia lakukan. Dia bermenung sendirian, cukup lama. Rasanya ingin duduk di sebelahnya, tapi enggan. Rasa marah dan benciku masih belum habis setiap teringat dia membohongiku dengan wajahnya yang polos itu.


Tiba-tiba si botak di sebelahnya yang tadi duduk di sebelahnya. Apaan sih tu botak, kenapa harus di sebelah dia? Haaah, daripada panas mending mengisi perut. Kemana-mana sendirian, rasanya cukup enggan berkenalan dengan yang lain. Menurutku mereka semua seperti anak kecil. Egoku yang cukup tinggi membuatku sedikit sombong ogah menjadikan junior itu temanku. Cari makan di sini cukup susah. Semua menunya pasti ada sambalnya. Jadi sibuk memisahkan sambal biar tidak terlalu pedas, jelang terbiasa makan masakan sini.


Menikmati makanan yang cukup berat bagi lidahku, ditambah si gadis pembohong itu muncul dengan temannya, membuatku tiba-tiba kehilangan ***** makan. Malah duduk di sebelahku lagi? Kucari sebuah benda yang pernah kukirim untuk dirinya, namun tak ada satu pun cincin yang melekat di jemarinya? kemana benda itu? Kuberi sebagai tanda cinta yang luar biasa, namun disia-siakannya. Rasa kecewa yang kemarin udah besar, hari ini telah bertambah lagi.


Selain itu, mereka Membuat keributan kecil saling berkenalan? Kenapa aku tidak disalami juga? Sombong banget mereka tidak mau mengajakku berkenalan. Gerah, minggir-mingir batinku, menyuruhnya memberiku jalan untuk keluar.


Entah apakah ini sebuah kesialan atau keberuntungan bisa langsung satu kelas dengannya. Ini kah takdir_Mu Tuhan? Harus kubersihkan hati ini. Kutuju mesjid dan melaksnakan kewajiban. Dulu di Bandung aku masih sering bolong sholatnya, tapi sejak di kota ini karena semua teman kosan taat beribadah menjadi motivasi baik untukku agar terus semakin dekat pada-Nya. Ya Tuhan, bersihkan lah hatiku yang sesak oleh amarah ini. Berikanlah kelapangan untuk memaafkannya. Amin.


Usai sholat hati terasa lebih tenang, moga semakin lega dan lapang. Aduh, sial... dia lagi dengan teman-temannya? Aku buru-buru cabut dan mencari ruangan kelas. Mending duduk di depan biar bisa dengan jelas memperhatikan dosen. Daripada merhatikan dia terus. Sedang mempersiapkan bahan untuk materi hari ini, Yukita dan kawan-kawannya masuk. Kenapa kamu tega bohongi aku? Dia terus menatapku, ku tatap matanya dalam-dalam. Aku adalah pria itu, Harry! Sadarlah! Batinku berteriak. Dia malah sengaja duduk di belakangku.


Tak lama lagi Ramadhan, kami semua saling berkenalan sekaligus bermaafan. Tentu dia dan aku juga bersalaman.

__ADS_1


“Maafkan aku jika ada salah dalam kata dan laku membuatmu marah padaku,” begitu lah katanya. Darimana dia tahu aku marah?


“Aku juga,” kami bersalaman. Menyentuh tangannya, memberikan sentruman langsung menyengat sukmaku. Secepatnya aku lepas. Apa yang aku pikirkan barusan? Dan aku sadari bahwa aku masih sangat mencintainya, tapi dia tak juga sadar akan hal itu. Selama Ramadhan perkuliahan masih jalan seperti biasa. Yang aku heran, kenapa mata kuliah yang aku ambil selalu saja sama dia. Apakah ini pertanda dari-Mu Tuhan? Apakah Engkau benar-benar menjadikan dia sebagai jodohku yang awalnya seperti mustahil?


__ADS_2