
“Hey Bro..? kemana aja lu kemarin ini?” suana kampus lama, bertemu kawan-kawan lama yang sudah lama tak jumpa.
Kami bersalaman “Hehe, kemarin ada urusan dikit.”
“Gue denger lu kuliah lagi? Ngulang lagi gitu?” aku hanya menyeringai tipis.
“Terus kuliah di sana gimana?” males menjawabnya, makanya aku hanya diam saja mengahadapi makhluk kepo yang sedang mengelilingiku.
Dari luar, terdengar suara heboh. Kalau sudah begitu, pasti ada cewek cantik yang lewat. Suasana yang sudah lama tidak kulewati. Dipikir-pikir seru juga. Sorakan itu ternyata makin jelas, dan mengarah masuk ruang kuliah. Dari pintu tampak muncul seseorang yang berwajah cantik, hah wajah itu ternyata. Langsung kubuang muka dan melakukan aktifitas lain. Dirga menyikutku memberi kode dia mendekatiku.
“Harry! Kita harus bicara sekarang juga?” Kulirik sedikit, lalu pura-pura baca buku. Tiba-tiba buku yang posisi terbalik itu ditarik oleh wanita yang jadi pusat perhatian saat ini.
“Kamu masih saja begini?”
“Mau lu apa?”
“Mauku, kita bicara agar semuanya jelas?”
“Hey Bro, lu sombong amat sih? Sama cewe cakep juga?” sorak salah satu dari sekian.
“Kalau gue mah, pasti langsung ikutin dia. kapan lagi diajak cewe cakep gitu?” celetuk yang lain.
“Masalahnya ngga ada yang ngajak lu!” sorai yang lain dan semua tertawa.
Ku bangkit dan menarik gadis cantik itu keluar dari hiruk pikuk kaum lelaki kekurangan kaum hawa.
“Lu seneng banget gitu ya nyari perhatian?”
“Harry, tujuanku bukan perhatian mereka. Cuma minta perhatian dari kamu!”
“Sudah berbusa juga mulut gue ngomong ngga pernah mengerti, gue tu gak cinta sama lu. Sama sekali tidak ada!”
“Iya, tapi beri aku kesempatan Ry?”
“Kesempatan apa lagi? Itu, lihat cowok-cowok di sana. semuanya pengen dekat sama lu. Rela ngejar-ngejar cinta lu sampai mati. Kenapa harus gue yang lu cari?”
“Apa tak ada Kesempatan untuk mendapatkan hatimu Harry. Aku Cuma sukanya sama kamu!”
Kugaruk kepala benar-benar pusing menghadapi wanita yang satu ini. kenapa dia tak pernah menyerah hanya untuk seorang gue. Gue yang ditinggalkan oleh sahabatnya sendiri. Sudah cerita secara gamblang bagaiman dia, ternyata seperti bohong gitu dengan mudahnya. Aah, diapakan enaknya ni cewek? Gemes sendiri..
Hah, daripada ngeladeni orang ini, mending kutinggal aja lah. Kulangkahkan kaki pergi meninggalkan nya. Tunggu dia pergi dulu, baru balik ke ruang kuliah. Dia terus berteriak-teriak memanggilku, tapi aku tetap melangkahkan kaki, walau tidak tahu mesti dilangkahkan kemana. Oh, udah masuk waktu lohor kali ya? Mending ke masjid aja deh.
***
“Gue ngga nyangka Popon masih negejar lu Bro.”
__ADS_1
“Itulah, makin mumet otak gue!”
“Lu sudah jelaskan siapa orang yang lu suka? Lu cinta?”
“Secara langsung orangnya sih enggak. Tapi secara umumnya udah bilang gue suka wanita lain. Sebenarnya dia pernah melabrak Yukita dulu pas di Unpad.”
“Waah, kok dia tahu?”
“Entahlah, gue juga ngga ngerti. Yang bikin gue makin heran, dia tetap aja ngotot, maunya sama gue!”
“Tapi lu itu bener gila. Tega bener ngomong blak-blakan ke cewe? Gue sih ngga tega ngomong kasar sama cewe, apalagi cewe cantik gitu!”
“Oooh, dia lebih cantik dari Putri?”
“Eeh, bukan gitu sih. Tapi dibanding dia, Putri my darling yang terbaik lah.”
Obrolanku dengan Dirga diakhiri ketika dapat kabar dosenku sudah masuk. Karena cuti kemarin, aku masih mengambil banyak mata kuliah wajib yang belum beres. Sementara Dirga sudah mulai menyusun tugas akhirnya. Meski masih mengambil beberapa mata kuliah untuk perbaiki nilai yang jelek.
“Ya udah Ga, gue kuliah dulu.”
“Okay!”
Setelah sekian lama tidak berkutat dengan ilmu eksak, ternyata perlu penyesuaian lagi nih otak. Meski sering menolong Remon dan Vina, tetap aja. Aaahh, moga cepat aja penyesuaian materi dengan otak yang mulai lemot ini. Biar nilai nggak ancur, tidak pusing dengan perbaikan. Segera menyeselain sarjana teknik ini, hemm.. sarjana hukum.. yang mana harus kudulukan? Aauuww ah, yang penting lakukan yang terbaik aja.
Berselang minggu terus berganti bulan, dan waktu itu begitu menyakitkan karena rindu dalam dada makin menyiksa. Rasa hampa berkepanjangan menggelayuti hati. Pesanku tak pernah dibalas, apakah dia segitu bencinya padaku? Sudah mencoba mengalihkan pikiran untuk menyeselaikan materi yang padat, kupaksaka semester ini, tetap saja saat ada waktu luang sepi merajai hati.
Kalau di sini, tidak berbatas. Jadi sepertinya aku harus menyelesaikan itu saja lah dulu. Tapi jika terlalu lama otak tidak diasah di eksak, bisa tumpul nih kepala? Aaahh, pusing senidiri dengan pilihan ini.. Padahal semua kulakukan demi dia..
“Bro, nanti malam kita main yuk? Kemana gitu?” tanya Hendri.
“Setuju, dah lama banget kita ngga main bareng,” sahut Dirga.
“Habis, sii coolman yang satu ini sibuk belajar aja?” celetuk Hendri.
Ku masih berkutat dengan buku mata kuliah jaringan tingkat 3. Bagaimana pun, satu semester ini ngga boleh ada yang gagal, begitulah misiku.
Bersyukur sih sebelumnya dapat nilai lumayan. Tapi, tetep saja agak ngeri dengan materinya yang makin lama makin tinggi.
“Lihat tuh, coba lu ulangi! Pasti dia ngga denger!” perintah Dirga.
“Apa? Kenapa?” tersadar ternyata mereka sedang ngomongin aku.
“Itu, Hendri mengajak main. Lu belajar mulu?”
“Oh, iya main. Boleh. Kemana?” masih fokus pada buku. Mencoba menuliskan rumus dos yang yang kira-kira cocok.
__ADS_1
Tiba-tiba Dirga menarik catatanku, dan membacanya. Sambil geleng-gelengn kepala dia mengatakan, “Ni anak, dulu kita eror terus bikin ini. terakhir baru sukses. Kalau nggak salah ini rumusnya memang benar.”
Kembali kurebut catatan itu, “aaah, lu.. gue lagi serius juga.”
“Iya, kapan kita jalan? Tinggalkan itu sebentar?” pinta Hendri.
“Itu, dia makin rajin, biar bisa kembali ke tempat Yukita secepatnya tuh,” dia memberi kode mata ke pada Hendri ke arahku.
“Oh, yang anak kecil dulu?”
“Jangan bilang dia anak kecil!” selaku.
“Tuh, pangeran tampannya langsung marah sang juwitanya disinggung dikit aja!” Dirga malah ngeledekin aku.
“Kalau saja gue tahu yang dimaksud Harry yang ini, pasti sudah gue telepon si jutek ini sejak awal. Masalahnya dia bilang tidak pernah bertemu, jadi ngga terbayang siapa yang dimaksud, ternyata orang ini yang dimaksud. Tapi, dulu bener-bener sempet heboh pasukan kita lihat melihat Yukita itu.”
“Iya, gue sedikit merasakan euforianya. Masalahnya gue terlambat gara-gara lagi jalan dengan Putri,” timpal Dirga.
“Mereka semua bilang, kalau anak sekolah itu belum ada pacar, dia mau yang nemenin nyari-nyari orang tersebut. Untung saja dia ketemu gue, orang yang baik. Kalau yang lain? Entah lah Bro?”
“Yaa, gue terimakasih banget sama lu, sampai ditemukan juga dengan Harry kadal dan Tika juga!” timpalku.
“Weeiiis, sorry Bro. Gue kan sudah bilang gue ngga membayangkan ternyata itu elu sebelumnya. Lu aja kagak ada cerita sama sekali pada gue juga!”
Kubuka laptop, dan sialnya aku lupa wallpaper-nya ialah foto pertama kali stalking dia dulu. Di situ dia terlihat sangat cantik.
“Widiiihh... lihat ni Ga! Foto siapa? Udah jadian yah?”
“Apaan sih?” langsung kubuka sistem dos, mencoba memasukkan rumus yang baru saja kucoba. “Yak! Cocok!”
“Berapa kali lu coba tu?” tanya Dirga penasaran.
“Ni, baru sekali. Tadi udah coba hitung-hitung dulu rumusnya. Terus hasilnya begini. Dan cocok ternyata.”
Dirga geleng-geleng, dan Hendri pun mengatakan, “Aaah, kenapa lu dulu ke Padang sih? Nilai gue hancur yang ini.”
“Gue udah beres. Kita main kemana gitu? Suntuk ni pala.”
“Yuk!” serempak Dirga dan Hendri bangkit. Laptop kumasukkan ke dalam ransel. Lalu, tas tersebut kusandang. Kami bertiga menuju parkiran, lalu melesat menuju Dago Pakar untuk menghilangkan suntuk sejenak.
***
Malamnya, tidak ada kerjaan. Tugas sudah beres, kawan-kawan sudah balik ketempat masing-masing. Tak lama lagi musim ujian. Sepertinya aku yakin untuk kembali ke sana. Siap dengan cercaan yang akan aku dapat dari mulut Yukita.
Apa pun yang akan dia katakan, aku sudah siap mental. Sepertinya itu lebih baik dibanding menahan rindu yang menyesak ini. Sudah berbagai kegiatan dilakukan, berbagai kesibukan yang sebenarnya tidak penting dilalui tetapi ada waktunya semua selesai. Dan itu meninggalkan lara yang merajam dada. rinduuu kenapa begitu menyiksa. Aaah, sok puitis. Semua gara-gara kamu! kembali terpana melihat fotonya.
__ADS_1
Ujian kembali kulalui. Terasa perbedaan dengan suasana ujian di sini. Kalau di sana, tiap ujian akhir semester, kami diwajibkan menggunakan putih-hitam. Yahm terpaksa seperti orang mau nikahan tiap ujian. Eh, bukannya nikahan itu pakai jas? Hehe, salah.
Tapi jujur, aku selalu suka euforia putih-hitam tiap ujian. Karena Yukita selalu menggunakan rok hitam, dia terlihat sangat manis setiap masa ujian. Haaah, hapalah..hapalah... makin dekat, waktunya serasa makin tidak sabar.