Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
bab 15 Genta


__ADS_3

Demi study banding itu, membuatku semakin giat belajar beberapa waktu terakhir. aku harus bisa menguasai kuliahku, demi mendapatkan beasiswa agar bisa ikut ke Bandung. Tidak hanya itu, aku juga semakin sibuk membuka surat kabar terbaru mencari lowongan kerja part time. Dan masih “demi menuju tempat seseorang yang ada di Bandung.”


Seandainya teman-teman lain tahu tujuan utama ke Bandung untuk mencari orang yang tak tahu batang hidungnya, mungkin mereka akan bilang aku ini “GILA?” aku harus giat belajar, agar nilai akhir semester nanti bagus dan bisa mengurus permohonan beasiswa ke pihak fakultas. Jika diterima, aku akan menerima beasiswa itu awal semester tiga.


Walau begitu, aku yakin beasiswa yang diterima setengah dari jatah untuk semester ganjil tidak akan mencukupi biaya yang dibutuhkan untuk study ini, makanya aku harus cari kerja.


Akhirnya… aku dapatkan kerja part time sebagai penjaga kios pulsa di kawasan Pasar Baru atas pertolongan teman-temanku. Minggu pertama, aku digaji sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk training. Minggu-minggu berikutnya, aku digaji lima ratus ribu rupiah setiap minggunya, lumayan sekali bagiku yang hidup pas-pasan ini. Dan bisa membantu biaya kuliah tanpa membebani orang tua. Sekarang, tak ada lagi hari libur untukku karena dari hari Senin hingga Minggu waktu ku isi dengan kuliah sambil bekerja.


Ibuku, tak tahu akan hal itu. Jika Ibu tahu aku bekerja, Ibu pasti langsung menyuruhku berhenti dan cukup konsentrasi saja pada kuliahku, dan impianku bertemu Hary musnah sudah. Saat libur tanggal merah aku minta izin pada Ibu untuk belajar kelompok di kos-kosan teman. Maafkan aku sudah membohongi Ibu… tapi… dosaku ini akan ku bayar dengan nilai yang membuat Ibu bangga padaku.


Aku belajar saat tak ada pelanggan, kadang-kadang saat mengisikan pulsa pelanggan aku mengulang kembali materi kuliah, dan Insya Allah ini sukses masuk dan tersimpan dalam memory otakku. Aku pulang, sebelum azan Maghrib menjelma. Untung Anggi adalah sahabat yang baik dan menemaniku hingga aku pulang dan mengantarkanku hingga rumah. Terima kasih Anggi… kamu memang The Best Friend… setelah mengantarkanku, Anggi sholat Magrib di masjid dekat rumahku. Kadang-kadang aku tak enak juga… nanti aku traktir saja deh.


Tak jarang saat liburan Feli, Chesi ataupun Rani singgah ke tempat ku bekerja. Begitu pula dengan teman-teman sekelasku yang sering nongkrong di tempat kerjaku. Setelah menerima gaji, uang itu langsung ku tabung di Bank. Pernah teller Bank terkekeh karena aku selalu memasukkan uang selembar bewarna merah muda dengan nominal seratus ribu rupiah. Kenapa dia tertawa? Suka-suka aku donk mau menabung berapa saja? Sedangkan uang yang lain kugunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa membebani Ibu lagi.


Mid Semester datang… aku sedikit kesulitan membagi waktu. Tapi Insya Allah karena usaha selama ini, membuatku sedikit lega menghadapi ujian tengah semester ini. Ngomong-ngomong… ada seorang yang tak pernah mengunjungi tempat kerjaku, dialah Akel… di kampus pun aku tak pernah bertemu dengannya. Jika satu kelas, mungkin dia ada di sisi yang tak terlihat olehku, jadi aku tak tahu bagaimana kabar “si dingin” itu saat ini.


Selesai Mid Test, aku ke gedung PKM karena aku sudah janji pada Nova akan memasukkan karya ku. Aku menulis sebuah cerpen yang diangkat dari kisah nyata. Cerpen ini berkisah, tentang seorang gadis yang kuliah di jurusan yang tidak sama sekali masuk dalam perhitungannya. Hal itu membuat si gadis kuliah dengan malas-malasan. Lalu terdengar kabar bahwa anak-anak fakultasnya akan mengikuti study banding ke Bandung. membuat si gadis memaksakan dirinya untuk mensyukuri apa yang didapatinya selama ini. Si gadis mencoba mengajukan beasiswa agar bisa mendapatkan biaya untuk onkos ke Bandung. Bukam hanya itu, si gadis mencari pekerjaan di sana-sini namun tak kunjung dapat. Si gadis mendapatkan pekerjaan dan dia kuliah sambil bekerja. Si gadis mendapatkan beasiswa, dan mampu mengikuti study itu dengan usahanya sendiri. Ini membuktikan, jika kita ingin menggapai impian… harus terus berusaha tanpa menyerah. Maju terus… pantang mundur. Namun cerpen ini tidak berisi tentang pencarian laki-laki yang tak tahu gimana? Ini murni hanya tentang si Gadis dengan cita-citanya menginjakkan tanah Sunda yang tak pernah dikenalnya.


Cukup lama tobloid Genta ini tak menerbitkan edisi terbarunya. Sering ku hubungi Nova apakah edisi terbarunya telah beredar? Katanya lagi cari dana untuk percetakannya. Aku tanya apa karyaku akan dimuat di edisi itu? Dia hanya redaksi bagian periklanan, dan tidak menahu tentang editing dan percetakkan. Dia juga bilang, dana yang diminta melalui proposal ke pihak rektorat masih belum turun. Padahal akan diterbitkan, dan pihak rektorat telah memeriksa yang akan diterbitkan. Namun, karena ada tulisan yang menyinggung pihak rektorat, membuat dana itu tidak jadi diturunkan. Kasihan juga pers kampus kita? Jadi tidak bisa lebih leluasa menyebarkan berita yang nyata pada semua mahasiswa kampus ini. Dan itu membuatku pasrah dan tidak mengharapkan lagi cerpen ku itu di-terbitkan atau tidak.


Saat tak terpikirkan lagi olehku tentang cerpen itu, Nova mengirimi pesan:


Assalamualaikum Yuki… udah lihat tabloid yang terbaru belum?


Walaikumsallam. Belum Nov, emang kenapa?

__ADS_1


Selamat ya Yuki… karya kamu diterbitkan!


Ohya? Alhamdulillah… ternyata karyaku bisa diterima dan masuk hitungan juga.


Makasih atas infonya ya Nov.


Langsung kucari tabloid Genta itu. Ternyata di kolom Sastra, tidak hanya karyaku yang diterbitkan. Ternyata ada karya “Milyantika” yaitu Mili dan “Akel Haryendra.” Mereka dua temanku.. kapan Mili masukkan puisinya?


Mimpi oleh Milyantika


Rasaku tlah sirna


Ketika malam berangsur pekat


Mengalirkan dingin di aliran nadi


Pasti kutlah terbiasa


Bulu-bulu sayap putih bertebangan


Berjatuhan dari dalam pesona langit ungu


Dan kutlah masih dengan segenap warnaku


Menatap semua dengan pana

__ADS_1


Apa itu dalam ketinggian mega pekat


Melekat ungu di kedua sisi alam fatamorgana


Indahnya seperti kekeringana di Padang pasir


Rasaku membuat gila


Buat tertawa kala sedih


Buat menangis kala suka


GILA… GILA


Seperti malaikat turun menyambutku


Dengan pelangi warna di pelupuk nadiku


Ku bermimpi rajaku tlah sirna*


Hehe… karya Mili memang tak diragukan lagi setelah membaca itu langsung ku chat.


Mili… puisimu diterbitkan di tabloid Genta edisi terbaru.


Selamat ya… puisimu bagus banget…

__ADS_1


Makasi ya Ki ( cerpenmu juga keluar nih, selamat juga ya…


__ADS_2