
Haaah…tiba-tiba aku terbangun lagi, mungkin sekarang sudah pagi, tapi bis tak bergerak. Semuanya masih tertidur. Aku berdiri dan melepaskan headset yang masih terpasang walau tak ada lagi suara nyanyian yang terdengar karena baterai hape itu telah habis dan mati total.
Ku taruh hape itu dalam tas ku, dan berniat nanti ku kembalikan lagi pada pemiliknya. Ternyata supir tidak ada di tempat. Kubuka pintu busnya, ku intip keluar dan aroma pengap langsung menusuk hidungku.
Ku terus keluar dan terasa udara panas di sisiku. Ini di mana? Penerangannya hanya beberapa lampu sorot. Dan tampak supir menyandarkan tubuhnya di sisi bis.
“Pak… kok berhenti?”
“Oh… kita di atas kapal Dik. Kita sedang menyebrang ke Pulau Jawa”
“Jadi sekarang kita di tengah laut ya Pak?” rasanya tak percaya “kapan sampainya Pak?”
“Mungkin satu jam lagi, karena waktu untuk menyeberang tak membutuhkan waktu yang lama”
“Pak, apa aku boleh ke atas lihat pemandangan luar? Lagian di sini udaranya tak segar”
“Ya, tentu saja boleh. Tapi kalau kapal telah berlabuh, langsung bergabung dengan yang lain ya!”
“Oke deh pak. Makasih ya Pak” aku berlari menaiki Bis.
Uuuppsss… ternyata semuanya masih tidur. Dan terasa berbeda sekali udara dalam bis dengan luar bis. Untung saja bis ini difasilitasi dengan AC, sehingga udaranya tetap segar tak seperti di luar. Jika tak ada AC nya, mungkin kami semua telah mati lemas sejak tadi.
Mili terlihat begitu lelap dan membuatku tak tega membangunkannya. Yah… kayaknya aku harus berani ke atas sendirian. Ku naiki tangga demi tangga hingga sampai di bagian kapal yang terbuka.
Dan aroma lautan yang segar memenuhi rongga dadaku setelah sesak oleh aroma pengap berada di lambung kapal. Ku hirup udara segar ini dalam-dalam, kulakukan sedikit peregangan, melonggarkan badan yang terasa pegal sepanjang perjalanan. Langit masih gelap, namun sebuah cahaya merah yang mungkin itu ufuk timur.
Di atas dek ini, tampak beberapa orang yang memandangi lautan, walaupun udaranya terasa begitu dingin, demi melihat pemandangan yang indah itu mereka rela kedinginan. Aku lupa membawa jaket dan cukup tergidik karena kedinginan. Tampak seorang pria memandangi lautan. Matanya entah melihat apa, yang jelas dia sangat tenang.
“Hey… nggak tidur ya?” sapaku.
“Udah… tapi terbangun waktu bis kita masuk ke lambung kapal”
__ADS_1
“Jadi udah dari tadi di sini?”
“Bisa dibilang begitu. Kamu sendiri?”
“Tadi aku terbangun. Oh iya… baterai hapemu habis. Ku taruh dalam tas ku saja, nanti ku kembalikan”
“Oh… iya… nggak apa." tiba-tiba dia membuka jaketnya, dan memasangkan pada ku yang tengah melipat tangan karena kedinginan. deg... kembali ada desiran halus di hatiku karena perlakuan nya yang tak biasa ini.
Dia tersenyum, "Kamu udah sholat belum?”
“Belum.." kataku sambil membungkus seluruh tubuhku dengan jaket nya. tercium aroma parfum yang biasa dipakainya.
“Sholat yuk… waktu Subuh dah masuk nih”
“Ayuk…” sambil menuju mushala di kapal itu, tampak pijaran-pijaran api gunung Anak Krakatau. Itu seperti menonton pesta kembang api… dan begitu indah… setelah sholat… Akel menarik kembali ke tempat tadi, entah kenapa ku seperti terhipnotis mengikutinya, tanpa sadar tanganku sudah dalam genggamannya.
“Itu pulau Jawa!!!” katanya. tersadar segera melepas tanganku yang tadi masih dalam genggamannya.
“Kamu kan ingin sekali ke sana” tubuhku terasa panas. Kutepuk-tepuk pipiku agar aku sadar. dia itu Akel, dia itu Akel.. Sudah memiliki orang lain di hatinya, dan aku juga sudah memiliki Hary di hatiku.
“Enggaaa” lalu ku topangkan daguku di kedua tanganku yang disandarkan di pagar dek kapal, sambil memfokuskan pandangan ke arah yang ditunjuk Akel.
“Kenapa kamu ingin ke sana?” tanyanya dengan lembut.
Kufokuskan dan kuatkan hati, karena aku ingin bertemu dengannya, seseorang yang telah ku cinta dalam hati.
“Kamu sendiri bagaimana hubunganmu dengan pacarmu yang di kampungmu itu??"
“Kenapa kamu selalu menanyakannya?”
Habis kenapa kamu begini padaku? jawabku dalam hati, “Pengen tahu aja kok, emangnya nggak boleh?”
__ADS_1
“Baiklah, aku akan cerita. Dia adalah orang yang sangat kucinta. Aku tak ingin melepaskannya, bagaimana pun dia.”
“Emang udah berapa lama?” katanya cinta, kenapa terus mencoba mengusikku? huufftt... huufftt... mungkin dia memang begitu terhadap temannya. Kembali kutepuk-tepuk pipiku. Tak boleh berharap lebih padanya, teguhku.
“Selama tiga tahun ini, perasaanku tak berubah sedikitpun padanya”
“Hemmm… lama juga ya?” kok semakin sama dengan apa yang aku rasakan?
“Pasti pacarmu itu bahagia saat bersamamu”
“Nggak tahu juga?”
“Kok gitu? Kamu selalu bertemu dengannya kan?”
“Pasti ketemu lah… hanya saja dia tak tahu perasaanku.”
“Oh… jadi gitu? Aku sering baca puisimu. Ternyata itu maksudnya?”
“Emang kenapa?”
Cukup lama kami berada di sini, hingga pagi mulai duduk di singgasananya.
“Yuki… kamu dari mana? Kok nggak ngajak aku?” Mili muncul bersama Anggi diikuti oleh teman-teman lainnya.
Tadi kamu tidurnya lelap sekali, aku jadi tak tega bangunin kamu. Makanya aku pergi saja”
“Dengan dia?” Anggi menunjuk ke arah Akel dan pandangan mereka beradu.
“Enggak, tadi dia udah duluan sih. Aku tadi jalan sendiri saja.”
“Kalau sama gue pun nggak masalah.” Celetuk Akel.
__ADS_1
Tatapan mereka sama-sama tajam, “Sudah-sudah. Ngapain juga ngeributin yang tidak penting? Mending kita melihat pemandangan! Lihat! Ada lumba-lumba!” lalu kami melihat atraksi mamalia air yang sangat indah.
Kapal merapat perlahan, Pintu bagasi kapal terbuka semuanya, dan perlahan Bis kami mulai melanjutkan perjalanan kembali meninggalkan pelabuhan Merak, Banten.