Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Bab 37 Orang yang Menyebalkan


__ADS_3

“Kamu nggak pernah lihat pemandangan ini ya?” tanyaku merasa ekspresi nya sangat lucu.


“Aku baru tahu kota kecil ini bisa tampak begitu indah dari sini” lalu dia kembali duduk rapi dan membaca komik dan seolah-olah tak peduli.


Padahal aku tahu, jika aku kembali memandang panorama itu, dia juga ikut kagum memperhatikan itu. Setiap kulihat aja, lagaknya sok sibuk baca komik.


Beneran gregetan dengan tingkahnya yang sok jaim begini.


Waduh… pemandangan itu sudah tertutup oleh hutan-hutan yang ada di wilayah Bukit Barisan ini.


Seperti biasa pula, jika sampai sini perutku selalu mual dan kepalaku terasa ikut berputar-putar setiap bis memutari bukit-bukit ini.


Kupingku terasa kemasukan air, lalu ku tahan nafas, tutup kedua kuping ku, baru pendengaranku kembali seperti biasa.


Itu disebabkan perobahan suhu yang drastis dari Padang yang bersuhu panas ke pegunungan yang sejuk ini.


Gara-gara kepala pusing dan perut mual, aku teringat kembali waktu aku berumur tiga tahun, Ibu mambawa aku dan Uniku ke Batusangkar untuk mengikuti sebuah acara, dan aku muntah selama perjalanan.


Aku berkata pada Ibu “Bu… besok aku nggak mau ikut lagi. Aku ditinggal saja, tapi Ibu harus beri Yuki jajan” tentu dengan gaya balita yang lucu.


“Kamu mual ya?” ku anggukkan kepala.


Lalu dia merogoh sesuatu di kantong kemejanya “nih…!!!” di memberiku permen rasa jahe.


“Dalam perjalanan, kita harus banyak ngomong, biar nggak mabok”


“Gimana juga caranya ngomong? Kan kamu yang larang aku banyak tanya”


“Jadi karena itu kamu ngambek?”


“Aku nggak ngambek”

__ADS_1


“Baguslah…” lalu dia memperbaiki posisi duduk yang lebih nyaman, dan melanjutkan membaca komik. Dengan kelakuannya itu, aku hanya bisa mengerutu dalam hati.


“Udah m! Jangan manyun gitu!” aku hanya diam dan mengutuki dia dalam hati.


Diaa benar-benar ngebete’in “oke deh… kamu mau nanya apa?” sepertinya dia menyadari kekesalanku.


“Hehe… jujur ya, aku penasaran pengen tahu tentangmu. Tapi kamu janji cerita sama aku!”


“Kalau tidak terlalu pribadi, akan ku jawab”


“Kamu ulang tahun tanggal berapa sih?”


“Pas tahun baru” dia terus membaca komiknya, hmmm tanggal 1juga ya? oh, mungkin kebetulan.


“Kel…”


“Hemmm”


“Kacamatamu ada embunnya tuh” lalu dibukanya kacamatany, sejenak dia menatapku. Untuk pertama kalinya aku langsung beradu pandangan melihat bola matanya, karena biasanya dia memakai kacamata. tiba-tiba terasa ada desiran di jantungku.


“Kel, kamu anak keberapa?”


“Sulung” sama juga, dia juga anak sulung.


“Baca komik apa sih? Serius banget?”


Dia mengangkat komik, dan tampak yang dibacanya adalah komik NARUTO Shippuuden.


“Ini masih banyak, kamu mau minjem? Daripada nanya melulu?”


“Oke… aku baca komik aja” namun… membaca komik tak semudah yang ku bayangkan saat berada di bis ini.

__ADS_1


Akuu tak bisa membaca jika yang ku baca dan tubuhku bergoyang-goyang kayak gini terus. Padahal ceritanya lagi seru-serunya, karena aku memang sangat menyukai serial ataupun komik naruto.


Tidak hanya itu, aku juga menyukai One Piece, Doraemon, Crayon Shinchan, Dragon Ball, pokoknya semua kartun yang lucu. Tapi, benar-benar susah baca komik di atas bis, kepalaku jadi pusing dan ku lempar komik tadi ke pangkuan Akel. Namun dia tak peduli dan terus melanjutkan membaca komik itu.


Kucoba memejamkan mata, meniru yang lain dengan santainya tidur dalam perjalanan, tapi ternyata tak bisa. Kubuka hape mencoba browsing, atau menengok sosmed, ternyata batrainya malah habis. Malah tadi lupa ngecash hape.


Kulihat kembali Akel, dia tampak tergelak sambil membalik-balik komik. tak tahu apa ya, teman sebelahnya lagi uring-uringan karena merasa tak nyaman?


Setelah enam jam perjalanan, kami telah berada di Dharmasraya. Dan di sinilah kami beristirahat melepaskan penat dan sholat.


Saat akan melanjutkan perjalanan, aku meminta Anggi agar aku duduk di sebelah Mili. Dengan senang hati Anggi membiarkan aku duduk di tempatnya tadi.


“Emangnya tadi di belakang kenapa?” tanya Mili.


“Waduh, gila? Bosen banget aku… dia menyebalkan” Mili hanya tertawa.


Bersama Mili aku merasa perjalanan yang tadi saat duduk di sebelah Akel yang terasa membosankan saat bersama Mili jadi terasa menyenangkan, sepanjang jalan kami terus bercerita. Kadang aku iseng nyuruh Mili membuat puisi apa saja yang kami anggap aneh.


Malan sudah menyambut perjalanan kami, dan lampu buss sengaja dimatikan, namun tetap aku tidak bisa tertidur. Lelah memang, hanya sendiri yang terus memandangi kegelapan di luar dan tengah malam kami sampai di Lubuklinggau dan perjalanan tetap dilanjutkan.


Hari telah berganti, namun tubuh yang lelah ini tetap tidak bisa diistirahatkan. semuanya telah terlelap, aku masih dalam kebingungan mencoba untuk tidur.


Mungkin hanya aku sendiri yang masih merasakan betapa dinginnya malam ini. apa yang harus ku lakukan? Tak mungkin membanguni Mili atau Anggi?


“Kamu nggak bisa tidur?” tanya Akel yang tepat berada di belakangku.


“Iya… aku pusing dan lelah di atas bis ini. tak bisa baca, tak bisa tidur, dan tak bisa ngapa-ngapain. kamu sudah bangun aja?"


“Habis orang depanku berisik sekali. jadi terbangun.. Gini… aku punya tips buat kamu. Bayangin aja gerakan bis ini merupakan alat pijat refleksi. Kamu harus tenang, jangan panik! Pikiranmu harus santai! Dan dengerin musik instrumental yang slow!”


“Tapi batraiku abis, lupa tadi ngechas gara-gara buru-buru. Lagian aku tidak punya musik instrumental yang kamu bilang itu.”

__ADS_1


Lalu dia menyerahkan hapenya “pasang headsetnya. Tinggal denger aja kok”


Lalu ku dengarkan MP3 di handphonenya yang melantunkan musik instrumental yang melankolis. Dan semakin lama, semuanya terasa remang-remang dan gelap. Aku seperti bermimpi ada yang mengelus kepalaku dengan lembut dan sebuah kecupan di kepala membuatku semakin tenggelam dalam tidur lelapku.


__ADS_2