Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
S3-10


__ADS_3

Papa mau meminjamkanku uang nggak ya? Aah, tidak enak rasanya. Kembali kupandangi wajah cerianya tengah memilih-milih pakaian yang tengah terpajang dengan indahnya.


Aku dekati dia sebentar, "Yang, aku pergi dulu sebentar ya?"


"Mau kemana?"


"Ke belakang."


"Oh, ya udah. Yuki tunggu di sini ya?" ucapnya menyugar rambutku agar kembali rapi. Aku hanya membelai pipinya, dan tampak pegawai toko tengah memperhatikan tontonan gratis ini.


Aku langsung menuju ATM. Tidak elite sekali memang. Dimana para suami cukup menggesek kartu membayar belanjaan istrinya. Sementara aku harus bolak-balik ATM mengambil uang setiap berbelanja.


Suatu saat nanti, ya suatu saat nanti semua akan kuwujudkan. Semua tidak ada yang instan. Aku mengecek saldo, yang terakhir kali kuingat tinggal satu juta lebih dikit. Namun, uang itu melebihi dari dana yang ada dalam bayanganku. Lebihnya pun sangat banyak. Banyak sekali malahan. Ini pasti kerjaan Papa.


Aku ambil uang secukupnya, lalu segera menelepon Papa. Menunggu panggilan diangkat, terlihat Yukita berjalan mendekat. Panggilan aku batalkan


"Katanya Aa lagi ke toilet? Yuki cari ke sana, Aa nggak ada. Ternyata di sini sedang telponan? Kenapa telponnya ditutup Aa?" tanyanya dengan nada curiga.


"Enggak, Aa hanya mengambil uang saja."


"Kenapa tidak ajak Yuki?" Masih dengan nada curiga.


"Tak apa, jangan dipikirkan!" ucapku kembali merangkulnya.


"Ayo bilang, Aa nelpon siapa sih?" Dia mulai mendesak.


"Kenapa? Tumben kamu begini?"


"Tadi kakak-kakak pegawai tokonya bertanya, Aa siapa? Ditebaknya kalau Aa itu adik Yuki. Yuki kan jadi malu. Masa Aa dibilang adik? Berarti Aa kayak umur sepuluh tahun dong? Makanya Yuki pergi aja." Dia memasang wajah cemberut, sementara aku hanya bisa menahan tawa.


"Jadi Aa ini adik kamu ya Sayang?" godaku. Aku tahu dia pasti langsung insecure mendengar ucapan itu. "Jangan dipikirkan. Kamu masih kayak anak dua belas tahun kok."


"Yeee ... Aa malah makin jadi ngetawain Yuki." Mulutnya semakin maju ke depan.


"Udah dapat bajunya?" Kucoba mengalihkan pembicaraan. Kembali menggandeng tangannya. "Ngomong-ngomong udah gak sakit lagi saat jalan?" Dia menggeleng. "Lalu bisa kita ulang lagi dong?" bisikku di telinganya. Matanya membesar lalu mencubit pinggangku.


...****...

__ADS_1


"Capek A'," ucapnya duduk di salah satu bangku yang tersedia di dalam mall ini.


"Habis kerjaanmu puter-puter doang. Ya pantas aja capek. Kenapa tidak jadi beli?"


"Mahal semua Aa, nanti uang Aa habis. Nanti kita cari baju diskonan tujuh puluh persen aja Aa," ucapnya lagi.


"Dimana? Kapan?"


"Di sun departmen store. Biasanya akhir tahun atau awal tahun."


"Dih, lama amat? Ayo beli! Aa punya banyak uang kok Sayang." ucapku menepuk kantong celana.


"Kok tiba-tiba banyak? Bukan kah uang Aa tinggal dikit?"


"Siapa bilang? Uang Aa banyak kok."


"Yuki ngecek dompet Aa tadi malam. Ada struk sisa saldo tabungan Aa yang tinggal dikit. Belum lagi kita masih beberapa hari lagi di sini. Kalau kita keluar dari hotelnya sekarang, masih bisa dikembalikan ga ya sisanya?"


"Waaah, semenjak jadi istriku, kok kamu makin ceriwis begini ya? Mana ada anak dua belas tahun bisa berpikiran seperti itu?" Kucolek pipinya.


"Ayo kita cari lagi mana yang bagus buat kamu? Kita belikan buat Ibu dan Ayah sekalian."


"Waah? Bener?" tanyanya memastikan dengan wajah sumringah.


"Iya Sayang. Ayah Ibu kan udah jadi orang tuaku juga."


"Kakak?" tanyanya lagi.


"Oke, untuk Kakakmu juga."


Memang seharusnya aku memberi hadiah untuk mereka semua. Apalagi kakaknya yang bersedia dilongkahi oleh Yukita. Di mana sang kakak masih belum menikah, didahului oleh Yukita karena aku yang terus mendesak.


Akhirnya, Yukita bisa memilihkan pakaian untuk seluruh anggota keluarganya. Akan tetapi, dia tidak jadi membeli pakaian untuk dirinya sendiri.


"Kenapa kamu tidak beli juga? Uang Aa banyak kok!"


"Nanti Yuki beli yang di pasar murah aja Aa. Baju Yuki udah banyak kok. Apalagi nanti kita akan memulai hidup baru kan? Pasti biayanya sangat besar."

__ADS_1


"Waaah, anak kecil ini langsung berubah jadi dewasa setelah jadi istriku." menyoel pipinya gemas.


"Ayo kita balik ke hotel dulu. Barang bawaan banyak banget. Kita ambil mobil lalu pindah lokasi."


"Mau kemana habis ini Aa?"


"Kita ke Payakumbuh yuk? Aku dengar banyak destinasi wisata yang indah di sana." Lalu berjalan menenteng belanjaan istri. Udah berasa bapak rumah tangga sungguhan.


...****...


Perjalanan kami lalui lebih kurang selama satu jam. Destinasi wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah Kelok Sambilan. Sebuah jalan layang raksasa yang dibangung pada masa kepemimpinan presiden sebelum ini.


Kami berpoto dengan pemandangan yang indah mengelilingi tempat ini. Yang membuat tempat ini memesona ialah seperti berdindingkan raksasa hijau sepanjang mata memandang. Kami nikmati jagung bakar pedas di warung yang menjamur di bagian puncak tempat ini. Ini untuk pertama kali aku ke sini.




Setelah merasa cukup puas, kami berpindah ke destinasi berikutnya. Kali ini kami bermain dengan air.




Mata ini sungguh kenyang oleh lukisan alam yang memesona. Awalnya aku ajak istriku untuk ikut naik ke rakit tersebut. Namun diat takut, sehingga kami tidak jadi menggunakan rakit itu.


"Nah, mau lanjut lagi apa udahan dulu?" tanyaku.


"Udah siang ni A, kita makan dulu yuk?"


"Oke."


Akhirnya kami meluncur kembali ke pusat kota Payakumbuh ini. Memilih makan di warung nasi biasa. Kami menikmati hidangan dengan sangat lahap. Tenaga benar-benar terkuras akibat perjalanan ini.


"Waaau, sempit sekali dunia ini, sampai berjumpa pasangan sialan ini di sini?"


...*bersambung*...

__ADS_1


__ADS_2