
Liburan semester sudah usai, kali ini aku ditugaskan sebagai senior mengospek junior. Ternyata cukup melelahkan. Mengajak para junior untuk saling mengenal dengan semua anggota seangkatan, dengan para senior, semua dosen.
Pada sesi terakhir, menyuruh mereka mengirim surat cinta untuk senior paling pavorit. Ternyata, aku malah mendapat surat cinta yang cukup banyak. Ini membuatku sedikit bersyukur, berarti aku termasuk senior yang mereka suka.
Sedangkan sejak terkhir di pantai, Anggi terus menghindariku. Bersama Mili, ku selalu berusaha untuk menjaga perasaannya, dan aku sendiri tak tahu bagaimana perasaanku. Dan terkadang, hubungan kami seolah tampak kaku.
Apa yang harus aku lakukan agar semua kembali? Apakah akan terus tak sama seperti ini? meski saat ini aku dan Mili dekat, namun hati kami terdapat bentangan jarak yang panjang. Anggi, yang biasanya selalu ada, sekarang untuk melihatku pun dia tak mau.
Ini adalah hal yang paling kutakutkan dalam persahabatan. Gara-gara cinta, semua jadi rumit. Namun jika dunia ini tanpa cinta, semua pasti terasa lebih rumit lagi. Kubutuh cintaku..cinta yang bisa mengobati laraku saat ini.
Jadwal perkuliahan sudah dimulai, ternyata sekeliling kelas, masih belum tampak orang yang kuharap hadir. Orang yang dalam diamnnya terus memperhatikan gerak-gerakku. Orang yang selalu ada untukku, orang yang selalu tertulis dalam hatiku. Apakah kali ini juga sama? Satu semester tanpa dia lagi?
“Mili, kita ke perpustakaan yuk!?”
“Mau cari bahan tugas?”
“Bukan, aku ingin cari referensi untuk judul tugas akhir, skripsi!”
“Waah, kamu sudah mulai ngajuin judul?”
“Rencananya sih iya Mil. Aku ingin secepatnya menyelesaikan ini semua.”
__ADS_1
“Kalau kamu cepat tamat, aku tinggal sendiri donk?”
“Mari kita berusaha semaksimal mungkin yuk?” kugandeng tangan Mili, berharap pembatas yang panjang itu semakin pendek, hingga tak ada lagi jarak yang membuat canggung diantara kami berdua.
Awalnya kucoba mengecek dan membaca jurnal hukum yang dibuat oleh dosen kami. Mencoba memilih, ke arah mana harus kucoba menulis skripsi dengan judul paling menarik. Kemudian, mencoba membuka skripsi-skripsi senior tahun sebelumnya. Enaknya mengambil judul apa ya? Pidana, perdata, atau agraria?
Aaah, pusing...!! akhirnya lelah dan bosan membaca itu semua, kuletakkan kembali semuanya di tempat semua.
Keluar dari ruangan khusus skripsi, rencananya hendak duduk dan istirahat, tampak sosok yang kurindu selama ini sedang mencari-cari buku di rak. Kuikuti dia, dia terus mengarah ke tempat yang tak terlihat olehku. Terus kuikuti, dan tampak pria yang sepertinya berkaca mata sedang membaca.
“Akel? Haryy?” namun dia tidak merespon sama sekali. Lalu kucolek, dia membalikkan badan ternyata, bukan.
"Ya? Ada apa?" tanya orang itu heran... tiba orang tak dikenal nyolek-nyolek.
Ternyata Bukan orang yang selalu kupikirkan. Apakah aku mulai gila sehingga berhalusinasi? Hary, aku sangat merindukanmu.
Mili masih tampak memilih-milih buku. Ku duduk di bangku ruang baca, membuka hape. Kucoba membuka obrolan kami terakhir, scrool yang sudah sangat jauh karena sudah lama tak ada kontak di antara kami.
Kembali, semburat rasa malu memenuhi hatiku. Membuatku merasa ciut untuk terus mengharapkannya. Selanjutnya kubuka profil sosmednya ternyata tak ada foto profile dan tak ada keterangan sama sekali tentangnya.
Mengapa selama ini aku tidak pernah menyadari begitu banyak kesamaannya dengan orang yang selalu ada dalam benakku. Dulu aku berpikir, mengapa Harry tidak mau menggunakan foto profil mungkin karena wajahnya tidak bagus untuk difoto. Tapi kenyataannya, bahwa dia sendiri memiliki banyak penggemar, bahkan semuanya terbilang cantik.
__ADS_1
Sekarang aku beralih ke galery. Berharap ada fotonya yang nyangkut agak satu atau dua. Ternyata tak ada juga. Wajahnya sama sekali tak terdapat dalam galeri fotoku. Bagaimana cara aku mengingatmu Harry? Apakah cukup dengan mengingat bahwa kita pernah sekelas selama tiga semester itu?
“Yuki..? Yuki...?” ternyata Mili sudah berada di sebelahku. Entah sejak kapan, aku tak menyadarinya.
“Kamu melamun lagi?”
“Oh.. eh.. enggak...” jawabku canggung.
“Kamu memikirkan Akel eh.. Harry lagi ya?” ku hanya diam, aku tak tahu harus mengatakan bagaimana perasaan ku yang saat ini sakit karena merindu pada Mili.
“Yuki... kamu harus tahu! Aku lah yang akan mengalah diantara kalian. Karena kalian itu berhak untuk bersama. Jangan gara-gara kamu memikirkan ku, kamu terus merasa sakit sendiri?”
“Mili, antara kami mungkin memang tak ada lagi celah untuk bersatu. Mungkin dia tidak ingin lagi ke sini?”
“Yuki... kamu punya ini!” mengangkat hapeku, dan menaruhnya kembali.
“Kamu bisa mengontaknya kembali..!”
“Tapi jika dia sudah tak mau menemuiku bagaimana? Karena aku lah semua ini terjadi. Dan aku yang pergi darinya...!”
“Yuki, kamu belum mencoba? Masa sudah kalah duluan? Mana semangat Yuki yang aku kenal dulu? Yuki yang aku kenal dulu orangnya selalu ceria, selalu berpikir positif. Bukan Yuki yang selalu murung dan pesimis seperti ini!”
__ADS_1
“Mili, apa kamu yakin? Apa aku tidak apa melanjutkan cintaku pada Harry?” dia mengangguk dan tersnyum pasti. Kembali kupeluk dia, semoga persahabatan ini akan indah untuk selamanya.