
“KAMU JAHAAAT.. KAMU JAHAAATT.. KAMU JAHAAATTT...
AKU INGIN PULANG.. TAK MAU LAGI DI SINI
KENAPA KAMU BEGITU???
AKU SIAP BILA KAMU MEMILIKI LAIN
TAPI BICARA DENGANKU SATU MENIT SAJA KAU TAK MAU
AKU INGIN PULAAAANG!!!”
Akhirnya pecah semua tangisku, rasa sesak itu terus kuluapkan hingga semua terasa berkurang. Akel membawaku ke suatu tempat yang indah, dimana-mana terlihat hijau, suatu wilayah perbukitan, di tepi jurang ku bebas berteriak dan suara itu memantul kembali kepadaku. “Kenapa? Kenapa aku begitu gila? Aku malu pada diriku sendiri, sampai begini untuk mencari seorang Hary yang aku sendiri tidak tahu seperti apa. Tapi, hanya ini yang kudapat. Seharusnya aku memang tak berharap lebih, dan tak perlu pergi ke sini. Di mana jauh dari orang orang tua dan keluarga yang ku sayang.”
Ku lihat Akel, berada cukup jauh dariku menyembunyikan wajah dalam pangkuannya. Mungkin dia menahan tawa karena aku seperti orang gila, mungkin dia menyesal mengajakku ke sini karena lebih baik dia menghabiskan waktu yang seharusnya bersama pacarnya, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Sementara aku teriak-teriak sendirian tak karuan. meneriaki apa yang aku pikirkan. atau meneriaki apa saja walau bukan bahasa verbal. Yang penting perasaan yang meledak ini harus segera dikeluarkan.... hingga kerongkonganku terasa sakit. Lalu ku duduk diam memandangi ciptaan Tuhan yang indah ini. Cukup lama memang, hingga tenagaku terkumpul kembali usai menggila tadi.
__ADS_1
Melihat pemandangan hijau di sekitar tempat ini sedikit mengobati hatiku, karena aku suka hijau. Ini pertama kali ku menangis seperti ini, bahkan waktu putus dengan Hary pun aku tak menangis. Ku pandangi semua hijau, lembah tampak hijau, hijau sepanjang mata memandang.
setelah tenagaku cukup untuk membuatku berdiri, tiba-tiba kewarasanku muncul kembali. Aku tak boleh nangis lagi. Buat apa??? Bodoh! Bodoh sekali aku bisa seperti orang gila, dan begitu memalukan karena ada Akel. Lalu berjalan me arah Akel.
“Sudah puas nangisnya?” aku diam membelakanginya tertunduk, agak sedikit malu “matamu bengkak”
“Kita pulang yuk?”
“Ke mana?”
“Aku mau tidur, ayo kita kembali saja ke asrama..”
“Kenapa kamu begini?" kutepis tangannya yang sudah di ujung jemariku. "Kamu lihat sendiri? Aku dalam tidak keadaan siap untuk berbicara. Mungkin istirahatlah yang aku butuhkan saat ini!"
“Tapi... Yukita... aku ingin menjelaskan sesuatu yang penting kepadamu. Kamu harus tahu yang sebenarnya...bahwa...”
“Iya aku tahu...aku tahu.. Aku tahu, kamu ingin hibur aku.. tapi, sekarang ini aku ingin istirahat dulu.. Semoga perasaanku sudah kembali baik esoknya...”
__ADS_1
“Baiklah...” ujarnya pasrah..
Sampai di asram, langsung ku masuk tanpa berbicara apa-apa, langsung kubaringkan tubuhku, tanpa mandi.. ya Tanpa mandi..
“Yuki, kamu kenapa?” tanya Mili duduk di tepian ranjang tempatku tidur. Aku belum kuasa untuk menceritakannya pada Mili.
"Kamu bertengkar dengan Akel?"
Kududuk mengatur posisi di sebelah Mili, aku menggeleng dan memaksa bibir untuk tersenyum.
"Masalah Hary?"
Ku mengangguk pelan, dan kembali rasanya tercipta lagi bendungan di pelupuk mata.
"Kenapa begini? sudah ketemu dia? sudah bicara dengannya? apa benar dia sudah punya pacar?"
Aaahh... Mili... aku sedang tak ingin membicarakan ini malah terus diberondong oleh pertanyaan seputar dia. "Maaf ya Mili, aku belum bisa membicarakan ini sekarang..."
__ADS_1
Lalu Mili seperti tersadar kalau dia salah sikap, "Maaf Yuki, aku hanya khawatir padamu. saat kamu tadi tak ada kabar, betapa khawatirnya kami semua. Dan tadi Akel sudah kayak orang gila terus mencoba menghubungi kamu..." ujar Mili sendu, seperti menyimpan sesuatu.. "Kalau begitu, kamu istirahat dulu... Aku tidak akan mengganggu dulu..."
"Maaf ya Mili, sudah membuat kalian KHawatir,..." Mili hanya menepuk pelan pundak ku beberapa kali lalu kembali ku ke posisi tidur. Terus memikirkan semua yang telah kualami hingga aku sampai ke sini...