
Rencananya hari ini sebelum pulang, aku ingin mengungkapkan semuanya. Aku ingin momentumnya indah dan romantis.
Aku masih mengingat hal yang sangat disukainya, dulu dia pernah bercerita sangat menyukai mawar putih.
Hmmm.. mawar putih ya..? Kemana ya harus mencari mawar putih? Kucari informasi ke anak pertanian. Lalu diajaknya ke sebuah tempat, mungkin ini tempat mereka praktik. Di sana terdapat macam-macam jenis tanaman. Mulai dari yang paling kecil, hingga ke pohon yang besar.
Kemudian berbelok ke sebuah bagian, yang mirip sekali dengan taman bunga. Bermacam bentuk dan warna bunga ada di sini. Apakah diperbolehkan mengajak orang lain ke sini? Kalau boleh, lain kali bisa ngajak Yuki ke sini.
Akhirnya ketemu juga mawar putih. Kuucapkan terima kasih pada teman kost ku ini. Lain kali akan kuteraktir deeh. Lalu kubawa dulu ke kostan, agar bisa kupercantik lagi.
Kubuang durinya dan siap untuk diberikan pada gadis yang ada di rumah sakit..
Akhirnya sampai juga di kamarnya.
Terlihat dia sendiri dan bosan.
“Aku berangkat dulu ya? Tapi sebelumnya aku ingin bicara."
“Oh… udah mau berangkat ya? Emangnya mau bicara apa? Serius banget?”
“Ini untukmu” kuserahkan mawar putih cantik itu untuk dia yang cantik, kamu persis banget seperti ini .
“Makasi ya? Dicuri di mana nih?”
“Enak aja…” ini susah kucari ke ke fakultas pertanian, masa dibilang curi? Tampak dia tertawa renyah. Tiba-tiba dia terdiam dan melihat arah pintu, ternyata Aldi mantannya sudah berdiri dengan wajah marah.
“Kok dia ada di sini?” yang ditanya hanya diam seribu bahasa.
“Lu belum tahu ya?”
“Masksud lu?”
__ADS_1
“Gue dan Yukita udah balik lagi”
Apa? Balikan? “Kok kamu mau balik lagi dengan dia? Apa kamu tidak takut dengan kejadian dulu? Dan mungkin akan terjadi lagi”
“Eh… apa maksud lu? Lu jangan ikut campur urusan gue dan Yukita!”
Aku Hanya bisa bertanya dan berperang dalam pikiran seolah tak memercayai semua ini. Dia menerima pria brengsek ini lagi?
“Kel… kamu mau bicara apa?” tanya Yukita.
“Nggak jadi… ya sudah lah… aku pergi dulu. Awas lu apa-apain Yukita!”
“Emangnya kenapa?”
“Udah… udah… hati-hati di jalan ya!”
“Ya” apakah aku terlambat? Kembali dengan rasa sakit lagi.
Selalu saja, setiap kembali ke Bandung dalam keadaan sakit hati. Malu sebenarnya tiap di sana, curhat ke Dirga terus.
Aah, tiba-tiba rasanya perih, teringat Yukita bersama si brengsek itu lagi.
Kenapa harus dia lagi? kenapa aku selalu saja kalah cepat darinya. Tapi batin tidak terima jika harus dia lagi yang ada di sisi Yukita.
***
“Ga, sepertinya gue benar-benar harus menyerah.”
“Kenapa lagi bro?” sedang sibuk chat dengan pacarnya.
“Hah, sudah lah Ga,” sedikit kecewa ternyata saat ini pikirannya sudah terbagi.
Aku tak mungkin melarangnya memiliki kekasih, tapi entah ternyata perih rasanya teman yang biasa jadi tempat bercerita, sudah tak bisa fokus seperti dulu lagi.
__ADS_1
“Maaf Ga, gue mengganggu lu.” kutinggalkan dia.
Ternyata Dirga menahan, “Hey, Ry... lu kenapa lagi?”
“Gue hanya malu Ga, tiap ketemu lu hanya menceritakan kisah pilu yang gue alami.” Kembali terdengar pesan Dirga masuk bertubi-tubi.
“Mending lu lanjutkan saja dengannya Ga. Gue balik dulu!”
“Tunggu Ry, walau gue sudah punya pacar, lu nggak perlu khawatir, gue akan selalu ada untuk lu, sebagai sahabat lu!”
“Oke, mending sekarang lu lanjutkan aja chat dengannya! Gue cabut dulu.”
Dirga memang sahabat sejati, tapi saat ini dia masih merasakan masa indahnya berpacaran.
Jadi tidak enak, mengganggu pikirannya dengan masalah yang sama dari waktu ke waktu.
Kulaju ninja ini dengan kencang, meninggalkan rumah Dirga, tanpa tujuan, mengikuti kemana angin membawa. Ternyata, hujan turun makin lama makin deras. Memaksa untuk berhenti, dimana pun tempat yang bisa untuk berteduh.
Hujan itu, membuatku cukup basah, untung saja selalu menggunakan jaket anti air tetapi tetap basah bagian bawah. Kulihat ada sepasang kekasih menggunakan payung berdua lewat di depan tempat kuberdiri. Alangkah bahagianya mereka, dalam sebuah kesederhanaan.
Tak lama, ada lagi pengendara sepeda motor yang berhenti, turut berteduh di tempatku berdiri. Ternyata sebuah keluarga kecil yang membawa anaknya yang masih balita. Mereka bertiga cukup kuyup, karena hujan. Kucari sapu tangan, kudekati si kecil yang usianya kira-kira tiga tahun. Anak kecil itu menatapku, kujongkokkan badan, dan ku sapu bagian tubuhnya yang basah.
“Adik kecil namanya siapa?” lalu anak kecil itu menatap kedua orang tuanya dan keduanya menganggukkan kepala menyuruhnya untuk menjawab.
“Ca..ca om.”
“Biar Om keringkan ya?” dia mengangguk dan kubantu mengeringkan bagian wajah dan rambutnya.
“Makasih yah, Dik? Tadi tiba-tiba hujan turun saat kami sedang perjalanan wisata keluarga.”
“Iya Teh, nanti Cacanya langsung dimandiin air anget sampai rumah aja ya?”
“Iya, biar nanti nggak meriang,” lalu kuserahkan sapu tangan itu pada ibunya. Lagi-lagi potret sederhana yang indah. Setelah kupikirkan kembali, sebenarnya masalahku juga sederhana. Hanya saja, kusuka melebih-lebihkannya, sehingga membuatku pusing sendiri.
__ADS_1
Sederhananya, jika dia memang jodohku, bagaimanapun juga dia pasti akan menjadi milikku. Jika dia bukan takdirku, bagaimana pun usaha untuk mendapatkannya hanya akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Jadi, jika dia saat ini memiliki pacar, kenapa tidak denganku?