Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 44 *bingung mau kasih judul apa*


__ADS_3

Kulajukan motor dan kutuju kampus, untuk mengikuti kuliah kedua hari ini. Namun belum sampai gerbang, tampak beberapa motor tengah mengejar ku dari arah belakang, membawa pentungan...


Kecepatan motor ku tingkatkan, bisa nggak mereka mengejar? Sepertinya jiwa pembalap yang sudah lama tidak muncul, akhirnya muncul kembali, mereka tidak bisa mengejar ku jika sudah masuk gerbang kampus ini. Tetapi, suatu keyakinan mengatakan mungkin sepulang dari kuliah nanti adalah waktunya.


Motor telah kuparkirkan, dan sementara menunggu waktu kuliah berikutnya, aku memilih memasang hetset, memutar kembali rekaman yang telah dikirim oleh Stevan. Aku geser panah hingga rekaman terakhir yang aku dengar, yakni sampai suara dosen menjelaskan tugas kepada mahasiswa di dalam rekaman ini.


Karena tidak terlalu menarik aku geser kembali sampai terdengar obrolan Yukita dengan yang lain. Rata-rata obrolan menanyakan keberadaan ku, dan Yukita hanya menjawab dengan penuh kebingungan. Sepertinya dia diantar oleh Anggi saat pulang ke rumah, hmm..


Lalu terdengar kembali suara ketukan-ketukan di layar ponselnya. "Hmmm.. hape nya mati..?" ucap Yukita terdengar lesu. Masih terdengar kasrak kusruk di dalam rekaman itu.


"Bu, Yuki izin keluar bawa motor ya?"


"Kemana?" tanya ibunya.


"Keluar sebentar..."


Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah tepukan di pundak, aku lihat siapa orang yang tengah mengganggu aktivitas melakukan penyelidikan ini. Padahal sedikit lagi akan ketahuan. Aku lihat sosok pria dengan tinggi 185 Senti meter sudah berada di dekatku.


"Ya, ada apa?"


Dia tengah memerhatikan kegiatan yang sedang kulakukan. Mengintip ke arah layar benda pipih yang aku pegang ini.

__ADS_1


"Lagi dengar musik?" tanyanya.


Aku lepaskan hetset itu dan dia duduk di sebelahku, di bangku depan kelas yang akan kami gunakan sebentar lagi. Dia pasti penasaran dengan keadaan Yukita.


"Hmmm.. lu penasaran sama Yukita ya? Tumben ngajak gue ngobrol.."


Dia tersenyum tipis, "Gue hanya ingin memastikan bagaimana perasaan Lo mengetahui keadaannya yang sekarang melupakan ingatan sepuluh tahun terakhir nya. Jujur, gue merasa sedih ketika dia melupakan tentang dua tahun perkenalan kami. Apalagi Lo yang dia bilang sudah saling mengenal sejak dia masih sekolah. Gue jadi prihatin jika mengingat nya.."


"Ya gimana lagi. Ini takdir yang harus kami jalani. Lebih baik dibanding dia harus kehilangan nyawa karena kecelakaan kemarin kan? Kita berdoa aja, semoga dia bisa kembali ke sedia kala.." terangku yang aku sendiri merasakan terlalu sok diucap oleh mulut ini. Padahal hati ini sebenarnya meronta, ingin dia kembali mengingat semua yang telah kami lakukan untuk bisa bersama seperti ini.


"Lalu sudah ditemukan siapa yang melakukan ini semua?"


"Gue mencurigai seseorang. Seseorang yang sama-sama kita kenal.. Meski itu baru sebuah kecurigaan, tapi bisa jadi berubah menjadi sebuah fakta..."


Langsung ku tatap lurus ke wajahnya, kami mencurigai orang yang sama. Teringat kembali tadi mau dikeroyok oleh gerombolan anak motor. Apakah mereka teman-temannya si brengsek keparat itu?


"Gue juga lagi mencurigai orang yang sama. Dan angka ketepatannya malah mendekati sembilan puluh persen.."


"Bagaimana caranya agar anak itu mendapatkan ganjaran yang setimpal? Agar tidak makin meresahkan seperti saat ini?" tanya Anggi.


"Usaha yang kita lakukan saat ini harus mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya. Agar nanti saat hari dimana dia harus dibawa oleh pihak berwajib, dia tidak bisa mengelak lagi.

__ADS_1




hihihi...udah ngarep ada perang ya?



rencana tadi mau lanjut nulis sampai 1000 kata, tapi waktu otor lagi mepet banget..



otor mau cuss keluar kota dulu, jadinya tadi sibuk nulis ini, eeehh nggak terasa waktu udah makin dekat aja sama jdwal keberangkatan..



hihihi...



![](contribute/fiction/3225595/markdown/24374039/1639192410375.jpg)

__ADS_1



![](contribute/fiction/3225595/markdown/24374039/1639192410379.jpg)


__ADS_2