Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 11


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk tetap menunggunya, aku hanya memerhatikannya sedari jauh. Tak ada yang berubah darinya, layaknya orang pacaran yang kasmaran karena cinta, namun ia tak tampak seperti itu. Dalam yakinku, hubungan mereka tak akan lama.


Memerhatikannya, semakin hari ia tampak semakin menyedihkan. Memaksakan diri untuk hal yang menurutku tidak terlalu penting. Hal yang paling penting menurutku adalah kesehatan dan keselamatannya.


Waktu terus berganti, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tes tengah semester berganti tes akhir semester. Masih diam memerhatikannya dari kejauhan. Memastikan dia tetap tersenyum dan ceria setiap hari. Memastikan dia baik-baik saja saat aku libur balik ke Bandung hingga kembali ke sini.


Siang ini aku akan kembali ke Bandung. Ingin sekali melihat dia secara langsung. Pastinya kalau liburan begini dia sudah jaga di tempat dia bekerja. Oh iya, isi pulsa.


Ya, kuputuskan isi pulsa saja sebagai alasan sampingan. Jika hanya untuk melihat dia, itu jelas alasan yang tak masuk akal. Kulangkah kaki menuju tempatnya bekerja, tampak seorang wanita mengisi pulsa sambil becanda dengannya. Sengaja kutunggu hingga dia selesai.


Setelah cukup sepi, ternyata sangat sepi “Permisi...permisi?” tampak dia sedang hanyut dengan hetset di kupingnya. Kuperhatikan dengan jelas wajahnya, kulangkah kaki semakin dekat dengannya, namun dia tak sadar juga. Kuperhatikan ekspresinya menggoyangkan kepala, memejamkan mata sesuai alunan musik. Mungkin genre lagunya ditukar, tiba-tiba bernyanyi


“apa yang terjadi…


Pada kisah suci ini…


Setelah sekian lama kuyakini…


Mengapa kau pergi…”


Ah, lagu cengeng kok suka? Kutepuk tangan tepat di depan hidungnya. Dan ekspresinya benar-benar lucu saat kaget.


“Aaah....Akel??? Kenapa kamu masuk ke ruang kerjaku?”


“Habis… dari tadi aku panggil, eh kamunya nggak denger gara-gara terhanyut dalam lagu cengeng itu.”


“Sorry… eh… maaf… ada apa kel? Tumben mampir di sini?”


“Tumben? Aku sering ke sini buat isi pulsa, tapi malam hari” ngasal.


“Isi berapa?”


“Lima puluh…” kutulis nomor di lembar yang dia beri, sembari dia menyalin permintaan pulsa ke operator, terus kuperhatikan dia. Dikejutkan laporan pulsa sudah bertambah “Nih.. pulsanya udah masuk,” kuserahkan uang dan pikiranku kembali melayang. Yukita, ini aku! Harry!


“Makasih…” lagi senyumnya itu membuatku sesak, bukan milikku.


“Ya” terus kupandang dia, rasanya sedih untuk meninggalkannya walau sejenak.


“Ada lagi Kel?”


“Nggak”


“Oh iya… kamu nggak pulang kampung nih?”


“Nanti penerbangan siang”


“Emang kampungmu dimana?”


“Mau tahu aja.” Harus kuat, ini hanya sementara. Aku akan kembali. Tapi kembali dia memanggilku.


“Kel…”


Kembali kuperhatikan dia “Apa?”


“Hemmm… rambutmu biarkan kayak gini aja ya? Kalo panjang, rapikan lagi jadi kayak gitu!”


“Emangnya kenapa?”walah, dikirain apa gitu.


“Enggak…” kucoba melangkah pergi, dia memanggilku kembali “Akel…”


“Apa lagi?” dia membuatku ngga sabar aja.


“Hati-hati ya!!!” hanya kuacungkan jempol dan kembali melangkah meninggalkannya namun dihadapanku sudah berdiri si brengsek. Si brengsek yang menikung tanpa pengetahuanku.


Kedua mata kami beradu pandang, lalu kulanjutkan langkah. Kulirik ke belakang, dia masuk ke dalam. Moga dia tidak macam-macam.


Di kosan, aku pamit pada kawan sebelah kamar, dan ibu kos. Langsung jalan ke bandara. Karena musim liburan, wajar bandara rame banget. Tak lama lagi bisa menikmati sejuknya tanah kelahiran, karena jujur.. Padang itu panas!

__ADS_1


***


Alhamdulillah, selamat mendarat di Bandung. Langsung menuju rumah yang baru beberapa bulan ini kutinggalkan. Sampai di rumah,langit sudah mulai gelap.


Baru hendak menghempaskan tubuh di tempat paling nyaman, masuk telepon dari Dirga. Oh iya, aku sudah memberitahunya hari ini pulang.


“Hai bro? Udah sampai belom?”


“Aah, parah lu? Kenapa ngga jemput gue tadi?”


“Haha, gue kan udah bilang. Tadi ada kuliah sama Mister Ganas.”


“Oh, iya.. terus sekarang lu dimana?”


“Ini masih di kampus. Gue ke sana sekarang yak?”


“Besok aja Ga, gue lelah banget. Besok kita jalan!”


“Siip laah! enaknya ngapain Ry?”


“Kita ngetrek yuk?”


“Hahaha, kenapa gitu? Bukannya udah lama kita ngga ngebutan. Yakin? Masih brani?”


“Haaalaah,, lu takut sama gue kali?”


“Ada apa Ry?”


“Gue mau lampiaskan kekesalan gue di jalanan Ga.”


“Ngapain juga lu kesal? Bukankah lu sendiri yang bilang siap menunggu dia? haha, baru kali ini gue lihat sisi lain lu gara-gara seorang cewek!”


“Sudah lah! Jangan banyak bacot! Gue mau istirahat. Bye!"


Hape kembali berdering, tapi kali ini dari Vina


“Iya Vin, ada apa? Ada masalah pe-er lagi?”


“Bukan kak, tadi Bang Remon bilang Kak Akel balik ke Bandung?”


“Iya, saya pulang hari ini.”


“Kenapa ngga bilang Kak? Kalau aku tahu, kan aku bisa belikan oleh-oleh untuk dibawa ke Bandung?”


“Hehe, lain kali aja ya Vin?”


“Kapan balik lagi ke Padang kak?”


“Wah, belum jelas juga. Kenapa Vin?”


“Jangan lama-lama di sana ya Kak?”


“Iya-iya, ada yang kamu mau ngga? Nanti saya bawakan untuk kamu?”


“Terserah aja kak.”


“oke!”


“Udah dulu ya Kak? Salam buat keluarga kak Akel di sana!”


“Salam juga buat Bunda kamu ya. Daah..!”


Anak kecil ini menunjukkan tanda dia suka sama aku. Haha, si abege, seharusnya nyari pasangan yang susianya aja. Aku terlalu tua untuk dia suka. Tapi biar ajalah, zaman dia masih zaman cinta monyet, tidak perlu dipusingin. Kembali hape berdering, aah..siapa lagi sih? Ganggu saja? Ternyata Vonny, aahh...langsung non aktifkan dan lempar hape dan tidur.


Pagi datang, terbangun karena suara azan. Rasanya dulu suara azan tidak sekeras ini? atau akunya yang tidak ‘ngeh’? rasanya tubuh sedikit lebih segar, tidur ditempat paling nyaman, di rumah bersama keluarga.


Langsung ku bangkit dan wudhu serta melaksanakan kewajiban pagi. Banyak hal positif yang kudapat sejak berada di Padang. Semoga, ibadahku makin baik ke depannya.

__ADS_1


Usai subuh, kulangkah kaki menuju dapur. Terdengar suara gaduh, khas ibu-ibu di dapur..


“Masak apa Mah?”


“Lho? Ada apa ini? pangeran tidur bangunnya subuh?”


“Hehe, aah Mama.” Hanya bisa menggaruk kepala, karena dulu aku memang tak pernah bangun sepagi ini. “Lagi bikin apa Ma?”


“Ini, masak makanan kesukaan kamu Ry. Menyambut sulung Mama yang dah lama jauh.”


“Ada yang bisa kubantu Mah?” mama melirikku curiga..


“Ada apa dengan Harry? Tumben Menawarkan diri menolong Mama?” lalu tertawa dan menggelengkan kepala,


“Udah, mending kamu olahraga saja sana Ry! Menghirup udara segar! Badanmu terlalu kurus tak pernah olahraga!”


“Oh, ya udah kalo gitu Ma. Aku keluar dulu.”


“Bangunkan adikmu Hady!”


“Ya Ma.” Langsung melangkah menuju kamar adik satu-satunya. Kuketuk, tapi tak ada sahutan. Berarti anak ini masih tidur. Kubuka dan tidak dikunci. Benar, dia masih di dalam selimut. Langsung kuangkat selimutnya kulempar jauh.


Dia bergerak menggeliat kembali mencari selimut. Ternyata tidak ada, dia buka mata,


"Aya naon Aa, ngan ngaganggu jalma sare.."


“Bangun!”


“Masih ngantuk a" suara memelas.


“BANGUN!”


Dia bangun dengan kesal, melihat waktu masih sangat pagi. “Masih pagi a’


“Sholat Subuh sanah!” seketika dia kaget, bangkit dan memperhatikanku. Memeriksa suhu di keningku.


“Normal,” celetuknya.


“Hady! Cepat sholat! Keburu waktunya habis!” langsung kudorong dia masuk kamar mandi. Keluar dengan ogah-ogahan, berputar-putar mencari sesuatu. “Apalagi Dy?”


“Sarung a’, aku lupa dimana letaknya? Terakhir makainya waktu lebaran.” Celetuknya. Kubantu membongkar lemarinya mencari sarung dan sajadah. Ternyata letaknya di paling dasar.


Kutunggu dia melaksanakan sholat. Aku jadi teringat, hingga beberapa bulan dulu aku juga sama seperti dia. kuharap dia lebih baik dariku, membiasakan sholat sedari muda.


Usai sholat dia bergegas duduk di sebelahku. “A’ apa yang terjadi?” dengan nada sok cemas.


“Udah, sekarang kamu harus sholat sesuai ketentuan agama! Jangan bolong-bolong lagi!”


“Tumben a’? kesambet apa di sana a’?”


“Udah! Sekarang kamu ganti baju. Kita joging dulu!”


“Nah, ini? ini juga aneh? Tumben aa’ ajak aku main bareng?”


“Sudah! Jangan ngeyel lagi! Aku juga mau ganti baju dulu! Ayo olahraga biar sehat!”


Hady adalah adikku dengan rentang usia cukup jauh. Saat ini dia siswa tingkat SMP. Dia kesayangan orangtuaku, setelah tujuh tahun aku jadi anak tunggal.''' dia lahir, perhatian orangtua lebih banyak untuk dia. karena itu dia punya sifat lebih manja. Kadang aku merasa iri, tapi aku berusaha untuk paham dan mengalah.


Satu hal yang kusadari, membuatku sayang padanya, dia itu sangat patuh dan ramah. Berbeda denganku semua orang bilang aku kalem dan dingin. Sejak SD dia selalu juara, ngga beda sih denganku. Hanya saja dia jauh lebih rajin belajar. Mungkin orangtuaku berharap dia masuk ke kampus yang terbaik dari yang ada nantinya? Entahlah?


Tak lama menunggu, Hady sudah muncul dengan style jogingnya. Kami pun joging menuju alun-alun kota yang lumayan dekat dari rumah. Istirahat sejenak di bangku taman, tampak beberapa gadis abege tanggung seusia Hady lewat dan cekikikan sengaja lewat di depan kami. Kuperhatikan wajah Hady memerah, mungkin karena malu. Alamat, sama nih sifatnya denganku. Karena dulu aku juga persis sama kayak dia.


“Haha...” tanpa sadar aku tertawa sendiri.


“Kenapa a’?”


“Hayuk, kita lanjut joging!?” sambil mengusap rambut pendek siswa SMP itu.

__ADS_1


***


__ADS_2