
Aku akan melaksanakan ujian ini dengan sepenuh hati. Kemeja putih, yang waktu ospek dulu terasa ngepas, sekarang terasa longgar karena tubuhku yang mengurus ini. Berpadu rok hitam, tampak begitu manis di depan cermin. Aku siap menhadapi perang, pakaian putih-hitam ini dengan semangat menemani perjalananku naik ankot, bis kota, hingga bis kampus yang yang mengantarkanku ke kampus nan hijau.
Untuk pertama kalinya aku melihat si kacamata setelah sekian lama bergelut dengan kesibukanku. Tak terasa semua teman yang ada di kelasku tak ada lagi yang berkepala botak. Adapun berambut pendek adalah orang-orang yang suka pada model rambut pendek. Sekarang, rambut si dingin lumayan panjang. Telah melebihi kuping, dan tetap terlihat rapi, menggunakan kacamata yang tak terlalu tebal, tubuh lebih tinggi sekitar sepuluh atau sebelas senti dariku dan dengan perawakan kecil .
Fisiknya semakin mirip dengan seseorang yang ada dalam bayanganku. Dia bagai seperti Hary yang ada dalam anganku, dengan semangat ku menyapanya “Haaai”
Dia tetap dengan dingin, lalu menatap seseorang yang aku sendiri tak tahu sejak ka-pan telah berdiri di sampingku. “Hemmm…” lalu si dingin langsung memilih posisi duduk yang dianggapnya nyaman untuk ujian ini.
“Ang… gimana? Udah siap mengahdapi perangnya?”
“Hemmm… siap nggak siapa aku harus siap. Tapi… tos dulu donk!!!”
“Oke…” ku tepukkan tanganku ke tangan Anggi yang udah standby menerima tepukan tanganku.
__ADS_1
“Semangat…” teriak kami kompak.
Dan waktu terus berlalu, ujian demi ujian ku lalui dengan penuh rasa optimis. Aku bersyukur pada Tuhan, karena usahaku selama ini tidak akan sia-sia. Semua kuliah jurusan telah ku tempuh dan kali ini ujian mata kuliah umum dan kuliah Hukum dan HAM, dan ujian ini juga ku hadapi dengan baik. Setelah semuanya selesai, aku merasakan kelegaan yang tiada tara, mungkin yang lain tidak akan mengerti mengapa aku seperti ini, termasuk teman-teman dekatku. Beban semester ini telah lepas. Malamnya ada pesan masuk, dari Aldi;
Malam sayang… gimana ujiannya?
Aku jadi ingat lagi pada Aldi. Sekarang dia telah resmi jadi pacarku. Kami hanya bisa berhubungan lewat chat, karena kesibukanku: kuliah dan pekerjaan. Kalau dia ingin bertemu denganku, ku suruh dia ke tempat kerjaku. Udah beberapa kali dia main ke tempat kerja ku itu. Apa aku senang dia berkunjung ke tempat kerjaku? Jawabannya… entahlah…
Padahal entah sifatnya seperti apa aku tak tahu sama sekali. Dan sifatnya sedikit demi sedikit mulai ku pahami waktu setelah jadi pacarnya. jika dia main ke tempatku, pasti ku paksa dia untuk membeli pulsa. Walau pulsanya masih banyak, tetap ku paksa dia mengeluarkan koceknya untuk menambah pulsa, dengan iming–iming “nanti juga buat telpon aku…” hehehe…
Setiap Aldi ada di dekatku, Anggi tidak menemaniku. Karena tak ada Anggi, jarang pelanggan cewek yang membeli pulsa di tempatku, karena jika ada Anggi dengan banyolan yang dia sampaikan, membuat kaum cewek tertarik membeli pulsa di kios yang ku jaga ini. Bukan hanya itu, di kalangan perempuan Anggi itu termasuk pria idaman, karena Anggi itu potongan anak baik, tinggi, sopan dan bisa dibilang lumayan tampan. Jika ada Aldi, yang membeli pulsa hanya kaum laki-laki dan membuat Aldi sendiri terheran.
“Yang… kok yang bolak-balik di sini hanya laki-laki?”
__ADS_1
“Ya elah… mana aku tahu? Namanya aja pedagang, tak mungkin aku nanyakan itu pada pelanggan? Atau mungkin mau isi pulsa buat nelpon pacarnya kali?”
“Iya… tapi aku tidak suka cara mereka melihat kamu…”
“Emangnya kenapa? Masa gitu aja cemburu?”
“Pasti aku cemburu… aku tak suka…”
“Gimana lagi? Mana mungkin aku membuat peraturan larangan melihat kearahku? Aku ini mau ngisi pulsa mereka… nanti dia kira aku salah masukin nomer lain lagi? Kalau nggak suka… ya udah… jangan ke sini!”
“Jadi aku tak boleh ketemu sama pacarku sendiri?” dia langsung bangkit “ya udahlah aku ke kampus dulu…” dia pergi tanpa menoleh lagi ke arahku.
Jangan harap… aku akan memanggilnya kembali seperti di filem India, saat kekasihnya akan pergi dan si wanita menangis memanggilnya kembali. Kalau aku??? Nggak lah yaw…
__ADS_1