Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 17


__ADS_3

Kali ini liburanku cukup lama, selama dua bulan. Sepertinya aku memang harus menata hati. Membuka mata hati yang cukup lama kututup, menguncinya hanya untuk nama seorang gadis yang mungkin saja tak pernah memikirkanku.


Beberapa waktu kemudian, secara langsung Dirga mengenalkanku juga dengan pacarnya itu. Ternyata seorang gadis muslimah yang anggun. Menggunakan kerudung, dan bersahaja.


“Oh, ini yang namanya Harry itu?”


“Iya, Yang. Ini sahabat yang kuceritakan, pahlawan cinta sejati itu.” Aduh, apa-apaan si Dirga?


“Emang Dirga cerita apa?” tanyaku pada Putri, pacarnya Dirga.


“Aa’ sering banget cerita. Katanya kamu itu berjuang demi mencari seorang yang kamu cinta. Sampai ke Padang. Ternyata malah jadi satu jurusan.”


Aduh, malu banget. Kenapa dia malah cerita ke Putri?


“Lihat tuh A’! wajahnya jadi merah?!” haduh, kembali Putri menggodaku.


“Sudah..sudah..!! kasihan dia Yang. Nanti aku malah jadi sasaran lagi?” Dirga berusaha memberi kode pada pacarnya. Karena tahu aku tidak menyukai itu.


“Maaf ya Ry? Soalnya aku juga ikut kagum dengan kisahmu itu. Lalu bagaimana hubunganmu dengan siapa.. Yu..yu...”


“Yukita” sela Dirga.


“Iya, Yukita.. itu. Gimana hubungan kalian saat ini?”


“Yah, begitu lah. Kami hanya sebatas teman, teman sekelas,” jawabku lirih.


“Jadi sampai saat ini dia masih belum tahu?” tanya Putri. “Kog, rasanya aku jadi gemes gitu dengan Yukita itu ya? Nggak peka banget.”


“Sebenarnya bukan Yukitanya yang salah Yang?” sela Dirga. Kami berdua memperhatikannya.


“Sebenarnya yang salah itu ya Harry sendiri. Perlakuannya dengan seorang yang cinta dengan cewek biasa itu tak ada bedanya. Jadi mungkin karena itu, Yukita ini tidak merespon, alias tidak menyadari anak bego ini menyukainya.”


“Ah! Elu! Ngatain gue lagi.”


“Tapi A’ lihat tu. Kita cerita tentang Yukita saja sorot matanya sudah beda lho. Apalagi kalau dia melihat Yukita langsung, pasti dalem banget tuh. Dianya yang emang nggak peka A’.”


“Sudah lah, jangan omongin dia lagi. Sepertinya aku mulai jenuh mengejar cintanya.” Dirga langsung menatapku dengan tajam.


“Jenuh? Atau lu sudah punya gebetan baru lagi?” ku menggeleng dengan pasti.


“Kenapa lu bisa bicara seperti tadi?” terus menyerangku.

__ADS_1


“Gue bosan Ga. Hal yang sama terus saja terjadi?”


“Hey, Bung? Lu lupa dengan janji lelaki lu?”


“Iya, gue tahu. Gue berjanji untuk mempertahankannya hingga gue mati. Tapi dia sendiri? Benar-benar bisa buat gue mati muda, benar-benar sulit memahami isi hatinya!”


“Rasanya aku ingin ketemu dengan Yukita itu deh,” ujar Putri dengan gemas.


“Sudahlah..! jangan bahas-bahas dulu nama Yukita itu. Sejenak gue ingin lepas dari nama itu. Gue ingin membuka lembaran baru.”


“Yakin Bro?” kuanggukan kepala dengan pasti.


“Atau mau aku kenalkan dengan temanku?” sela Putri.


“Tapi, gue sendiri tak yakin bisa melupakannya, jujur... gue masih berharap padanya.”


“Yukita, ternyata kamu hebat sekali..bisa meluluhkan hati manusia dingin ini,” celetuk Dirga menggeleng dan tersenyum.


“Iya A’ kisah cinta Harry pada Yukita itu begitu menyentuhku. Aa’ juga ya? Jangan mudah berpaling seperti Hary ya?”


“Tenang Yang, Aa’ akan menjaga cinta kita hingga mati.” Rasanya mau muntah mendengar kegombalan sahabatku yang satu itu.


***


Entahlah, rasanya membutuhkan nikotin untuk membuat perasaan ini tenang. Sudah lama sekali rasanya tak merokok.


Kubuka, ku ambil satu batang, ku jepit dibibir. Mencari korek, yang entah dimana kuletak. Tiba-tiba, ada seseorang merebut rokok yang sudah di mulutku ini.


Seorang gadis cantik yang begitu kukenal tersenyum, memainkan sebatang rokok itu lalu menginjaknya.


“Ini tidak baik untukmu!” kuambil satu batang lagi, lalu semua rokok yang ada di tangan direbut dan dimasukkan ke bak sampah yang ada di taman itu.


“Sudah lama tidak jumpa, tak kusangka kamu bisa terpuruk seperti ini?” kubuang pandangan, menatap langit, ternyata tak ada bintang,


“Hingga hari ini, aku masih menyukai sikap mu yang dingin itu padaku.”


“Sudah lah Pon, gue ingin sendiri!”


“Harry, aku rela kamu jadikan aku sebagai tempat pelarian. Carilah aku saat kamu merasa terluka!”


“Kenapa masih menunggu gue?”

__ADS_1


“Sudah ku ceritakan saat terakhir kita jumpa bukan?”


“Kenapa lu tak pernah putus asa?”


“Karena yang terbaik perlu untuk diperjuangkan!”


“Meski hanya sebagai pelarian?”


“Iya, meski hanya sebagai pelarianmu. Kenapa? Apa kamu sudah mulai goyah dan ragu dengan yang kau cari selama ini?”


Terbesit dalam hati ingin sembunyi padanya, menjadikan pacar untuk saat ini juga, namun kembali terlintas, wajah Yukita yang tersenyum padaku. Kenapa itu terus membayangiku?


Ah, aku lelaki. Lelaki sejati tidak akan mengingkari janjinya sendiri. Lelaki sejati tidak akan menyerah begitu saja hingga perang dinyatakan benar-benar usai.


“Pon, jadilah...jadilah teman yang baik hingga akhir untuk gue?”


“Ry...? hanya teman?”


“Iya, hanya teman. Maaf!” kuberlalu meninggalkannya. Aku masih tak habis fikir dengan gadis keras kepala yang satu itu. Apa sebenarnya yang dicarinya dari diriku?


Sehingga bermacam sakit yang kuberi dia tetap bertahan ingin memilikiku?


***


Berbagai kegiatan ku lakukan selama liburan di Bandung, kegiatan bermanfaat, menyumbangkan ilmu dan tenaga untuk anak-anak kurang beuntung tak dapat bersekolah.


Berkumpul dengan banyak anak-anak ternyata lambat laun membuat luka itu sembuh dengan sendirinya. Memberi hiburan bagi yang sudah pandai membaca, dengan memberikan komik-komik yang sudah tidak dibaca lagi kepada mereka.


Cukup lama pikiranku tak berkutat lagi dengan nama Yukita. Melakukan hal yang bermanfaat ternyata banyak memberiku pelajaran yang berharga. Sehingga kusadari, hidup itu tak melulu tentang cinta. Tak melulu memikirkan wanita. Tak melulu untuk merasa sakit dalam jiwa.


Tak kusadari, semua kegiatan itu mengantarkanku ke penghujung liburan yang panjang. Anak-anak asuh yang kudidik sedih ketika aku harus meninggalkannya.


“Kak, kapan kakak kembali?”


“Saya akan kembali setiap liburan kok adik-adik!”


“Yaaahh.. Kakak ganteng kami pergi jauh?”


“Tenang adik-adik. Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Tapi masih ada kakak-kakak yang lain yang akan terus membantu kalian dalam belajar.! Kalian harus semangat ya!”


“Baik kak!” jawab mereka dengan serempak.

__ADS_1


Tak terasa, besok sudah ketemu lagi dengan wajah itu. Apakah dia sehat? Benar, tak pernah sekalipun ku cuba untuk menghubunginya kali ini. Hal itu ternyata sangat membantuku dalam menata hati yang kemarin sangat kusut.


Semoga kali ini aku bisa menjadi orang yang lebih sabar, dewasa, dan bijaksana. Bisa menjadi pemimpin yang baik, jika benar dia adalah jodohku kelak.


__ADS_2