
“Halo... Hary..” sapanya seperti biasa dengan ceria.
“Lagi apa Yukita?”
“Biasa, berhubung mau ujian ya aku belajar di rumah saja.”
“Apa nggak ikut les di luar?”
“Nggak usahlah. Buang-buang duit. Mending belajar di rumah saja.” Hehe, ni cewek langka kayaknya.
“Hmmm, jadi lagi belajar yah?’
“Kenapa ya Ry?”
“Aku mengganggu ngga?”
“Iya.... sedikit” lalu kembali dia tertawa dengan renyah.
“Aku minta waktu sebentar boleh ngga?”
“Iya, ada apa sih?”
“Selama sebulan kita kenal ini, aku merasa sangat nyaman ngobrol sama kamu.” Terdengar suara tawa sedikit malu-malu, “Aku suka sama kamu Yukita.”
“Hmmm..mmmm” dia hanya berguman begitu
“Kenapa? Maaf ya Yukita? Mungkin agak sedikit gila. Secara kita tidak pernah bertemu, melihat wajah pun tidak. Itu pasti yang kamu pikirkan?”
“Hmmm, gimana ya Hary.. jujur aku juga merasakan nyaman saat ngobrol denganmu, saling bertukar cerita.” Seketika seperti ada angin surga datang menghembus hatiku.
“Kamu mau tidak, meski kita jauh, belum pernah bertemu, bahkan wajah pun saling tidak tahu, mau tidak kita pacaran?”
__ADS_1
“Hmmm...hmmm,” dia pasti malu pkikirku.
“Kalau belum jawab, aku tutup yah?”
“Idih..pemaksaan.. weekk..”
“Napa melet-melet?” lalu terdengar dia tertawa malu lagi.
“Iya, mari kita pacaran. Karena aku juga sangat merasa nyaman mengenal kamu. Jujur aku senang dengan semua perhatian yang kamu berikan selama ini.”
Mendengar hal itu membuatku sungguh bahagia. Yang penting kenyamanan, walau pun nanti wajahnya biasa aku terima dia, janjiku dalam hati. Tapi sayang dia tidak punya hape kamera. Biarlah, biarkan wajah kami sama-sama menjadi misteri.
Setelah beberapa waktu kami pacaran, terlintas dalam pikiran untuk memberikannya sebuah hadiah kecil, semoga dia suka dan kukirimkan ke alamat dia yang telah diberikannya. Ini sebagai bukti aku sangat serius meski kita tak pernah berjumpa.
Saat benda itu sampai, dia sangat senang dan berjanji akan selalu memakainya kemana pun. Dan aku juga merasa agak aman, sebenarnya buat nandain dia sudah jadi milikku, agar tak ada lagi yang coba-coba mendekati dia. Pikiran licik siih, tapi yaa siapa tahu nanti kan..Kami bisa berjumpa dan menikah.. wadoohh...masih bucin euy...
Kami tak pernah melewatkan waktu untuk saling berkirim kabar, meski pun dimasa sekarang SMS-an itu menjadi sebuah kegiatan yang kuno, tapi tak apa lah. Dari pada sama sekali tak bisa menghubungi dia. Setiap saat selalu bercerita, dan aku memilih menjadi pendengaran yang baik.
Mulai dia mengeluhkan mapel ini, mapel itu, senang belajar ini, senang belajar itu, aku tetap menempatkan diri sebagai pendengar. Sesekali boleh lah aku yang bercerita apabila dia yang mulai bertanya.
“Yang, nanti mau milih dimana tes mahasiswa barunya?”
“Paling sekitar sini aja Ry, kenapa?”
“Kamu mau ngga mencoba ambil di Bandung?”
“Waah, kalau Bandung kita bisa ktemu ya?”
“Iya, itu maksudku Yang.”
“Tapi Ry, di Bandung passinggrade-nya tinggi semua. Kalau ngga lolos gimana?”
__ADS_1
“Ya tidak apa. Yang penting coba dulu kan?”
“Baiklah, nanti aku coba salah satunya di sana. Tapi kalau ngga jebol jangan kecewa ya?!”
Aku sih sangat berharap kamu lulus, batinku “iya, tidak apa kog”
***
“Bro, kemarin gue ketemu Vonny yang di bilyard dulu lho?”
“Lalu?” sembari membaca balasan pesan dari pacarku.
“Ya, dia nanyain lu!” lalu dia hanya mengernyitkan kening memperhatikanku sibuk dengan hape.
“Gw baru sadar Ry, akhir-akhir ini lu sibuk sama hape terus. Lu chat dengan siapa? Ada kecengan baru ya?” aku tertawa dan berlalu meninggalkan dia.
“Hey.. tunggu! Ah! Parah lu Ry! Masa tidak cerita-cerita sama gue?”
“Gimana ya..” aku agak sedikit ragu cerita padanya. Karena dia pasti akan meledekku habis-habisan. “Nggak jadi deh!” kupercepat langkah masuk ruangan kelas.
Aku baru dapat kabar, pacarku yang di sana sudah pasti dinyatakan lulus. Siap menghadapi status mahasiswa. Apalagi sebentar lagi akan tes masuk perguruan tinggi negeri. Moga dia bisa sampai ke sini. Apalagi ceritanya hasil TO-nya selalu tinggi. Aku memiliki keyakinan pasti akan bertemu dengannya. Bagaimana pun wajahnya, pasti aku akan tetap mencintai dia.
Pada hari tes tersebut, seusainya dia banyak mengeluhkan soalnya susah semua. Dia memberi aba-aba harapan tipis. Aku tak ingin dia bersedih, selalu kuhibur dia. Karena lulus atau pun tidak, tidak akan mengakhiri perasaanku padanya. Karena aku sudah menyukainya meski belum bertemu, meski dia tak di sini pun, meski kami jauh, yang penting dia selalu dekat di hatiku.
Sebulan kemudian pengumuman hasil tes tersebut. Ternyata, benar tak ada satu pun yang lolos. Pasti dia sangat terpuruk. Udah berapa kali pesanku tidak dibalas. Aku jadi khawatir dia stress Cuma gara-gara itu. Pesan tak dibalas, telepon tak diangkat, membuatku bingung harus bagaimana. Rasanya saat ini juga akan kuturut dia ke Padang sana untuk memastikan dia baik-baik saja.
Udah sore baru dibalasnya pesanku. Mengatakan dia sedang mengurus ujian masuk politeknik. Rasanya lega dia baik-baik saja, dan terasa lucu ternyata akhir-akhir ini aku sedikit berubah ke arah lebay.
Bukankah politeknik juga ada di sini? Dia konsultasi jurusan padaku. Kusarankan masuk Teknik Telkom. Karena saat ini masa berkembangnya jejaring telekomunikasi.
Kuajak dia memilih daerah sini juga, ternyata dia tidak mau. Ya udah, tidak apalah. Yang penting bisa mendengar suaranya sebagai fatamorgana di tengah gersangnya gurun tidak apa bagiku. Hanya saja sedikit kuatir, bila dia berpaling setelah kuliah bagaimana? Karena jurusan teknik sedikit ceweknya. Mudah-mudahan dia bukan perempuan yang seperti itu.
__ADS_1
Takut mengganggunya belajar, kuberikan waktu dia untuk belajar. Baru saat ini kumerasakan rindu itu sangat menyiksa dan berat. Tangan ini tak sabar untuk menghubunginya, tapi kutahan. Sungguh tulus hatiku menginginkannya lulus, meski sedikit rasa kekhawatiran bila dia benar-benar lulus.
Di waktu usai ujian, dia langsung menghubungiku. Rasanya lega, tidak perlu menahan rindu lagi. Hubungan kembali lancar hingga dia bilang dia lulus. Setelah dia lulus dan mungkin sibuk dengan kegiatan kemahasiswaan, dia mulai susah dihubungi. Sering sekali nomornya tidak aktif, membuatku bingung harus mencarinya kemana. Apakah yang aku kuatirkan benar terjadi?