Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
S3-6


__ADS_3

Siapa dia? Kenapa dia begitu menghayati lagu itu sembari memandang isteriku? Bahkan Yukita pun tak berkedip memandangnya?


"Beneran nggak kenal dia?" tanyaku lagi.


"Emang dia siapa A'? Seingatku, yang diundang hanya orang yang Yuki kenal sekarang aja. Kayak Feli, Chesi, Ody, dan teman-teman kuliah. Yang itu Yuki gak kenal." jelasnya.


"Ooh ..." Aku perhatikan lagi lelaki itu yang masih menyanyikan lagu yang sama. Dengan suara merdu, membuat undangan mengikuti lagu yang dia bawakan.


Sementara, perempuan di sampingku ini senyum-senyum melihat dia. Ada yang membakar di dalam hatiku. Tiba-tiba aku teringat kembali pada faktor usia jiwanya yang masih remaja. Apa aku sanggup, menghadapi ini? Melihatnya yang mengalami pubertas lagi?


Akhirnya, sang penyanyi itu turun dari panggungnya. Bergerak menuju tempat kami yang tengah duduk di pelaminan.


"Yuki, selamat. Kamu nikah nggak undang-undang?" ucapnya dengan tatapan panjang dan dingin.


"Maaf, kalau boleh tau kamu siapa?" tanya Yukita. Aku hanya diam memperhatikan pembicaraan mereka.


"Dih, sombong amat. Pakai tanya aku siapa segala?" Dia tertawa, lalu bergantian menyalamiku.


"Kalau boleh tau nama kamu siapa?" tanyaku.


"Zaki." ucapnya dingin. "Semoga langgeng dan bahagia selalu." Ucapnya berlalu.


Aku tak pernah mendengar nama itu. Mungkin salah satu teman sekolahnya dulu. Kuperhatikan, Yukita terus memperhatikan orang bernama Zaki itu.


"Panjang amat liatnya?" ucapku.


"Imut," Dia setengah nyengir. Tidak sadar membuat perasaanku menjadi terbakar.


"Jadi aku tidak imut?"


Lalu dia hanya manyun dan diam. Suasana pesta ini tiba-tiba menjadi terasa aneh. Entah kenapa aku malah menjadi cemburu. Jelas dia sudah menjadi milikku.


💖


Kami mengantarkan orang tuaku ke bandara. Aku ingin menikmati suasana romantis berdua terlebih dahulu dengan Yukita di kota Bukittinggi. Jadi kami biarkan mereka pulang duluan, karena Hady sudah terlalu lama ditinggal sendirian. Sementara, di sini masih memiliki banyak hal lain yang harus kami urus. Termasuk ijazah yang belum keluar.


"Kami tunggu di sana ya?" ucap Mama memeluk Yukita.


"Baik Ma. Nanti kalau semua sudah beres, kami akan langsung ke sana." ucap Yukita.


"Kamu jangan tunda-tunda kehamilannya ya?" ucap Mama mengelus perut isteriku. Yukita hanya menjawab dengan senyuman yang mengeluarkan lesung di kedua pipinya.


Setelah berpisah, tak lama-lama kami segera menuju kota Bukittinggi. Kota wisata sejuta pesona. Kami memilih merental mobil agar leluasa jalan-jalan ke sana ke mari.


Seperti biasa, perjalanan menuju kota ini selalu disambut dengan kemacetan panjang. Begitu banyak kendaraan yang memiliki tujuan yang sama seperti kami. Kulihat, ekspresi di wajah Yukita hanya tampak datar. Dia lebih banyak diam dibanding hari biasa.


"Kamu kenapa?"


"Aa yang kenapa? Sejak kemarin usai pesta hanya diam begitu?" tanyanya tertunduk.


"Aku? Biasa aja." Masih fokus menghadapi macet dengan tanjakan yang luar biasa. Dia kembali diam, dan aku masih fokus berkendara.


💖


Yukita menghempaskan dirinya di atas kasur. Memalingkan tubuhnya tidak mau melihat ke arahku. Aku letakkan koper-koper kecil milik kami ke dalam lemari yang tersedia. Rencananya kami akan menginap tiga malam di sini. Pemandangan kamar kami tepat menghadap Jam Gadang sebagai ikon kota wisata ini.


__ADS_1


Mendapat hotel dengan posisi ini sangat mustahil sekali. Namun, kali ini anggap saja kami sedang beruntung. Bisa mendapatkan kamar dengan View ciamik seperti ini. Tampak Jam Gadang, dengan berpengawal Gunung Merapi yang tampak sempurna di belakangnya.


"Sayang, coba tengok. Pemandangannya lagi bagus banget. Cuacanya cerah. Mau langsung jalan-jalan ke sana nggak?"


Kembali kulihat gadisku yang tengah meringkuk. Aku dekati dan ikut meringkuk memeluknya dari belakang. Seketika dia langsung kaget.


"Aa?" pekiknya.


"Lhoh? Kenapa?"


"Aa tiba-tiba main peluk. Yuki kan kaget?"


"Lha? Ini bukannya udah boleh? Kita suami isteri lho sekarang?"


"Aa udah nggak marah lagi?" dia membulatkan bibirnya.


"Marah?"


"Iya, Aa marah sejak kemarin. Yuki kan jadi sedih."


"Ayo bobo lagi sini!" Ku tepuk-tepuk kasur tempat dia tiduran tadi.


Dia menurut, menopangkan kepalanya pada satu tangan. "Kamu denger ya, Aa itu tidak marah. Aa hanya tidak suka kamu melihat dengan terang-terangan pria lain. Padahal, aku sudah jadi suami kamu lho. Bisa nggak, kamu hanya melihat aku saja?"


"Iya, tapi Yuki tidak tahu juga. Yuki se--" dia menutup malatnya dengan tangannya.


"Katakan saja apa yang kamu rasakan!"


"Iya, ga tau. Seneng aja liat orang pinter nyanyi."


"Kamu seneng sama cowok pinter nyanyi?" Dia mengangguk. "Kalau begitu biar aku saja yang menyanyi untukmu." Lalu aku duduk, dan mengajak Yukita duduk membelakangiku. Aku peluk dia dari belakang.



Mengagumi tanpa di cintai


Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia


Dalam hidupmu, dalam hidupmu



telah lama kupendam perasaan itu


Menunggu hatimu menyambut diriku


Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah


Bahagia untukku, bahagia untukku



reff:


Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu


Meski ku tunggu hingga ujung waktuku

__ADS_1


Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya


Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja


Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya


Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja



Tiba-tiba dia mengikutiku bernyanyi. Kami bernyanyi bersama-sama. Tubuhnya terasa bergetar. Dia sesegukan. Aku rubah posisiku bergerak duduk di hadapannya.


"Kamu kenapa menangis?" wajahnya kutangkupkan pada kedua telapak tanganku.


"Yuki juga tidak tau Aa. Tiba-tiba Yuki merasa tahu dengan lagu ini. Yuki merasa rindu pada Aa mendengar lagu ini. Suara Aa bagus sekali."


"Rindu yang kayak apa?"


"Rindu yang luar biasa. Yuki merasa sayang sekali sama Aa saat mendengar lagu ini." Lalu dia memasukkan dirinya dalam pelukanku.


Apakah lagu ini bisa dengan segera mengembalikan ingatannya tentang kisah kami yang dilupakannya? Aku pun membalas pelukannya. Tubuhnya terasa bergetar hebat.


"Kangeeen, kangeen ...." racaunya dalam pelukanku. Aku hanya bisa membelai rambutnya.


"Aku mencintaimu, Yukita." bisikku tepat di telinganya.


"Yuki juga sayang Aa." ucapnya.


"Coba bilang Yuki mencintai Aa!" titahku padanya.


"Yuki ... Yuki ... Yuki ci-cinta Aa." ucapnya terbata-bata.


Ku eratkan pelukanku karena merasa gemas. "Udah terobati belum, kangennya?" Aku dorong tubuhnya agar posisinya tegap. Aku usap air mata itu.


"Kamu ucap cinta, emangnya kamu tau artinya?" candaku.


"Iiih, ... Aa?" lalu dia memanyunkan kembali bibirnya. Rasanya ingin sekali untuk kucium.


"Sayang ...!" Kuangkat wajah gadis itu. Dia memperhatikanku. "Sayang?" Kembali kupanggil dengan semesra mungkin. "Sayaaang?"


"Aa kenapa?"


"Kamu sudah siap?"


Tiba-tiba dengan bersemangat dia bangkit. Merapikan rambut dan pakaiannya. "Udah nih Aa. Yuki udah siap." ucapnya dengan bersemangat. Langsung menuju pintu dan mengambil sendal santainya.


"Hey, kamu mau kemana?"


"Ini kita siap-siap keliling jalan-jalan bukannya?" Dia seperti sudah tidak sabar lagi.


"I-iya. Tapi bukan itu yang Aa maksud!"


"Ayo A', buruan! Kita jalan-jalan...!" ucapnya menghentak-hentakkan kedua kakinya tidak sabar.


Sepertinya masih membutuhkan waktu untuk membuatnya paham tentang rumah tangga sesungguhnya. Sialnya, inti tubuhku ini tengah bereaksi. Aku pun turun dari tempat tidur ini.


"Aa' itu apa?" pekiknya menunjuk ke arahku.

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2