Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 6


__ADS_3

“Lho? kita mau Naik ini?” tanyanya tak percaya


“Mobilnya mana?”


“Mau ikut nggak?” kuserahkan helm, dia sedikit enggan naik skuter vesva kesayanganku ini. Walau sedikit ogah-ogahan, dia tetap memasang helm.


“Mau kemana?”


“Ke mall yuk? Aku mau beli sepatu."


Haaaah, lagi-lagi belanja. Terakhir dia juga minta ditemenin belanja baju. Tiap saat, memakai yang baru saja?


"Waah, ternyata pakai ini lebih romantis Ry,” tiba-tida dia memelukku dari belakang.


Risih, pikiranku menjadi kotor jika dia begini. Kucoba lepaskan kedua tangannya, lalu mungkin dia cemberut dan menarik tangannya sambil menyeletuk, “bukannya seneng?”


“Jangan macam-macam! Nanti kecelakaan!”


Terdengar suara tawanya “Itu lah, yang membuatku kagum padamu Ry. Kamu cuek, tidak seperti lelaki kebanyakan.” Aku hanya diam fokus memperhatikan jalan.


Sampai di mall, pindah dari toko satu ke toko lainnya gara-gara belum menemukan sepatu yang menurutnya cocok. Kuperhatikan lagi cewek itu, tingginya hampir sama denganku, ya tinggilah kalau dibanding dengan cewek lain. Cantik si iya, tapi sejak awal udah nggak suka, ya enggak suka.


Lalu dia menanyakan pendapatku tentang sepatu hak tinggi yang sedang ia coba, aku hanya angkat bahu, nggak ngerti. Vonny bekerja sebagai model, ya wajar sih, tubuhnya ramping, rambut lurus dan panjang, wajahnya lancip, kecil dan cantik sempurna seperti orang bilang. Tapi yang model gini sudah pernah menyakitiku, jadi sudah tak mau lagi nyari yang model gini. Selesai memilih sepatu yang cocok, kami ke kasir. Kubayarkan sepatunya yang mahal itu, tapi tak masalah karena di sini kodrat laki-laki memang begini.


Usai itu, kami memilih kedai kopi untuk melepaskan penat. Duduk santai kembali membuka hape, memperhatikan sosmed, hanya satu orang yang aku tuju.


“Ry.. Hary...!” Vonny membuyarkan lamunanku. Ku tengok dia, “Mau pesan apa?”


“Terserah!” kataku.


“Lihat apaan?” mencoba menarik hape di tanganku. Langsung ku simpan hape dalam kantong celana.


“Hary...?”


“Hmmm...”


“Menurutmu sebenarnya aku gimana?”


“Cantik.”


“Lalu?”


“Kata orang sempurna.”


“Menurutmu...?” aku mengangkat bahu.


“Jadi menurutmu aku tidak cantik?”


“Cantik.”


“Lalu?”


“Apa lagi? Jangan buat gue bingung!”

__ADS_1


“Hehe, kamu gampang sekali marah. Tapi jujur aku suka kamu begitu.”


Aku hanya mengaduk frapuchino yang terhidang di depanku,


“Aku ingin hubungan kita ini jelas Ry!”


“Udah Pon! Jangan mulai lagi!”


“Aku bosan dengan hubungan tanpa status ini!”


“Ya udah! Kita temenan wae!”


“Kamu bilang tadi aku cantik?”


“Iya, lu memang cantik.”


“Apa kamu tidak menyukaiku?”


“Pon, gue boleh jujur?” dia mengangguk dengan wajah sedikit ragu.


“Sebenarnya gue nggak suka cewek cantik! Gue udah trauma sama temen lu!”


“Aku itu bukan Tika Ry! Jangan kamu samakan!”


“Hah! Sama saja! Hah, sudahlah! Pulang yuk?”


“Hary, kita belum selesai bicara!”


“Nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi Pon!”


“Terus?”


Dia tertawa, “Itu membuatku semakin gemas sama kamu Ry! Sementara banyak lelaki sampai bersujud di kakiku memintaku untuk menjadi pacarnya, kamu dengan lantang tanpa perasaan bicara seperti tadi.”


“Lu itu aneh! Padahal kalau cewek dibilang begitu dia langsung nangis.”


“Masalahnya aku itu sudah mengenal banyak tipikal laki-laki Ry. Aku yakin kamu adalah laki-laki terbaik. Akan menjadi suami dan ayah terbaik nantinya!”


“Khayalan lu ketinggian Neng!”


“Ry, aku ingin kita itu punya hubungan khusus seperti mereka!” menunjuk beberapa pasangan yang ada di cafe itu.


“Pon, gue mohon maaf sekali. Tapi jujur gue tidak ada rasa sama sekali sama lu Pon. Lu bisa mencari lelaki yang lebih baik lagi. Yang bisa jagain lu, bisa menyayangilu, memberikan semua yang lu minta. Tapi itu bukan gue Pon, maap!”


Kembali di tertawa, menyedot es kopi yang ada di depannya. “Aku tak pernah menyatakan perasaan kepada lelaki duluan seperti ini, pas menyatakan pertama kali, malah kena tolak. Miris yah?”


“Udah Pon, mending kita pulang! Ada pemotretan nanti malam kan?”


“Masih ada kesempatan kah untukku saat hatimu nanti mencair?” aku tak menjawab dan bangkit, Vonny ikutan bangkit dan ku menuju kasir membayar lalu meninggalkan tempat itu.


Kupesankan taksi online untuk Vonny setelah itu kulajukan skuter menuju rumah. Di dalam benak sudah penuh cara untuk menuju Yukita.


Kebetulan sekali ada Mama,

__ADS_1


“Mah?”


“Iya Ry? Aya naon?”


“Boleh tidak Harry pindah kuliah?”


“Kemanah?”


“Ke Padang?”


“Walaah, kog jauh pisan?”


“Boleh nggak Mah?”


“Kuliahmu di sini bagaimana? Nilai kamu bagus-bagus lho?”


“Ya, namanya pindah Mah, aku akan berusaha di kampus baru di sana? aku mau mencoba ikut jalur negeri dulu Ma, siapa tahu jebol. Nanti biayanya lebih murah dari kampus ini.”


“Tapi sayang Ry, udah mau tingkat tiga bukan?”


“Kalau gitu aku ambil cuti wae Mah? Kalau ada kesempatan aku lanjutkan yang di sini. Sapa tahu anak Mamah punya gelar dua kan?”


“Hahaha, Hary..Hary... aya-aya wae kamu Nak. Mama sih mendukung aja Nak, asal kamu benar serius kuliahnya. Tapi coba tanya Papahmu dulu!”


“Baik Mah, makasi ya Mah. Yang terpenting bagiku restu dari Mama dulu. Biasanya Papa setuju-setuju saja dengan permintaanku.”


Saat malam ku bicarakan semua dengan bokap. Tepat seperti yang kuperkirakan, beliau setuju-setuju saja bila Mama sudah restui keinginanku.


Esoknya di kampus kuceritakan keinginanku pada Dirga.


“Ga, gue jadi nyusul Yukita ke Padang.”


“Berapa hari mau ke sana?”


“Gue mau kuliah di sana!”


Seketika Dirga terperangah karena kaget “Serius lu Bro?”


“Iya, gue serius!”


“Bokap, Nyokap gimana?”


“Ya, mereka sih setuju saja.”


“Wuuiiihh, bener-bener gila temen gue yang satu ini. Salut gue bro, dengan perjuangan cinta lu. Tapi....”


“Tapi kenapa?”


“Jika dia sudah punya pacar gimana? Cantik gitu, pasti banyak yang suka.”


“Gue akan menunggunya.”


Dirga geleng-geleng tertawa, “Hebat lu Ry! Gue dukung jika jalan itu yang memang lu pilih. Jadi gue punya satu kisah romantis untuk diceritakan ke anak laki-laki gue nanti.”

__ADS_1


“Ah, apaan si lu. Bikin gue malu aja!” lalu kami tertawa.


__ADS_2