
Menghilangkan kesuntukan kuajak Dirga dan yang lain main bilyard.
“Tumben ngajak main lagi Bro? Udah lama gak mau diajak ke sini juga,” Dirga menyodorkan rokok, kayaknya memang butuh sedikit nikotin untuk bebas dari suntuk beberapa waktu ini.
“Iye? Kemane aja lu?” tanya Hendri.
“Enggak.. kemarin lagi males wae”
“Sekarang gimana?” timpal Hendri.
“Sekarang lagi suntuk.”
“Jangan-jangan lagi berantem dengan yayangnya tu Ndri?” ku tatap Dirga yang terkekeh, dia sadar aku menatapnya tiba-tiba dia diam. Mungkin dia paham aku tak suka.
“Wuuih.. ternyata lu udah punya pengganti Tika itu?” sambil melirik ke arah yang lain, ternyata memang ada Tika di sana, “Dari tadi dia merhatiin lu.”
“Ngapain lagi tuh cewek?” celetuk Dirga.
Namun ku tak peduli. Terus ku sodok bola-bola itu penuh kekesalan. Selalu aja ketemu Tika, apalagi suasana hati sedang tidak enak gini.
“Wuuiih, Tika mendekat tuh!” bisik Hendri, tapi tak kupedulikan.
“Hey...!” sapanya setelah sampai di posisi kami.
“Hey.. sama siapa di sini?” tanya Dirga.
__ADS_1
“Sama Wira, pacar baru gue,” sepertinya dia melirik aku, pamer kali? Udah sekian kali gonta-ganti cowok, hebat gitu?
“Vonny titip salam buat kamu Ry!” ku lirik sekilas, kembali pura-pura perhatikan bola. “Kayaknya dia bener-bener suka sama laki-laki kayak kamu Ry.”
“Oooh..”
“Cuma ooh aja?”
“Lalu?”
“eheh.." tersungging bibir dengan nada meremehkan ku, "itu yang membuatku tak betah ngobrol sama kamu. Terlalu hemat ngomongnya!” ku hanya mengangguk namun tak kuperhatikan.
“Dia sudah punya pacar baru tuh Tik!” celetuk Dirga. Sepertinya Tika kaget dan ekspresinya berubah.
“Wooow.. siapa yang mau dengannya?” dia bertepuk tangan. “Lu tahu siapa orangnya Ga?”
“Hah, sahabat macam apa kalian? Pacar kawannya aja tidak tahu!” sindir nya.
“Ya tahu aja lah Hary!” timpal Hendri.
Tika mendekatiku, “Sepertinya bakal ada yang patah hati nih?” bisiknya lalu pergi.
“Haha, dia sangka lu barang kali Ry? Seenaknya aja ngasih mantan ke temannya,” sela Hendri.
Dirga memberi aba-aba telunjuk di bibir. “Sepertinya suasana hati dia sedang tidak enak. Mending lu diam wae!”
__ADS_1
Rasanya mendengar itu malah makin kesal. Kulempar stick dan cabut. Dirga dan Hendri mengejar di belakang.
“Bro, lu kenapa? Ceritalah ke kami! Kalau tidak mau rame-rame biar cerita ke gue aja!” Dirga setengah teriak berlari mengajarku di belakang.
Kutunggu dia, “Ga, nanti lu ke rumah!”
“Oke!” jawab Dirga.
Lalu kutinggal mereka berdua, kubawa ninja ini entah kecepatan berapa. Sampai di rumah, kucoba kembali menghubungi Yukita, ternyata masih tidak aktif. Kenapa setiap setelah menyerahkan hati, wanita yang kucinta selalu pergi?
Yang lebih gila, hati ini kenapa tertuju pada orang yang tak kukenal wajahnya?
Keesokan malam Dirga datang. “Lu kenapa Bro? Kok tampang lu miris amat? Lebih parah dibanding saat putus sama Tika nampaknya.”
“Jujur, gue bingung mesti mulai cerita dari mana Ga.”
“Emang kenapa?”
“Nanti lu malah ketawa?”
“Gue janji gak bakalan ngomen apa-apa sampai lu selesai cerita.”
Menceritakan sejak awal mengenal dia dan nasib yang gak jelas seperti sekarang. Semua yang terjadi dan kurasakan kusampaikan padanya hingga Yukita itu menghilang.
“Nah, gitu. Gimana menurut lu Ga?”
__ADS_1
“Jujur Ry! Gue ingin nonjok lu!” ku hanya membesarkan mata. “Lu itu ganteng Bro! Kenapa bisa jatuh cinta begitu saja dengan siapa itu..Yuk..Yuki..itu? padahal lu sendiri tak tahu dia seperti apa. Lihat! Gadis-gadis yang suka sama elu cantik-cantik tapi lu sia-siain! Dasar begok!”