
“Kalian kenapa Kel? Aku mohon, jelaskan pada dia bahwa kita ini tidak ada hubungan apa-apa!” akhirnya aku tersadar kulepaskan genggamannya. Aku maluuu....
“Aku akan mengantarmu pulang.”
“Kamu kenapa sih? Selalu tak pernah dengar omonganku.” Dia tetap tidak menggubris dan mendahuluiku. Ku pikir dia hendak mengambil skuter yang dibawanya kemarin, ternyata dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celana dan menekan tombol dan berbunyi tanda mobil telah terbuka kuncinya. Kalau tidak salah aku lihat itu adalah mobil yang terpakir di kampus kemarin.
“Ayo naik!” kembali hendak menggandengku ke pintu penumpang sebelah supir.
Kembali aku merasa malu pada perlakuannya yang tiba-tiba berubah ini, kutolak secara halus, “Aku? Tidak usah! Aku naik kendaraan umum saja. Sekalian beli cendermata buat dibawa pulang.”
“Ayo naik! Biar aku yang antar. Emangnya kamu tahu ini di mana....."
Belum selesai dia bicara, kutinggalkan dia dan segera menuju jalan utama. Berharap segera dapat kendaraan umum. Mobil Akel kembali berada di hadapanku dan dia keluar.
“Kamu kenapa sih? Naik aja! Dari pada kamu tersasar seperti kemarin lagi, lebih baik ikut aku saja!”
“Tapi aku gak enak merepotkanmu, aku..hmmm...”teringat genggamannya tadi membuatku kembali dalam perasaan yang tak menentu.
“Kamu jangan memusingkan hal yang tidak-tidak! Kalau gitu nanti kuganti dengan skuter. Dasar cewek aneh.”
Ni orang kenapa sih? Kadang dia baik banget, tapi lebih sering nyebelin ketiban baiknya. Terpaksa aku masuk juga. “Kita mau kemana Kel?”
“Katanya gak suka naik mobil, ya pulang buat ganti ama skuter lah?” aku hanya bisa menyeringai.
Terus kuperhatikan ia, menyetir dan sesekali mata kami beradu pandang. Sekilas dia tersenyum kali ini senyumannya tampak lebih ramah, kembali perasaanku jadi tidak menentu dan kubuang muka pura-pura melihat ke luar. Kami berjalan menuju daerah yang tentu sama sekali tidak kukenal. Tentu saja menuju rumah Akel, dan tepat kami berbelok masuk halaman rumahnya.
“Kamu tunggu aku di teras saja!” lalu Akel berlalu masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya asri, dengan halaman yang cukup luas. Dan Rumahnya bisa dibilang cukup besar, dibanding rumahku. Berarti anak olang kaya ini...hmmm...
Sembari menunggu aku duduk di teras, muncul ibu-ibu cantik yang tampak masih muda. “Aduuh, siapa ini?” sapanya ramah dengan senyuman di bibirnya.
Aku langsung menyalaminya dan memperkenalkan diri. “Nama saya Yuki Tante, teman kuliahnya Akel di Padang.”
__ADS_1
“Yuki? Jangan-jangan.... oh..” lalu aku lihat tampak Akel yang juga muncul dari belakang ibunya. “Ooh, jadi nama kamu Akel ya di Padang” melirik anaknya. “Kalau kami semua memanggilnya.....”
“Ma..mama...kami berangkat dulu ya?” katanya terburu-buru menuju skuternya yang sedang terparkir.
“Buru-buru kali? Mau kemana?” tanya ibunya padaku.
“Ini kami mau cari pernak-pernik cenderamata buat dibawa pulang tante.”
“Oh... kalau begitu hati-hati ya. Salam buat semua kawannya yang ke sini.”
“Baik tante, kami berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Kumenuju Akel yang sudah menunggu di atas skuter. Motor matic gaya lama itu dijalankan dan meninggalkan halaman rumah, masih tampak ibunya memperhatikan kami dari teras rumah, “Ibumu baik ya?”
“Masa?”
“Iya, baik tadi ke aku.”
“Kamu bandel kali?”
“Bukan ke aku. Tapi....”
“Ke pacar kamu? Masa? Cantik gitu juga.”
“Duluuu, bukan yang itu!”
"Ooohh, banyak juga pacar kamu ya?
"Enggak aaahh... baru dua kali kok..."
__ADS_1
"Masa sih?"
"Biasanya yang kayak-kayak kamu itu playboy lho.. gonta-ganti pacar Mulu..."
"Hmmm.. gak semua begitu kok.." celetuknya.
Aku manggut-manggut dengan sedikit tidak percaya. “Rencananya kita mau kemana nih?”
“Emang mau beli apa saja?”
“Apa ya? Aku juga bingung. Oh...tidak...”
“Kenapa lagi?”
“Aku meninggalkan Mili. Rencananya aku mau bareng dia. Tapi tadi pacar kamu malah maksa-maksa ikut dia.
“Ah..! kenapa tidak bilang dari tadi sih? Lagian dia bukan pacarku. Padahal tadi Udah pakai mobil juga," dengusnya.
“Maaf...maaf...!” keluar lagi juteknya, batinku.
“Kalo gitu kamu telepon dulu Mili. Enaknya gimana!” perintahnya.
“Iya... iya...” aku langsung mencari Mili di kontak dan langsung meneleponnya. Ternyata Mili masih kuatir dengan kejadian tadi pagi. Aku ceritakan aku baik-baik saja dan sedang bersama Akel. Akhirnya dia menitipkan pesanannya saja padaku. Tidak perlu jemput dia. Kujelaskan pada Akel dan dia bilang ingin mengatakan sesuatu dulu.
“Kalau begitu lebih baik kita makan dulu. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu.”
“Mau mengatakan apa?”
“Udah, nanti saja. Mari kita cari tempat yang enak buat makan!” dia kembali melesat.
Rasanya cukup lama perjalanan yang tentu arahnya tak kutahu. Dari spion motor, tampak dia sesekali melirik ke arahku. Skuter berhenti, tapi tak ada apa-apa di jalanan. Turut kutengok ke arah belakang.
__ADS_1
“Apa kita sudah sampai?” aku hendak turun.
“Jangan turun! Aku mau...” diperbaikinya posisi helmku yang mengkin tidak pas menurutnya. Mata kami kembali beradu pandang. “Aku tak mau bila seandainya sesuatu buruk menimpa kita, kamu celaka gara-garaini.” dia kembali berubah jadi sosok perhatian, dan semakin membuat degupan jantungku kembali tak teratur.