Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
bab 21 Tunggu Aku...


__ADS_3

Satu lagi karya temanku yang kadang-kadang masuk karya Akel. Dia selalu berkisah mengenai romansa dunia percintaan yang kandas. Kali ini dia berkisah dalam puisinya tentang perasaan yang dipendamnya pada seorang gadis yang tidak sadar akan Cinta yang dirasakan untuk gadis tersebut. Apakah hanya sekedar puisi, atau sesuatu yang nyata yang dirasakannya selama ini? Entahlah, salah satu karyanya;


“Cinta Terdiam,” oleh Akel Haryendra


Tanpa kusadar, langkah kaki terus mengarah padamu


Tanpa kau sadar aku dalam diam terus melihatmu, dalam menuju netramu


Dalam diam dalam jauh, setiap bahasa tubuhmu, tak pernah ada yang kulewati


Dalam diam dalam cinta, terus terpana akan segara tarian yang tak kausadari terus merasuk dalam sukma


Dalam diam dalam sakit, rasa ini terus menginjak sesuatu yang kuanggap itu sakral


Dalam langkah pelan, kumulai mengobati segala penyakit yang merenggut hati


Dalam diam, dalam perlahan, sajadah menjadi obat yang selama ini


Sempat kulupa


Mencoba bermunajat, memohon-Nya memberikanmu padaku


Hanya padaku


Cukup aneh memang kosa katanya, bila tidak memiliki imajinasi yang tinggi pasti tidak akan paham. Ku menebak-nebak, paling ini hanya goresan pena semata. Bisa saja puisi itu tercipta dari pengalaman seseorang yang bercerita padanya, atau dia membaca buku-buku tentang pecintaan, hehehe meneketehe? Yang pasti yang menciptakan puisi tersebutlah yang tahu.

__ADS_1


Tak terasa, aku bekerja sudah cukup lama sebagai penjaga kios pulsa. Mungkin uang yang ada di Bank cukup banyak. Jika aku berhasil tembus di penjaringan beasiswa PPA, dan uangku telah mencukupi target aku berjanji akan berhenti bekerja dan cukup berkonsentrasi dengan kuliahku. Tidak hanya di PPA, aku juga mengajukan beasiswa BBM, ada yang bilang besar uang yang diterima dalam beasiswa BBM sama besarnya dengan PPA, karena subsidi BBM itu memberikan aliran dana untuk beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi.


Tunggu aku Harry… aku akan ke sana…untuk mencarimu…


Sudah hampir dua tahun, tapi hingga detik ini dia tak bisa ku lupakan, dan karena Harry pula aku jadi begini. Suatu hari Mili bertanya padaku.


“Ki, kalau nggak bisa ikut study banding kan nggak apa? Tapi kok Yuki bisa begitu ngotot untuk ikut study itu?”


“Itu ku lakukan karena ingin mengetahui perbandingan Unand dengan Unpad dan Undip”


“Masa sih?”


“Sekalian untuk menginjakkan kaki di tanah Jawa gitu? Aku kan belum pernah ke sana”


“Tapi kok kamu begitu ngotot sih? Aku saja pasrah jika tidak bisa ikut”


Mili mengangguk, entah beneran mengerti atau tambah tidak mengerti karena aku sendiri tak mengerti apa yang ku ucapkan. Semester ini kalau nilaiku nggak naik, minimal sama dengan semester lalu, aku tak ingin gagal menggapai mimpiku karena kekurangan dana karena tak mendapatkan beasiswa yang lumayan banyak itu.


💖


Hari Minggu pagi, aku telah berada di tempat kerja.


“Yukita???” sebuah suara yang sangat aku kenal


“Aldi???”

__ADS_1


“Apa maksudmu memperlakukanku seperti ini?”


Kenapa pagi-pagi begini dia sudah ada di sini? Dan seenaknya masuk ke ruang kerjaku? Dengan tatapan tajamnya, membuatku merinding dan takut.


“Ki... jika ada perilaku aku yang tidak kamu suka… katakan padaku! Jangan menghindar seperti ini!”


Aku masih terkejut dengan kehadirannya.


“Kejadian waktu itu, aku memintamu untuk melupakannya! Tapi kenapa kau menggantungku seperti ini? aku tak tahu harus gimana lagi, Ki… apa ada yang lain selain aku?”


Yang lain? Dalam hatiku tak ada yang lain selain Harry… mulutku tetap bungkam.


“Jadi benar selama ini?”


??? maksudnya apa?


“Jawab…!!!”


Dengan takut-takut ku buka mulutku “Benar apa?”


“Selama ini kau tak pernah menyayangiku?”


Dan pertanyaan itu tak bisa ku jawab.


“Kenapa kau terima aku? Sedangkan kau tak pernah cinta padaku. Apa kamu ingin mempermainkan perasaanku saja?”

__ADS_1


“Bukan itu Di… tapi…”


__ADS_2