
Namaku Hary, mahasiswa tingkat pertama jurusan teknik elektro di sebuah kampus swasta di kota Bandung. Biasa lah, jurusan teknik langka dengan perempuan, sehingga masalah rebutan cewe antara teman seangkatan itu sering sekali terjadi.
Beberapa waktu lalu, aku memiliki pacar namanya Tika. Dia cantik dan sexy, banyak yang bilang begitu. Kalau dibilang bangga, aku cukup senang memiliki pacar seperti dia. Karena semua orang mengatakan aku hebat bisa menaklukan hatinya yang memang terkenal suka berganti pacaran. Waktu itu aku sangat menyayanginya, seluruh duniaku diisi oleh dia. Kujaga ia bagaikan menjaga seorang Ratu, memenuhi segala yang dia minta, agar dia tak berpaling dariku. Sudah seperti kerbau yang dicolok hidung jadi patuh atas apa saja yang diperintah tuannya. Tak sanggup bila harus berjauhan dari dia, kemana pun langkahnya selalu kuikuti.
Suatu hari, Tika beralasan ingin pergi ke toko buku bersama teman-temannya. Tak mengizinkanku untuk ikut menemaninya. Seperti rasa kalut dan kesepian, diam-diam kuikuti dan malah melihat pemandangan yang bikin hatiku sakit. Ternyata Tika pergi dengan pria lain, pantas saja dia tak mau diikuti.
"Jadi ini teman pergi ke toko bukunya? sejak kapan Cafe ini menjual buku?"
Dia hanya tersenyum sinis, dan mengatakan hal yang tak kuduga, "Aku sudah menebak kamu akan mengikutiku seperti ini. Sudah lah Ry, kita tak cocok. Aku tak suka kalau kamu terus mengekang ku!"
"Ooohh... gitu... Baik lah... Kita PUTUS...!!!" dan umur pacaran kami hanya dua bulan..tak lebih...
Cukup terpuruk memang, dikhianati oleh pacar dan diputuskan. Tapi itu lah takdir yang kali ini harus aku jalani.
Mencoba kuliah dengan baik, mengisi waktu dengan melakukan hal-hal berguna di kampus. Sesekali masih bertemu Tika, dan kembali luka itu muncul dan rasa benci itu muncul lagi.
"Sudah lah Ry, ngapain lu terus mikirin dia, sementara dia tak mikirin lu sama sekali."
"Iya, gue lagi berusaha untuk menata hati kok... Lu kan tahu, dia first love gue..."
"Namanya juga First love, belum tentu jadi endless love...."
"Dasar pria korban drakor...!!!" lalu kami tertawa.
***
Hape milikku, tak obah seperti telepon umum. Lebih sering di tangan kawan-kawan dibanding di tanganku sendiri . Mereka sering pinjam karena ingin main game yang mereka suka. Kadang kesel juga sih, kenapa juga hape gue? Mereka punya hape sendiri. Tapi ya, nggak bisa nolak sih kalau udah dipinjam kayak gitu.
__ADS_1
Kadang-kadang mereka memasukan kontak yang gak jelas. Kali ini entah siapa lagi yang memasukkan, dan namanya pun tidak diketahui. Aaahh, kugodain aah.. ku telepon nomor tersebut, sebelum diangkat ku tutup lagi. Maklum aja, makhluk tak ada kerjaan.
Eh, ternyata ada telepon balik, tapi sama...dia Cuma misscall aja. Ku ulangi lagi, lalu dibalas lagi. Hal itu membuatku menjadi penasaran sendiri. Ini cewek apa cowok ya, sama-sama ngga aja kerjaan.
Kuberanikan diri untuk SMS dia...karena tidak terdeteksi pada aplikasi chatting.
Hay… ini nomer siapa ya? Kok ada di kontak gw?
Ini sendiri siapa? Aneh? Kok bisa nomer aku ada sama kamu?
Iya… aneh banget?
Gw sendiri heran, kenapa nomer lu ada sama gw?
Berarti kita ditakdirkan untuk berkenalan.
Cukup lama dibalasnya, setelah satu jam kemudian baru dibalasnya.
Salam kenal juga!!! Namaku Yukita
Wiiiih, ternyata cewek. Namanya bagus lagi. Membuatku semakin penasaran. Orangnya cantik nggak ya? Karena hanya sekedar SMS, tak tahu bagaimana wajahnya. Saking penasaran aku terus mengirimi dia pesan. Terkadang dia membalasnya dengan cuek, terkadang terkesan jutek. Saat ditanya-tanya nama panjangnya lebih bagus lagi ~Yukita Marsya~ dari namanya sudah cukup menggemaskan.
Padahal aku sangat penasaran, pengen lihat foto dia, tapi katanya hapenya jadul. Tidak ada kamera dan akses lainnya. Dia seorang siswa SMA yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian nasional, dan ternyata posisinya sangat jauh. Harapan sangat kecil bila bersama nih. Ku mencoba menghentikan untuk menghubunginya, tapi ternyata aku masih sangat penasaran.
Kuredam rasa penasaran itu, ikut main dengan kawan-kawan ke arena bilyard. Arena yang penuh asap rokok ini adalah arena mainku dengan kawan-kawan. Terkadang sesekali ikut merokok bila ditawari agak satu batang. Ngga enak nolak, nanti dianggap cemen oleh yang lain.
Di sini tidak hanya laki-laki saja yang kita temui merokok. Tak sedikit, cewek juga ngerokok. Terkadang aku miris melihat mereka, tapi yah..mending aku tak usah berkomentar.
__ADS_1
“Ry! Giliran Lu yang nyodok! Melamun aja?” kata sahabatku Dirga, “lagi lihatin apa?” dia ikut menoleh arah mataku yang melihat cewek lumayan cantik, tapi merokok. “Cantik juga, jadi kali ini dia?” katanya mengomentariku.
“Bukan orangnya, rokoknya!”
“Biasa kali Bro. Zaman sekarang semua sudah disejajarkan antara cewek dan cowok. Orangnya gimana?” kembali dia melirik ke arah cewek tadi. “Duh, busyet! Ternyata dia juga melihat ke arah sini Ry!”
“Ah, biar aja!” kataku tenang sambil melanjutkan permainan menyodok bola.
“Dia ke sini Bro!” sorak Dirga setengah senang.
“Ah! Jangan Ge-er Lu! Main aja main!” ku tarik Dirga yang hendak menghampiri cewek tadi. Dan tepat di sebelah meja kami berdiri perempuan yang tadi kami lirik.
“Hay!” sapanya.
“Hay juga!” sapa Dirga sambil menyikutku yang tengah serius menghitung sudut dan peluang memasukkan bola. “Nama kamu siapa?” tanya Dirga tanpa babibu. Tapi si cewek tadi tidak menggubris Dirga. Karena tidak terdengar jawaban makanya aku juga ikut penasaran. Eh, ternyata cewe itu serius memperhatikanku.
Dia mengulurkan tangan dan terpaksa kusambut “Vonny!” aku hanya mengangguk dan Dirga ikut merebut salam dengan cewek tadi.
“Dirga” katanya sumringah.
“Yang satu lagi namanya siapa?” tanya cewek itu.
“Ooh, ini Hary.” Tambah Dirga karena dia tahu aku tak tertarik meladeni cewek yang bernama Poni itu.
Vonny mengeluarkan sekotak rokok, menawarkan pada Dirga dan aku. Dirga dengan senang hati menerimanya, dan saat ke arahku “Maaf! Gue tidak terima rokok dari cewek!” mendengar itu, cewe itu malah tertawa lalu meninggalkan kami.
“Ah. Elu? Napa sok jual mahal?” ku hanya diam meneruskan permainan. Menyadari memang banyak gadis kota besar sudah biasa merokok, membuatku kembali teringat pada Yukita. Sepertinya dia gadis rumahan, jarang keluyuran. Setiap ditanya, pasti lagi di rumah dan belajar. Dia pasti tidak merokok, kayaknya tipikal anak baik. Batinku terus membanding-bandingkan dengan yang ada di sini.
__ADS_1