
Sekarang aku berada tepat depan gerbang kampus dimana Harry kuliah. Kalau dipikir-pikir, aku nekat juga dengan keadaan buta wilayah pergi ke sana ke mari. Kata orang minang, sok bagak atau sok berani. Ku langkahkan kaki dengan ragu.
“Neng, neng...”
Ku toleh ke belakang, teringat ongkos taksi online yang belum kubayar “Maaf pak..hehehehe.. berapa ongkosnya pak?” padahal sudah ada di aplikasi, tapi aku lupa ngeceknya kembali.
“Dua puluh ribu aja neng”
Ku rogoh dompet yang tak begitu tebal, kuserahkan pada supir taksi tadi. Kalau perjalanan yang tak begitu jauh tadi, bila naik angkot mungkin Cuma empat ribu perak saja? Tapi karena aku yang buta wilayah, apa boleh buat. Ku coba bangkitkan hati. Ini semua demi bertemu Hary, meski hanya satu kali saja.
Kembali ku langkahkan kaki masuk kampus dan terus masuk. Begitu banyak wajah orang yang berlalu-lalang. Semuanya tak kukenal, ya..tidak ada yang ku kenal. Aku harus kemana menuju Fakultas Teknik? Ke Jurusan Teknik Elektro? Ku coba menelusuri lorong-lorong kampus, dan tak tahu kemana akan dibawa oleh kaki. Tiba-tiba ada yang mengejutkanku.
“Eh, neng... Aya naon atuh? Kog bingung pisan? Kenapa anak sekolah masuk ke kampus ini?”
“Eh..eh iya da, eh bang..eh kak.. maaf, aku mesti panggil siapa ya?”
“Panggil saja Kang Hendri, neng sekolah dimana? Kenapa bisa sampai ke sini? Kesasar ya?”
Aku pandangi kembali keadaanku dari atas ke bawah “aku sekolah dimana? Kesasar?”
“Aku nanya, malah nanya balek..aya-aya wae si neng mah?”
“Maaf kang, kayaknya Akang salah paham.”
“Salah paham gimana teh?”
“Aku udah kuliah kok Kang.”
“Eleuh-eleuh... Neng geulis pengen segera kuliah di sini ya? Padahal udah jelas masih sekolahan, kok ngaku-ngaku udah kuliah. Padahal masa sekolah itu yang paling enak lho? Tidak seperti kuliah ini, mumet. Kalo gitu, neng ikutin saya ya!”
Ku ikuti Kang Hendri dari belakang, sambil bercermin memperhatikan wajah dan rambutku. Kenapa aku dikatan anak sekolahan? Kang Hendri mengajakku duduk di kantin.
“Bilang ke Akang atuh neng, sekolah dimana?”
“Kang, aku ini mahasiswa. Udah kuliah, jadi tidak sekolah lagi” ku perlihatkan kartu pengenal mahasiswaku.
“Universitas Andalas?”
__ADS_1
“Iya kang...”
“JAdi udah semester tiga sekarang ya?”
“Tepatnya masuk semester empat Kang” tepatnya lagi semester enam, batinku.
“Eleuh-eleuh... tidak disangka udah kuliah. Akang kira masih sekolah, hehehe.." Lucu saja, masa aku yang bisa dianggap angkatan tua ini masih dianggap anak sekolahan. Jadi pengen coba pakai seragam SMA lagi..
“Kalau tidak salah Andalas itu di Padang ya neng? Oh iya... teman akang ada yang kuliah di sini juga lhooo..”
“Benar kah Kang? jurusan apa? siapa tau aku kenal juga?"
Tampak dia kembali berpikir, "jurusan apa ya? politik apa hukum, atau elektro ya?" desisnya sambil berpikir..
"Kalau Hukum, pasti aku tahu juga kang.." kataku sedikit semangat,
"Namanya siapa Kang?" dia terus tampak berpikir, entah di dengar apa tidak apa yang aku tanya barusan.
“Kok bisa ada di sini? Neng kesasar sampai ke sini ya?” tuh kak...dia gak denger apa yang kutanya, batinku.
“Aku tidak kesasar kok Kang, aku sedang mencari teman yang katanya kuliah di sini.”
“Bukan.. bukan.., aku sedang ikut study banding di Unpad. Kami di Bandung selama empat hari Kang. Karena aku punya kenalan, katanya kuliah di sini, aku ingin cari dia di sini.”
“Saha atuh? Jauh-jauh nyari sampai ke sini. Siapa tahu Akang kenal.”
“Aku nyari orang yang namanya Harry, Kang. Kemungkinan sekarang dia udah semester tujuh di teknik elektro.”
“Wah, kebetulan sekali neng, Akang juga sudah semester tujuh di Elektro.”
“Jadi apa Kang Hendri kenal dengan yang bernama Harry?”
“Yang namanya Hary satu angkatan mah banyak banget neng, ada tujuh orang. Eh iya, sekarang Cuma tinggal empat.”
“Yang tiga lagi kemana ya Kang?”
“Mungkin berhenti, atau lagi cuti Neng, yang tadi tu ambil kuliah ke Padang juga. Akang juga kurang tahu pasti jurusannya, semester berapa ya dia sekarang.... Terus, Neng tahu nama panjang Harry yang Neng cari?"
__ADS_1
“Enggak Kang. Ada Harry juga yang ke Padang kan? Maksudnya kuliah lagi?"
“Iya, dia kuliah lagi. Tahu dengan wajahnya?”
“Tidak juga Kang?”
“Lho? Kok bisa kenal?”
“Kenal lewat SMS saja Kang.”
“Terus tahu ciri-cirinya bagaimana?”
“Katanya dia berkacamata minus satu seperempat Kang.”
“Aduh, yang pakai kacamata minus ada tiga orang Neng?”
Waduh, bagaimana ini? Ada tiga orang Hary berkacamata, dan sama-sama tidak ku kenal.
“Oh iya neng, begini saja, kita temui saja ketiga Harry itu bagaimana?”
“Gimana caranya Kang?”
“Tenang! Semua bisa diatur!”
“Beneran Kang?” seketika ada angin semangat mengisi sekujur tubuhku.
“Iya, neng tunggu di sini dulu ya? Biar akang cari mereka.”
“Baik Kang, terima kasih ya?”
“Jangan sungkan-sungkan!” Kang Hendri berlalu membawa sejuta anganku yang tertanam sejak tiga tahun terakhir. Beberapa saat kemudian Kang Hendri kembali,
“Neng, akang berhasil menemui mereka. Mari ikut!”
“Kemana Kang?”
“Ikut saja! Akan Akang perkenalkan mereka satu per satu.” Kang Hendri ini benar-benar baik. Orang yang baru dikenalnya seperti aku, ditolongnya tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
__ADS_1
“Tunggu sebentar ya Neng, Akang panggilkan satu per satu.” Rasa dag-dig-dug berkecamuk, harap-harap cemas di antar bertiga itu ada seorang yang kucinta dalam hati. Panas dingin sekujur tubuhku. “Hary yang pertama, diharapkan datang ya? Ucap Kang Hendri.