
“Bohong”
“Kenapa kamu bilang aku bohong?”
“Karena tak mungkin hanya untuk ikut study itu kamu bisa begitu gigihnya menuju Bandung?”
Apakah aku harus menceritakan alasanku yang sebenarnya pada dia? Emangnya dia siapa?
“Aku memang memiliki alasan lain untuk ke sana. Tapi…kamu tak perlu tahu apa alasan yang sebenarnya!”
“Kenapa?”
“Karena ini urusanku… jangan tanya-tanya terus!!!”
“Lalu biarin kamu kayak gini terus?”
“Ya… terserah aku lah? Kenapa kamu yang sewot sih?”
Ku lihat dia tertunduk sejenak “Maaf… ini memang bukan urusanku”
“Emang” dengusku kesal.
__ADS_1
“Tadi… rencananya aku mau menanyakan kontakmu yang baru. Karena setiap mencoba menghubungi mu, nomermu tak pernah aktif. Karena setiap liburan kamu kerja dari pagi, makanya aku langsung ke sini. Ku lihat kios ini sudah buka, tapi kamunya tak ada. Makanya aku panggilin….”
Dia kesini hanya untuk itu? Karena itu aku bisa selamat? Kembali ku coba untuk menenangkan diri. Kembali kami terdiam. Dan perasaanku bisa jauh lebih tenang dari yang tadi, dan dan dia membuatku merasa nyaman, ku coba untuk tersenyum karena dia terus memperhatikanku
“Sini hape mu!”
“Buat apa?”
“Sini!!!” lalu dengan ragu-ragu dia menyerahkan handphonenya itu
“Tenang!!! Aku nggak niat merusaknya kok” mencoba memecahkan suasana yang kaku.
“Kok nggak ada namaku sih? Jangan-jangan kamu beri nama yang nggak-nggak lagi?”
Dia langsung merebut hapenya dari tanganku “Makanya… jadi orang jangan sok tahu! Sebutin aja nomernya!”
Lalu ku sebutkan nomerku yang sekarang, dan ku intip… tetap disembunyikan “Emang kontakku kamu bikin apa sih?”
“Mau tahu aja.”
Huh.. dasar? Lalu ku lihat jam tangan, ternyata sudah masuk waktu makan siang.
__ADS_1
“Eh… aku mau beli makan siang ni, mau nitip?”
“Iya…iya… aku mau nitip” langsung ku keluarkan selembaran uang duapuluh ribuan lalu ku serahkan padanya
“Nanti aja! Mau makan apa?”
“Kalau aku cukup lotek warung sebrang jalan saja, jangan lupa air mineral juga. Karena persediaan airku telah habis”
“Oke”
Setelah ia pergi, kembali kejadian tadi membuatku takut. Entah apa yang akan dilakukan Aldi jika saja Akel tak datang.
Behenti? Bener juga? Jika aku masih bekerja di sini, Aldi dengan leluasa datang ke sini, dan mungkin menjadi lebih kejam? Tapi… uangku belum cukup… apa yang harus aku lakukan?
Apa aku harus menghentikan usaha bodoh ini? tapi ini sedikit lagi? Aku ingin bertemu dengan Harry, dan ini jalan satu-satunya. Aku masih menyimpan nomer telpon rumahnya, dan itu bisa ku gunakan setelah sampai di Bandung nanti. Sementara nomer hapenya telah lama digantinya, tak pernah aktif lagi. Aku tahu itu karena aku sering missedcall dia kalau lagi rindu dengannya. Tapi percuma saja aku missedcall, dia tak akan tahu siapa karena nomer baruku tak dikenalnya. Harry… gimana kabarnya sekarang ya? Apa aku bisa ke sana? Nanti ku konsultasi pada Uda Yefri saja. Mudah-mudahan ada jalan keluar.
“Hey, bengong lagi?”
“Eh… ehmmm”
“Lama nunggunya?” menyerahkan bungkusan yang ku pesan tadi “lupakan saja masalah yang tadi!”
__ADS_1