Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 52 Dua sahabat Yukita


__ADS_3

Lalu dia menunjuk arah Anggi, "Yang itu abang ganteng," setelah itu berganti menunjuk Mili, "Yang itu kakak cantik.. pacar Aa ya?" celetuknya, langsung aku lirik Mili dia mendengar itu dan salah tingkah..


Ternyata dia sudah tau istilah pacar ya.. hmmm.. Darimana dia dapat istilah demikian? Kembali aku lirik duo sahabatnya dengan rona wajah merah padam. Jika Anggi memang tidak perlu kita tanya lagi kenapa, namun Mili mengapa ikut merona juga saat mendengar ucapan anak kecil seperti ini.


"Udah aah.. ayo kita turun?!" aku coba meraih tangan nya, kembali dia menggelengkan kepala. "Ayo turun, kita ngobrol-ngobrol dulu dengan mereka!"


"Aa turun duluan! Yuki turun sendiri."


"Yakin bisa turun sendiri?" dia mengangguk pasti dengan senyuman jenaka.


Akhirnya aku turun duluan seperti yang dia minta, setelah itu memerhatikan dia turun hingga hampir sampai di dahan terakhir. Lalu dahan yang terakhir dia pijak malah patah, dan seketika dia oleng. Dengan tanggap secepat kilat aku raih tubuhnya, masuk ke dalam rangkulanku.


Cukup lama kami dalam posisi itu, matanya beradu pandang lagi denganku. Seperti di saat akan mengatakan semuanya kepadanya. Namun suasana itu dipecahkan oleh dua makhluk tim hore. Mereka berdua berdehem dengan sengaja, menggunakan volume yang cukup membuat telingaku sakit.


Yukita masih menatap lurus kepada kedua netra yang selalu ingin melihatnya bahagia ini. Aku turunkan dia dari gendong, dia masih lurus memandangku tanpa malu, malah membuatku menjadi salah tingkah dan melemparkan pandangan kepada tim hore kami tadi. Kembali kulirik dia, dengan kaki yang masih belum terlalu kuat untuk menopang tubuhnya akibat cedera kecelakaan kemarin. Netra itu masih terus menerobos pertahanan yang akhir-akhir ini kubuat bagai merawat adikku sendiri.


"Ekhemmmm...." kali ini suara Anggi bener-bener keras terus berusaha memecahkan suasana canggung antara kami berdua.


"Kenapa terus melihatku seperti itu? Kamu seperti ingin memakanku jika terus melihatku seperti ini."


Dia masih diam, sorotan yang tadi kufikir terlihat seperti anak jahil lambat laun berubah menjadi sorot mata yang sendu.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan?"


Dia masih diam, samar terlihat wajahnya bersemu kemerahan seakan merasakan sesuatu yang mungkin sama denganku, yaitu rindu. Akhirnya dengan sedikit tertatih tanpa mengenakan tongkat pembantu, dia berusaha terus berjalan meski dalam keadaan pincang. Aku coba memapahnya namun tidak disambutnya. Apakah dia marah? Seharusnya aku yang marah karena sudah diperingati tapi akhirnya jatuh juga.


Dia duduk di bangku panjang yang ada di teras rumah nya. Anggi dan Mili ikut menyusul, sementara aku masih heran, ada apa dengan dia? Kenapa tiba-tiba dia merasa canggung. Padahal tadi malam dia masih banyak bicara. Bukan tadi malam saja, bahkan barusan di atas pohon dia masih suka berkicau.


"Halooo Yuki..." sapa Anggi duduk Di bangku kecil yang tepat berada Di depan gadis ini. Mili tanpa berbicara apa-apa, memilih duduk di bangku sebelah Yukita. Sementara aku, yang masih shock dengan tingkahnya barusan, memilih untuk berdiri agak jauh dari mereka, menjadi pendengar yang baik, seperti biasa.


Gadis itu hanya melihat dua orang yang baru dilihat ini bergantian, dan terakhir menatapku. Lalu tampak sedikit merona lagi, apa yang sedang dipikirkannya?


"Abang ganteng ini kemarin udah ke rumah sakit kan?" akhirnya dia mengeluarkan suara. "Kakak ini siapa?" berganti melihat ke arah Mili.


Seketika raut wajah dua orang itu berubah menjadi sedih. Apalagi Mili, yang baru mengetahui keadaan temannya ini.


Usai menyerocos begitu, kembali dia melihat ke arahku. "Awalnya aku juga heran, kenapa Aa selalu hadir ke rumah sakit untuk menemaniku ya? Padahal baru melihat Aa saat beberapa jam. Tapi Yuki senang kok kalau ada Aa. Aa ganteng banget, Yuki tidak punya abang soalnya. Jadi Yuki merasakan punya kakak laki-laki juga kalau sama Aa," melihatku kembali dan netra terlihat sendu itu kembali menantangku tanpa putus. "Makasi ya Aa, udah nolong Yuki tadi. Jangan bilang ke Ibu atau Ayah kalau Yuki manjat ya. Apalagi kalau tau Yuki hampir jatuh. Pasti dikurung tidak boleh main di luar jadinya nanti.."


Kembali aku lirik dua kawan yang ada di sisinya. Mata Mili sudah berkaca-kaca, bersiap membanjiri wajahnya yang mulai kuyu karena tidak percaya melihat sendiri keadaan temannya ini. Sementara Anggi hanya menyunggingkan senyuman kecut, mungkin merasa rela atau tak rela melihat gadis yang pernah disukainya ini melupakan mereka berdua.


"Coba panggil lagi aku kayak tadi..." pinta Anggi.


Yukita memandang Anggi heran. Raut wajahnya berubah-ubah mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh laki-laki dewasa di hadapannya ini.

__ADS_1


"Panggil kayak apa Bang?" tanyanya polos.


"Nah, itu.. panggil Abang?" ulang cowok tinggi itu.


"Abaaaang..." dengan intonasi dan ekspresi yang lucu, kening berkerut.


"Naah, anak pintar.. Yuki senang juga gak, kalau Abang ke sini buat main dan temani Yuki?"


Gadis yang merasa kecil itu kembali memandangku sesaat, lalu berpindah lagi menatap Anggi, dia mengangguk.


"Kalau Abang baiknya kayak Aa, Yuki senang kok," kembali melihat ke arahku, bergantian melihat Mili dengan penasaran. Mungkin dia heran, mengapa dari tadi orang yang di sebelahnya diam-diam hampir menangis.


"Kakak cantik kok nangis?" celetuknya.


"Yuki, boleh tidak aku memeluk kamu?" tanya Mili dengan air mata mulai pecah membasahi pipinya. Gadis itu terlihat heran, dan menganggukkan kepalanya. Mili memeluknya sambil sesegukan.


"Kamu tega Ki, melupakan aku dan kita semua. Padahal aku baru merasakan memiliki seorang sahabat sejati itu, baru saat bersama kamu. Tapi kenapa kamu melupakan aku Ki?" tangisannya semakin pecah, sementara wajah gadis itu terlihat semakin heran dan kebingungan.


"Kakak, apa Yuki jahatin Kakak? Kenapa Kakak kayak dua kakak yang tadi? Kenapa semua orang menangis saat melihat Yuki? Apa sebelumnya Yuki pernah memukul Kakak?"


Anggi mungkin merasa tidak tahan melihat drama di depan matanya ini. Mengalihkan pandangannya melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku hanya bisa mengedikkan bahu, menyuruhnya untuk memahami keadaan ini sendiri. Begini lah adanya, tanpa ada yang aku ubah. Anggi bangkit dari posisinya, melangkah menuju tempat aku berdiri saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana bisa lu menghadapi ini dengan tenang?" di berbisik sambil melihat dua orang yang tengah berpelukan seperti itu. Bisa menghadapi dengan tenang? Aku rasa itu adalah pernyataan yang kurang pas. Karena hatiku sendiri meronta, menyadari semua tentang kami telah dilupakannya begitu saja.


"Menurut lu kenapa?"


__ADS_2